Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Korea Utara Menduduki Puncak Indeks Perbudakan Global 2023

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 26 Mei 2023 17:25 5:25 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 26 Mei 2023 17:25
Bagikan
Pekerja pabrik di Korea Selatan
Bagikan

Hidayaullah.com—Laporan penelitian terbaru menemukan bahwa Korea Utara, Eritrea, dan Mauritania memiliki prevalensi perbudakan modern tertinggi di dunia dan situasinya tampaknya semakin memburuk dibandingkan dengan survei terakhir yang dilakukan lima tahun lalu.

Menurut Indeks Perbudakan Global 2023, diperkirakan 50 juta orang hidup dalam situasi perbudakan modern pada tahun 2021, meningkat 10 juta dibandingkan tahun 2016 ketika masalah tersebut terakhir kali dicatat.

Angka tersebut mencakup sekitar 28 juta orang yang bekerja sebagai pekerja paksa dan 22 juta lainnya yang terus hidup dalam pernikahan paksa.

Perbudakan Tumbuh

Berdasarkan laporan yang disusun oleh badan amal hak asasi manusia, Walk Free, di antara faktor utama munculnya masalah perbudakan modern adalah konflik bersenjata yang berkembang dan semakin kompleks, degradasi lingkungan yang luas, dan dampak pandemi Covid-19.

Baca Juga

Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Laporan tersebut mendefinisikan perbudakan modern termasuk kerja paksa, pernikahan paksa, hutang, eksploitasi seksual komersial, perdagangan manusia dan penjualan serta eksploitasi anak.

Korea Utara yang lebih tertutup dan otoriter memiliki prevalensi perbudakan modern tertinggi dengan rasio 104,6 per 1.000 penduduk. Eritrea mencatat rasio 90,3 sementara Mauritania, negara terakhir di dunia yang melarang perbudakan turun temurun pada tahun 1981, mencatat angka 32.

“Sebanyak 10 negara dengan prevalensi perbudakan modern tertinggi memiliki sejumlah karakteristik yang sama, termasuk perlindungan terbatas untuk kebebasan sipil dan hak asasi manusia.”

“Sebagian besar negara berada di kawasan yang dianggap tidak stabil, baik karena konflik, ketidakstabilan politik, atau menampung populasi besar orang rentan seperti pengungsi atau pekerja asing,” jelas laporan tersebut.

Sementara di 10 besar dunia adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait, di mana hak tenaga kerja pekerja asing dibatasi oleh sistem sponsor yang disebut kafala. Turki, yang menampung jutaan pengungsi dari Suriah, Tajikistan, Rusia, dan Afghanistan, juga berada di kelompok yang sama.

“Meskipun kerja paksa sering terjadi di negara berpenghasilan rendah, masalahnya terkait dengan permintaan dari negara berpenghasilan tinggi,” tulis laporan itu.

“Ini karena, dua pertiga dari semua kasus kerja paksa terkait dengan rantai pasokan global,” tambah laporan tersebut.

Laporan itu mengatakan negara-negara G20 yang terdiri dari Uni Eropa (UE) dan 19 ekonomi utama dunia kini mengimpor barang senilai US$ 468 miliar (2,14 triliun) yang berisiko diproduksi dengan kerja paksa. Jumlah itu naik dari US$354 miliar (1,6 triliun) pada laporan sebelumnya. Elektronik tetap menjadi produk bernilai tinggi yang paling berisiko diikuti oleh pakaian, minyak sawit, dan panel surya.  “Perbudakan modern merasuki setiap aspek masyarakat kita. Itu terjadi saat kita menenun pakaian, menyalakan perangkat elektronik, atau mengemas makanan kita.”*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Indeks Perbudakan Global 2023Korea Utaraperbudakan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya FBI Ungkap Ancaman Pembunuhan Ratu Elizabeth II Oleh IRA
Tulisan selanjutnya Sebanyak 108 Hotel di Makkah Disiapkan Menyambut Jemaah Haji Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Berita
28 Agustus 2026 11:26
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Ratko Mladic Si Penjagal Bosnia Meninggal di Usia 84 Tahun
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

2 September 2026 20:21
Berita

Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

2 September 2026 20:18
Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

2 September 2026 20:16
Berita

Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

2 September 2026 20:14
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?