Hidayatullah.com – Geng kriminal dan milisi bersenjata yang didukung ‘Israel’ menculik seorang petinggi Hamas di Gaza City pada Selasa, menurut surat kabar setempat.
Haaretz, surat kabar ‘Israel’, melaporkan tidak ada satupun tentara Zionis yang terlibat dalam penculikan Moein al-Arabid, pejabat senior keamanan internal Hamas di Gaza City.
Namun, ‘Israel’ memberikan dukungan serangan udara berskala besar untuk memfasilitasi penarikan mundur milisi itu.
Pada malam harinya, militer ‘Israel’, badan keamanan Shin Bet, dan Kantor Perdana Menteri mengumumkan bahwa operasi penculikan tersebut merupakan operasi mereka. Shin Bet menyatakan bahwa “pasukan khusus” dari badan tersebut melaksanakan operasi itu dengan menggerebek sebuah bangunan dan menangkap Arabid.
Namun, sumber-sumber militer mengonfirmasi kepada Haaretz bahwa tidak ada tentara yang berada di lokasi serangan.
Militer ‘Israel’ menyatakan pihaknya menyerang sejumlah target di wilayah Jalur Gaza “dengan tujuan melenyapkan ancaman”.
Dalam sebuah pernyataan, militer menyebutkan bahwa dua kendaraan terkena serangan rudal dari pesawat nirawak (drone).
“Rumah sakit lapangan Amerika telah diperintahkan untuk melakukan evakuasi akibat serangan yang masih berlangsung. Peristiwa ini masih terus berkembang dan situasi tetap sangat tidak stabil,” ujar pihak militer.
Koronologi Penculikan
Sekitar pukul 10.50 pagi waktu setempat, warga Palestina memergoki keberadaan geng yang didukung ‘Israel’ di kawasan Al-Katiba, sebelah barat Kota Gaza. Geng tersebut dilaporkan bergerak menggunakan sebuah sepeda motor dan sebuah truk.
Para pejuang perlawanan Palestina segera menghadang mereka. Memicu serangan militer ‘Israel’ ke wilayah tersebut yang tampaknya untuk melindungi dan mengevakuasi mereka.
Sumber-sumber lokal dan resmi melaporkan bahwa militer ‘Israel’ melancarkan setidaknya 13 serangan udara di kawasan tersebut.
Selama kurang lebih 35 menit, wilayah itu terus-menerus diserang oleh ‘Israel’ dengan melibatkan pesawat nirawak (drone), di mana tiga di antaranya dilaporkan terbang pada ketinggian yang sangat rendah.
Operasi tersebut berlangsung di salah satu kawasan terpadat di bagian barat Kota Gaza, tempat banyak warga Palestina yang mengungsi mendirikan tenda di sepanjang trotoar dan di dalam kamp pengungsian. Di kawasan itu juga terdapat rumah sakit lapangan dan sebuah prasekolah; keduanya sempat dievakuasi selama serangan berlangsung. Warga juga berada di sekitar lokasi saat serangan terjadi.
Infiltrasi yang dilaporkan tersebut terjadi di dekat Rumah Sakit Amerika dan sebuah tempat penampungan PBB di kawasan Al-Katiba.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa menyatakan bahwa tiga warga Palestina—termasuk dua anak-anak dan seorang perempuan—tewas, sementara delapan orang lainnya terluka akibat serangan ‘Israel’ di kawasan Al-Katiba.
Al-Majd Security melaporkan bahwa sebuah unit pasukan khusus ‘Israel’ berupaya melancarkan operasi di Gaza yang menargetkan seorang tokoh perlawanan; namun, kewaspadaan tinggi dari personel keamanan kelompok perlawanan dan badan keamanan lainnya berhasil menggagalkan misi tersebut serta mencegah tercapainya tujuan operasi.
Sebelumnya, sebuah sumber mengungkapkan kepada Quds News Network bahwa unit pasukan khusus yang terlibat dalam operasi tersebut merupakan pasukan gabungan yang terdiri dari personel militer ‘Israel’ dan milisi bersenjata yang didukung ‘Israel’.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail Al-Thawabta, mengonfirmasi terjadinya operasi pasukan khusus ‘Israel’ dan menyatakan bahwa beberapa anggota unit tersebut tewas saat berupaya menjalankan misi itu.
Kelompok-kelompok milisi ini telah bekerja sama dengan ‘Israel’ sepanjang berlangsungnya genosida di Gaza. Beberapa anggota kelompok bersenjata ini memiliki kaitan dengan ISIS serta rekam jejak dalam penyelundupan narkoba dan kerja sama dengan organisasi-organisasi ekstremis.
Mereka juga dituduh menjarah bantuan kemanusiaan di bawah perlindungan ‘Israel’, sehingga menghalangi akses warga Palestina yang kelaparan terhadap pasokan kebutuhan pokok dan memperparah risiko kelaparan di tengah blokade ‘Israel’ terhadap wilayah kantong tersebut.
Saat ini, mereka ditempatkan di luar apa yang disebut sebagai “garis kuning”—sebuah batas demarkasi non-fisik yang memisahkan pasukan pendudukan ‘Israel’ dari wilayah-wilayah tertentu di Gaza—mengingat ‘Israel’ menduduki lebih dari 70 persen wilayah Jalur Gaza.*




