Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Ketika Bunda Harus Memilih!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 April 2011 11:45 11:45 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 April 2011 11:45
Bagikan
Bagikan

Saat seorang bunda
berkiprah di dunia kerja
Misi suci yang diembannya.

Semua karya dan manfaat dunia kerja
Hendaknya sebanding dengan pengorbanan
Meninggalkan ananda.

Betapa galau hati seorang bunda
Tatkala tuntutan dunia kerja mulai tak searah
Dengan bisikan nurani suci.

Saat tangan harus melakoni
Hal yang bertentangan dengan bisikan hati
Nurani terkebiri.

Maka dimulailah jihad itu
Dengan ucapan “Bismillah”
Sang bunda membulatkan tekad
Stelan jas kantor kini telah berganti
Dengan kebaya Muslimah model terkini
Rekan dan sejawat telah berganti
Dengan ahli bordir, jahit dan desainer bergengsi.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Ternyata dengan beristiqamah di jalan-Nya
Tuhan membukakan jalan
Seorang bunda pekerja telah menjelma
Menjadi seorang bunda pengusaha
Dalam keramahan surga dunia
“Baiti Jannati”

SAHABATKU menumpahkan kekesalan hatinya.

“Bayangkan! Dengan kedua tanganku ini, aku telah menandatangani hal-hal yang bertentangan dengan nuraniku, dan semuanya demi mempertahankan karir dan jabatan. Sungguh bagai mendapat himpitan berat di dada, aku bagai terbelah dua. Sebagian diriku mengatakan tidak! Aku tidak akan larut tercebur pada arus yang tidak sesuai dengan jalan-Nya. Tetapi sebagian diriku lagi berkata, 15 tahun lebih meniti karir akankah semudah itu sirna?”

Mendengarkan keluh kesahnya, sejujurnya aku turut prihatin. Aku dapat membayangkan perjuangan batin yang dialami sahabatku.

Hari-harinya selama ini dilalui sebagai seorang wanita karir yang mengabdikan diri pada kepentingan pekerjaan dan kepentingan sang pemilik modal. Sahabat karibku ini mempunyai tekad yang membara. Selama ini pilihan yang berat sebagai seorang wanita karir profesional telah dijalaninya demi aktualisasi diri dan memanfaatkan ilmu yang telah dituntutnya.

Namun sejak berganti kepemilikan di perusahaan tempatnya bekerja, tumbuh budaya baru yang praktik manajemennya berlawanan dengan bisikan nurani. Peraturan yang jelas dan selama ini ditegakkan dengan teguh, harus dianulir dan dipelintir sedemikian rupa demi keuntungan si pemilik modal.

Sahabatku sebagai orang kepercayaan harus mengesahkan langsung melalui goresan tanda tangannya. Ia dikondisikan untuk menjalankan praktik-praktik yang bertentangan dengan hati nuraninya. Untuk melawan, ia sungguh tak kuasa. Dirinya bagaikan sebongkah tanah yang melawan air bah yang melanda.

Kini dilema hidup sebagai ibu yang membina karir semakin meruncing. Kalau selama ini ia masih bertahan karena meniatkan kerja sebagai salah satu sarananya dalam beribadah, namun niat itu kini tidak lagi menemukan pembenaran. Ia berperang dengan hati nuraninya.

Hari-hari penuh munajat dan shalat istikharah dilaluinya. Namun kelihatannya belum berhasil tuntas menjawab kemelut di dalam hati. Hingga untuk ber-khalwat dan mengadukan ihwal dirinya pada Sang Khalik, sahabatku bertekad untuk melaksanakan umrah. Ia begitu merindukan hari-hari penuh kemesraan berkomunikasi dengan-Nya, ketika antara dirinya dan rumah Allah tiada secarik tabir pun yang menghalangi.

Sahabatku bercerita bahwa kekhusyukannya berumrah semakin terasa kental auranya ketika bulan Ramadhan tiba. Ia berkesempatan untuk lebih banyak lagi merenung dan meng-hisab kembali peran dirinya dalam kehidupan.

Penggodogan Ramadhan melalui puasa, shalat tarawih, muhasabah, dan i’tikaf di tengah keheningan malam, telah membukakan pintu hati nuraninya. Lima belas tahun karir yang dilalui dan dipertahankannya selama ini, menjadi tak berarti apa-apa bila dibanding tekanan batin yang kini diterimanya. Perlawatannya ke tanah suci begitu mencerahkan. Hatinya kini terbuka terang benderang dengan sinaran kasih-Nya yang tak pernah pupus pada hamba-Nya yang ridha.

Sekembalinya dari tanah suci dengan bertekad kembali kepada fitrah, sahabatku membulatkan tekadnya dan mengajukan permohonan pensiun dini. Ia yakin bila satu pintu jalan rezeki harus ditutup karena semangat beristiqamah untuk berjalan selalu di jalan-Nya, maka pasti akan ada pintu lain yang terbuka.

Begitulah, ia mulai merintis jalur karir yang sama sekali berbeda. Membangun home industry butik Muslimah langsung di kepermaian rumahnya. Ia tak gentar meski harus berganti posisi, dari seorang eksekutif yang penuh jaminan gaji bulanan, belum lagi bonus-bonus serta insentif rutin, menjadi seorang pengusaha yang harus rela berinvestasi untuk suatu hasil yang tidak segera langsung dapat dinikmati. Apalagi bila dia kembali mengingat nawaitu awal membangun bisnis mulia ini. Selain mengembangkan usaha yang lebih sesuai dengan nurani diri, juga berniat untuk menawarkan lapangan pekerjaan, yang insya Allah dapat turut mengurangi jumlah angka-angka kaum pengangguran.

Saat Idul Fitri tiba, sahabatku sungguh merasa dirinya seperti dilahirkan kembali. Ia berhasil mengambil suatu keputusan berat untuk menanggalkan karir yang telah dirintisnya selama 15 tahun. Karir yang selama ini menggembleng dirinya menjadi seorang wanita karir yang profesional.

Kemarin aku bertemu kembali dengan sahabatku. Kutemukan aura yang berbeda pada dirinya. Wajahnya cerah dan bersinar. Di rumahnya telah berdiri sebuah butik Muslimah yang berhasil memberikan lahan pekerjaan pada lingkungan sekitarnya.

Dari rumah, sambil mendidik langsung si buah hati, ia mengendalikan bisnis keluarga, yang prospeknya amat menjanjikan. Malaysia dan Brunei Darussalam hanyalah sebagian dari sasaran ekspor dari hasil karya butiknya. Diam-diam sahabatku telah menjelma dari seorang pegawai yang dipaksa untuk mempraktikkan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya, menjadi seorang penyedia lapangan pekerjaan yang sekaligus berkontribusi terhadap devisa negara melalui produk ekspornya.

Ia berbisik, “Kemarin, ketika aku bertemu dengan bekas kolegaku yang masih berkutat sebagai wanita karir profesional, hampir saja aku merasa minder dan malu karena posisi baruku sebagai ibu rumah tangga. Namun aku segera tersadar, kujabat tangannya dan kukatakan padanya, ‘Perkenalkan, Rini yang baru, yang telah kembali pada fitrahnya, sebagai bunda yang profesional.’”

“Kau tak dapat membayangkan,” tambahnya, “betapa damainya hati ini menghadapi Idul Fitri dalam keadaan kembali pada fitrah-Nya.”

Ternyata, seiring dengan hari kemenangan, sahabatku telah terlahir kembali dan menemukan jati dirinya.*

Amelia Naim, penulis buku-buku parenting. Artikel diambil dari Majalah Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jadilah Pemuda Muslim yang Berkarakter
Tulisan selanjutnya Lebih 14.000 Orang Hilang Pasca Invasi di Iraq

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?