Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Kebaya, Abayah dan Busana Nasional Wanita Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 April 2024 10:40 10:40 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 April 2024 12:10
Bagikan
Abaya (kiri), Kebaya para perempuan Muslim jaman dulu (kanan)
Bagikan

Busana yang diperkenalkan oleh para sunan ini dikenal sebagai baju kebaya,  yang dalam bahasa Arab mengacu baju penutup badan kaum wanita dan popular bagi wanita Indonesia

Hidayatullah.com | KEBAYA adalah busana tradisional perempuan Nusantara yang dianggap oleh Bung Karno sebagai lambang emansipasi perempuan Indonesia, lantaran pernah dipakai oleh tokoh perempuan yang berpengaruh, Raden Ajeng Kartini. Tidak mengherankan jika setiap tanggal 21 April, para siswi, remaja putri, dan ibu-ibu tampil mengenakan busana kebaya.

Menurut perancang busana Ferry Setiawan, meski kebaya sudah diperkenalkan sebagai identitas pakaian wanita Indonesia sejak sebelum tahun 1940-an, pakaian ini resmi digunakan sebagai busana nasional sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Ibu negara pertama Fatmawati yang  bernama asli Fatimah, puteri pemuka Muhammadiyyah di Bengkulu Hassan Din dan aktivis wanita pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya, mereka semuanya hadir saat proklamasi berlangsung tersebut dengan menggunakan busana kebaya yang dibalut dengan kain batik.

Sejak itu dan hingga kini, kebaya telah menjadi pakaian resmi bagi istri-istri presiden dan para pejabat pemerintah. Bahkan, pada era kepresidenan H.M. Soeharto, istri beliau, Ibu Tien, dikatakan berperan besar dalam mempopulerkan kebaya tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di mancanegara.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Almarhum Ibu Tien Soeharto dikenal sangat ketat dalam mengawasi penggunaan busana kebaya oleh istri menteri dan istri para pejabat lainnya, terutama dalam acara-acara resmi kenegaraan.

Sebagai blus tradisional yang dipakai oleh wanita Indonesia, kebaya umumnya terbuat dari kain sutera halus atau kain tipis lainnya, yang sering dipadukan dengan sarung batik atau kain tenunan tradisional.

Di luar Pulau Jawa, seperti di daerah-daerah yang memiliki budaya khas, seperti songket dengan aneka warna dan corak, juga sering digunakan.

Di Pulau Jawa, kebaya awalnya menjadi busana yang umumnya dikenakan oleh wanita dari kalangan ningrat, terutama di Yogyakarta dan Surakarta.

Sementara itu, wanita dari kalangan rakyat biasanya menggunakan kemben, yaitu kain yang dililitkan melingkar setengah badan, sehingga sebagian aurat tubuhnya terlihat terutama pada bagian dada.

Sebelum Islam berkembang, baik dari kalangan ningrat maupun rakyat jelata, kaum wanita di pulau Jawa umumnya masih menggunakan kemben, dengan perbedaan pada motif dan warna pada kain carik untuk membedakan status sosial di antara mereka.

Para sunan disebut-sebut sebagai pendakwah Islam yang pertama kali memperkenalkan busana yang lebih tertutup bagi kaum wanita, dimulai di lingkungan dalam keraton terlebih dahulu.

Busana tersebut kemudian mulai digunakan secara lebih luas dalam perkembangannya selanjutnya.

Busana yang diperkenalkan oleh para sunan inilah yang kemudian dikenal sebagai baju kebaya, nama yang berasal dari akar bahasa Arab, yaitu “abaya“. Abaya atau abayah dalam bahasa Arab mengacu pada baju penutup badan kaum wanita.

Di luar Pulau Jawa, kebaya memiliki pola dan bentuk yang hampir sama sejak masa lampau. Hal ini terjadi di Tanah Melayu dan wilayah lain di Nusantara bagian Timur, dengan perbedaan hanya pada corak dan warnanya.

Kebaya Melayu dan di wilayah Timur Indonesia umumnya memiliki warna putih dan lebih tertutup, hal ini berkaitan erat dengan filosofi ajaran Islam. Pola dan bentuknya juga sedikit berbeda, dengan kain yang dihiasi renda berbunga, leher yang meruncing, dan ujung yang meruncing ke bawah. Di Betawi, bentuk seperti ini disebut “kebaya encim”.

Di Jawa, penggunaan kain kemben masih dipertahankan, dipadukan dengan pemakaian busana kebaya. Kemben ini berfungsi untuk menutupi bagian pusar pada perut dan biasanya dililitkan di tubuh.

Kemudian, disebut dengan kain stagen yang juga digunakan untuk mengikat tapihan pinjung, agar kain batik yang dipergunakan lebih kuat dan tidak mudah lepas.

Baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya, setelah proses akulturasi yang berlangsung ratusan tahun, kebaya kemudian diterima sebagai bagian dari budaya dan norma setempat, dan menjadi busana nasional Indonesia.

Dalam perkembangannya, penggunaan kebaya telah meluas dan digunakan oleh berbagai kalangan wanita Indonesia, termasuk bangsawan dan kalangan rakyat biasa, baik untuk busana sehari-hari maupun pada upacara adat.

Tidak terkecuali, istri-istri tokoh pergerakan Islam nasional dan aktivis organisasi perempuan Islam menggunakan kebaya lengkap dengan kain kerudung untuk menutupi rambut.

Mereka mengenakan kebaya ini sebagai bagian dari busana nasional, mulai dari masa-masa pergolakan pergerakan Islam hingga setelah kemerdekaan. Di antara mereka adalah istri-istri pemuka dari Muhammadiyah, NU, Al-Irsyad, Masyumi, dan lainnya, serta istri-istri para tokoh terkemuka Muslim Indonesia seperti istri Mr. Muhammad Natsir, istri Mr. Muhammad Rum, dan istri ketua MUI pertama, Buya Hamka. Mereka semua menggunakan baju kebaya dengan paduan kain batik, sebagai ciri identitas busana nasional Indonesia.

Di kalangan wanita keturunan Arab, kebaya digunakan sebagai pakaian resmi maupun sehari-hari. Namun, penggunaan kebaya oleh wanita keturunan Arab sering dipadukan dengan kain batik bermotif penuh corak dan warna cerah.

Kain batik seperti ini banyak ditemui di pesisir, seperti di Pekalongan dan Madura. Di Pekalongan, motif semacam ini dikenal sebagai kain batik “tiga negeri” atau “pagi sore”. Corak warna cerah ini juga disukai oleh wanita keturunan Tionghoa dan Eropa pada masa itu.

Kebaya di kalangan wanita keturunan Tionghoa, dikenal dengan istilah “kebaya nyonya” yang sering dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Popularitas “kebaya nyonya” di kalangan perempuan keturunan Tionghoa inilah yang memunculkan istilah “kebaya encim”.

Solo dikenal sebagai pusat kebudayaan keraton yang kental dengan nuansa kerajaan. Karena itu, selain Pekalongan dan Yogyakarta, Solo menjadi salah satu produsen utama batik di Pulau Jawa.

Para pengusaha batik di Solo, yang berpusat di Lawean, didominasi oleh saudagar Muslim. Para saudagar Muslim di Lawean ini kemudian bangkit secara terorganisir dan mendirikan Sarekat Dagang Islam, yang kemudian berfusi menjadi Syarekat Islam sebagai pionir gerakan kebangkitan nasional berkat ketokohan H.O.S. Tjokroaminoto, yang dikenal sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Kain batik, sebagai warisan budaya nasional, bersama dengan kain-kain lain dari berbagai daerah, kini dikoleksi oleh Museum Tekstil yang terletak di Jl. KS Tubun, Jakarta Pusat. Museum tersebut dahulu merupakan rumah yang pernah dihuni oleh Sayyid Abdullah bin Alwie Al-Attas.

Menurut Alwi Shahab dalam bukunya “Saudagar Bagdad dari Betawi”, rumah bergaya Prancis tersebut adalah bekas kediaman Abdul Azis Al-Mussawi, konsul jenderal Turki di Batavia. Al-Mussawi menikah dengan putri Sultan Bengkulu, yang juga merupakan adik dari pahlawan nasional Sentot Alibasya.

Kebaya, sebagai busana nasional yang berasal dari ajaran Islam rahmatan lil alamin oleh para Sunan sejak berabad-abad lamanya, masih tetap lestari hingga saat ini. Meskipun telah dimodifikasi dengan pola yang lebih modern, kebaya tetap dijaga sebagai identitas resmi busana wanita Indonesia.*/Abdullah Abubakar Batarfie, Ketua Pusat Dokumentasi dan Kajian Al-Irsyad Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG: penutup badanAbayaasal kebayabusanaHeadlinekebaya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Tulisan selanjutnya Perdana Menteri Australia Sebut Elon Musk Miliarder Arogan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026

Berita
2 Juli 2026 20:20
Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Terbaru

  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?