‘Lailaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat.” Ucapan Nabi suatu hari, saat bangun dari tidurnya dengan wajah memerah menggambarkan tembok Ya’juj dan Ma’juj mulai terkikis, “Hari ini, tembok (bendungan) Ya’juj dan Ma’juj telah berlubang sebesar ini.’ Dan beliau melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuknya.” (HR. Bukhari, Muslim)
Hidayatullah.com | DI balik megahnya istana Samarra pada abad ke-9, sebuah mimpi buruk menghantui tidur Khalifah al-Watsiq Billah. Dalam tidurnya, pemimpin tertinggi Dinasti Abbasiyah itu melihat kiamat seolah sudah di ambang pintu: tembok legendaris yang dibangun oleh Dzulqarnain untuk mengurung kaum Ya’juj dan Ma’juj telah jebol.
Kegelisahan sang Khalifah bukan sekadar bunga tidur; ia adalah alarm bagi sebuah misi yang kemudian tercatat sebagai salah satu ekspedisi paling gila, ambisius, dan penuh misteri dalam sejarah peradaban Islam.
Khalifah tidak memanggil jenderal perang untuk berperang, melainkan memanggil Salam al-Turjuman ‒seorang poliglot ulung yang menguasai puluhan bahasa‒ dengan perintah tegas yang tak terbantahkan: “Cari tembok itu, saksikan dengan matamu sendiri, dan bawa kembali beritanya kepadaku.”
Kisah luar biasa ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan bersumber dari catatan sejarah yang sangat berharga dan diakui kredibilitasnya, yaitu kitab “Siyar A’lām al-Nubala” (II/441-442) karya Imam al-Dzahabi dan kitab “al-Masālik wa al-Mamālik” (162-170) karya Ibnu Khurradadzbih.
Dalam literatur klasik tersebut, perjalanan Salam digambarkan bukan sekadar pengembaraan biasa, melainkan operasi intelijen tingkat tinggi dengan dukungan logistik yang fantastis. Khalifah membekali Salam dengan 50 pria tangguh dan 200 ekor bagal yang mengangkut cadangan makanan serta air untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun.
Tak hanya itu, Salam dibekali surat-surat diplomatik emas yang mampu membuka gerbang-gerbang kerajaan besar, mulai dari wilayah Tbilisi hingga ke jantung kekuasaan Khazar di pegunungan Kaukasus.
Menembus Tanah Terkutuk dan Kota-Kota Mati
Perjalanan Salam al-Turjuman adalah sebuah uji nyali melintasi geografi yang asing. Salam mencatat sebuah detail yang mengerikan dalam laporannya: sebelum mencapai lokasi tujuan, mereka harus melintasi “tanah hitam yang berbau busuk” layaknya cuka selama sepuluh hari berturut-turut.
Bau tersebut begitu menyengat hingga menusuk hidung para anggota ekspedisi. Setelah melewati fase itu, mereka memasuki wilayah yang dipenuhi oleh madain (kota-kota) yang telah hancur lebur tanpa satu pun penghuni yang tersisa.
Selama 27 hari, rombongan ini berjalan di antara reruntuhan peradaban yang sepi. Ketika Salam bertanya kepada para pemandunya tentang apa yang terjadi pada kota-kota megah tersebut, para pemandu menjawab dengan nada getir: “Inilah kota-kota yang dahulu menjadi sasaran amukan Ya’juj dan Ma’juj sebelum mereka berhasil dikurung.” Kesaksian ini memberikan gambaran betapa destruktifnya kekuatan yang tersembunyi di balik tembok tersebut, sebuah kekuatan yang mampu menghapus kota-kota dari peta sejarah.
Arsitektur Gerbang Ya’juj dan Ma’juj: Besi, Tembaga, dan Gembok Raksasa
Setelah berbulan-bulan bertaruh nyawa melawan alam yang ganas dan cuaca yang tak menentu, Salam akhirnya tiba di sebuah celah lembah selebar 100 hasta di antara dua gunung yang licin dan gundul. Di sanalah, struktur masif yang selama ini dianggap mitos oleh sebagian orang, berdiri tegak menantang langit.
Deskripsi Salam yang tertuang dalam “Siyar A’lam al-Nubala” begitu presisi dan bersifat teknis, seolah ia ingin memastikan sang Khalifah benar-benar bisa membayangkan kemegahan bangunan tersebut.
Salam menggambarkan sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari balok-balok besi yang dilapisi tembaga cair (kuningan) untuk mencegah karat dan aus. “Tingginya seolah menembus awan,” tulis Salam. Daun pintunya memiliki lebar dan tinggi masing-masing 100 hasta dengan ketebalan mencapai 5 hasta.
Yang paling mencolok adalah sebuah gembok raksasa sepanjang 7 hasta yang menggantung dengan rantai besi yang sangat besar. Namun, yang lebih mencengangkan dari sekadar bangunan adalah apa yang ia temukan di sekitar tembok itu: sebuah komunitas Muslim terasing yang memiliki masjid dan sekolah, namun mereka tidak tahu bahwa di luar sana dunia masih dipimpin oleh seorang Khalifah dari Bani Abbas.
Salah satu fragmen paling dramatis dan bernuansa mistis dalam laporan Salam adalah mengenai sistem penjagaan tembok tersebut. Penduduk di benteng-benteng sekitar tembok tidak pernah membiarkan gerbang itu tanpa pengawasan. Setiap hari Jumat, pemimpin benteng setempat bersama sepuluh ksatria berkuda akan mendekati pintu raksasa tersebut. Masing-masing dari mereka memegang marzaba atau palu besi yang sangat berat.
Mereka kemudian menghantamkan palu tersebut ke arah gembok raksasa sebanyak tiga kali. Hantaman ini bukan sekadar pengecekan kekuatan pintu, melainkan pesan psikologis dan peringatan keras bagi makhluk-makhluk beringas di balik tembok bahwa para penjaga masih berdiri kokoh di pos mereka.
Salam menceritakan bahwa ketika pintu itu dihantam, mereka akan menempelkan telinga ke permukaan besi dingin tersebut. Detik berikutnya, mereka akan mendengar suara gemuruh yang sangat dahsyat dari balik pintu, menyerupai bunyi guntur yang bersahutan. Suara itu adalah reaksi dari kaum Ya’juj dan Ma’juj, bukti otentik bahwa di balik sana terdapat kehidupan yang sangat masif, liar, dan sedang menunggu waktu untuk dilepaskan.
Kepulangan Sang Penjelajah dan Bukti Fisik untuk Khalifah
Perjalanan pulang Salam al-Turjuman tidak kalah heroik dibandingkan keberangkatannya. Ia harus memutar melalui jalur Khurasan dan Samarkand. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Dari 200 ekor bagal yang berangkat dengan gagah dari Samarra, hanya 23 ekor yang berhasil bertahan hidup hingga akhir perjalanan. Banyak anggota ekspedisi yang gugur atau tertinggal karena kerasnya medan.
Setelah menghilang selama 28 bulan dalam misi yang dianggap mustahil, Salam akhirnya kembali ke hadapan Khalifah al-Watsiq Billah. Ia tidak pulang dengan tangan hampa atau sekadar membawa bualan pengembara.
Salam menyerahkan sebuah benda kecil yang membuat sang Khalifah terdiam dan bersyukur: serpihan atau berandal besi yang sengaja ia kikis dan kumpulkan langsung dari permukaan pintu tembok tersebut.
Bagian besi itu menjadi bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa janji Allah tentang tembok Dzulqarnain benar adanya, dan tembok tersebut masih berdiri tegak melindungi peradaban manusia saat itu.
Hingga hari ini, catatan Salam al-Turjuman yang diabadikan oleh Imam al-Dzahabi tetap menjadi salah satu teka-teki geografi dan sejarah terbesar dalam Islam. Para peneliti modern terus berdebat: apakah Salam mencapai Tembok Besar China di wilayah Gansu? Ataukah ia sampai ke Celah Darial di pegunungan Kaukasus, atau mungkin sebuah wilayah di Asia Tengah yang kini telah tertimbun oleh perubahan geologis bumi?
Terlepas dari perdebatan lokasinya, ada satu hal cukup penting: era Kekhalifahan Islam pernah memiliki semangat literasi dan eksplorasi yang luar biasa. Kisah Salam al-Turjuman adalah pengingat tentang keberanian seorang manusia yang bersedia menembus batas dunia yang paling gelap demi sebuah kebenaran.
Ia pergi sebagai utusan yang penuh keraguan, dan pulang sebagai saksi mata atas salah satu misteri terbesar yang tersimpan di ujung bumi, memastikan bahwa apa yang tertulis dalam kitab suci bukanlah sekadar kiasan dalam bentuk cerita, melainkan realitas yang nyata. (MBS)




