Hidayatullah.com– Pihak Kejaksaan Jerman pada hari Kamis (2/7/2026) mendakwa Kyiv sebagai pihak di belakang aksi sabotase terhadap jalur pipa gas Nord Stream yang menyalurkan gas dari Rusia ke Eropa, sebuah kenyataan yang mencemarkan hubungan erat antara Kyiv dan pendukung militer utamanya, Berlin.
Serangan bom bawah laut di kawasan Baltik menghancurkan tiga dari empat pipa di dasar laut yang memasok kebutuhan sebagian besar energi berupa gas ke Jerman dari Rusia. Kebocoran yang ditimbulkan oleh ledakan tersebut melepaskan methane dalam jumlah besar ke atmosfer.
Dalam sebuah pernyataan yang memaparkan dakwaan yang diajukan terhadap salah satu tersangka, jaksa Jerman mengatakan bahwa terdakwa itu dan beberapa anggota militer Ukraina lainnya bertindak “atas perintah otoritas negara di Ukraina.”
Terdakwa tersebut ditangkap pada musim panas 2025 di Italia dan diekstradisi ke Jerman pada bulan November. Ketika itu dia diidentifikasi sebagai Serhii Kuznietsov, lansir AFP.
Dalam pernyataan yang dirilis hari Kamis, pihak jaksa penuntut mengatakan terdakwa merupakan seorang prajurit di angkatan bersenjata Ukraina. Menyusul invasi Rusia atas wilayah Krimea pada Februari 2022, “ia dan sejumlah anggota militer Ukraina lainnya… membuat rencana untuk menghancurkan” jaringan pipa tersebut guna memutus sumber pendapatan negara Rusia dari ekspor gas ke Eropa.
Jaksa Jerman mengatakan bahwa Kuznietsov memimpin sebuah tim yang terdiri dari beberapa penyelam profesional, seorang kapten kapal, dan seorang ahli bahan peledak, dan mereka menyewa sebuah kapal pesiar di pelabuhan Rostock, Laut Baltik Jerman, menggunakan dokumen identitas palsu.
“Dengan menggunakan kapal ini, terdakwa dan para kaki tangannya mengangkut sejumlah besar bahan peledak berkinerja tinggi yang cocok untuk penggunaan militer melalui perairan internasional ke suatu daerah di dekat Pulau Bornholm, Denmark,” kata jaksa penuntut.
Bahan-bahan peledak yang dibawa para pelaku kemudian disematkan pada jaringan pipa, berikut pengatur waktu dan detonatornya. Ledakan terjadi empat hari kemudian.
Kasus ini menjadi sebuah kecanggungan bagi Jerman dan Ukraina mengingat pemerintah Jerman merupakan pendukung militer terbesar bagi Ukraina dalam peperangan melawan Rusia. Kerusakan pipa gas itu mengganggu pasokan energi negara yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar di Eropa tersebut.*




