Hidayatullah.com– Ratusan aktivis Tunisia hari Jumat (25/7/2025) berunjuk rasa di ibu kota guna memprotes Presiden Kais Saied, mengutuk pemerintahan otoriternya yang menjadikan negara mereka layaknya penjara terbuka.
Pengunjuk rasa dengan mengusung slogan “Republik ini sebuah penjara besar” berjalan menyusuri Habib Bourguiba Avenue. Mereka menuntut pembebasan tokoh-tokoh oposisi, para jurnalis dan aktivis, lapor Reuters.
Aksi protes itu menandai empat tahun penumpukan kekuasaan yang dilakukan Saied. Pada 2021, dia membubarkan parlemen dan mulai berkuasa dengan mengeluarkan dekrit, sebuah langkah yang dianggap oleh oposisi sebagai kudeta.
Pada 2022, Saied membubarkan lembaga independen Dewan Peradilan Agung dan memecat puluhan hakim, langkah yang disebut oposisi sebagai upaya Saied untuk mewujudkan pemerintahan satu orang.
Saied berdalih dia tidak mencampuri urusan kehakiman, tetapi tidak seorang pun yang kebal terhadap akuntabilitas, apa pun nama atau jabatannya.
Pada tahun 2023, Saied menyebut para politisi sebagai “pengkhianat dan teroris” dan bahwa hakim yang membebaskan mereka adalah antek-anteknya.
Para pengunjuk rasa mengatakan bahwa Tunisia di bawah pemerintahan Saied terjerumus ke dalam otoritarianisme, dengan banyaknya penangkapan bermotif politik dengan tujuan membungkam suara-suara yang berseberangan dengannya.
“Tujuan pertama kami adalah memerangi tirani untuk memulihkan demokrasi dan menuntut pembebasan para tahanan politik,” kata Monia Ibrahim, istri dari politisi oposisi Abdelhamid Jelassi yang dijebloskan ke dalam penjara, kepada Reuters.
Di antara tokoh politik yang dijebloskan ke penjara adalah Rached Ghannouchi, pemimpin partai Islam Ennahda, dan Abir Moussi, pemimpin Partai Kebebasan Konstitusional.
Selain mereka ada banyak politisi lain, para jurnalis, pengacara yang dimasukkan ke dalam penjara dengan tuduhan terorisme dan konspirasi.
Orang-orang yang ditarget oleh Saied tidak sedikit yang melarikan diri ke luar negeri, mengajukan permohonan suaka di negara-negara Barat.
“Penjara-penjara dipenuhi oleh lawan politik Saied, aktivis dan jurnalis,” kata Saib Souab, putra dari Ahmed Souab, pengacara yang dibui karena vokal mengkritik Saied.
“Tunisia berubah menjadi sebuah penjara terbuka. … Bahkan mereka yang tidak dimasukkan ke dalam penjara hidup dalam kebebasan yang terkekang, ketakutan akan ancaman penangkapan dengan tuduhan pengkhianatan,” imbuhnya.*




