Hidayatullah.com– Berbagai media internasional, khususnya media ‘Israel’, memberitakan tentang kemungkinan adanya normalisasi hubungan antara Suriah dan ‘Israel’. Namun, laporan ini secara tegas dibantah oleh pihak Suriah.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Timteng Podcast, penasihat khusus pemerintah Suriah, Ahmad Zaidan, membantah rumor tersebut. “Ini adalah kesalahpahaman yang luas. Kami tidak sedang menuju normalisasi dengan Israel,” tegas Zaidan.
Ia menambahkan, pertemuan antara Menteri Luar Negeri Suriah, As’ad As-Syaibani, dan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, semata-mata untuk membicarakan isu keamanan dan meminta Israel untuk menghormati perjanjian lama.
Bukan Normalisasi, Melainkan Penarikan Pasukan
Ahmad Zaidan menjelaskan, tujuan utama dari perundingan yang berlangsung di Paris pada akhir Juli lalu adalah untuk mendesak penjajah ‘Israel’ agar menarik pasukannya sesuai dengan kesepakatan yang pernah dibuat pada tahun 1974.
“Kami hanya meminta Israel untuk kembali ke komitmen mereka pada perjanjian tahun 1974, di mana pasukan mereka ditempatkan di posisi tertentu. Itu adalah batas atas dari negosiasi kami, bukan normalisasi,” jelas Zaidan.
Penjajah ‘Israel’ dituding berupaya untuk memecah belah Suriah dengan empat cara: menguasai seluruh Dataran Tinggi Golan, menciptakan negara sendiri bagi komunitas Druze di Suwaida, membentuk negara dalam negara di wilayah Latakia dan Tartus yang dihuni oleh loyalis Asad, dan menciptakan negara Kurdi otonom di utara Suriah. Isu-isu ini yang menjadi inti dari negosiasi.
“Kami menolak intervensi dan upaya untuk mengganggu kedaulatan kami, dan kami tidak ingin melakukan normalisasi dengan Israel,” tegas Zaidan.
Pola Negosiasi dan Harapan Baru Suriah
Zaidan menyoroti pola negosiasi Israel yang mirip dengan yang mereka terapkan pada perundingan dengan pejuang Palestina di Gaza. Mereka terus melakukan agresi militer saat negosiasi berlangsung.
“Ini adalah kebiasaan ‘Israel’, melakukan intimidasi untuk mendapatkan keuntungan,” kata Zaidan. Menurutnya, ‘Israel’ menuntut normalisasi tanpa mau mundur dari wilayah yang mereka caplok, yang dinilai tidak masuk akal.
Namun, di tengah ketegangan ini, ada angin segar yang berhembus di Suriah. Di bawah pemerintahan baru, masyarakat Suriah merasakan kebebasan yang lebih besar. Pasar dan ekonomi mulai bangkit kembali.
Bahkan, pemerintah mengadakan penggalangan dana dari warganya sendiri untuk membiayai pembangunan dan pemulihan negara. “Ada harapan untuk munculnya kembali Suriah yang lebih baik,” tutup Zaidan.*




