Hidayatullah.com – Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu dikabarkan memecat Penasihat Keamanan Nasional Nasional Tzachi Hanegbi setelah berselisih terkait kebijakan mereka, termasuk serangan ke Qatar dan operasi untuk menguasai Kota Gaza.
Hanegbi mengonfirmasi pemecatan dirinya setelah Netanyahu mengatakan akan menunjuk orang lain sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional, menurut laporan The Jerusalem Post pada Selasa (21/10/2025).
Sejumlah media ‘Israel’ melaporkan Hanegbi telah berselisih dengan Netanyahu mengenai serangan udara yang menargetkan pimpinan Hamas di Doha, Qatar dan operasi militer untuk merebut Kota Gaza.
Hanegbi juga termasuk pejabat yang menyerukan “investigasi menyeluruh” atas kegagalan Israel terkait serangan udara lintas batas Hamas pada 7 Oktober, dengan mengatakan bahwa ia turut bertanggung jawab atas hal tersebut.
Kantor Netanyahu mengonfirmasi bahwa wakil kepala Dewan Keamanan Nasional, Gil Reich, telah ditunjuk sebagai pelaksana tugas kepala badan tersebut, menggantikan Hanegbi, menurut surat kabar Yedioth Ahronoth.
Sebelum serangan dimulai, Hanegbi dilaporkan menyampaikan kepada Kabinet bahwa ia menentang desakan Netanyahu untuk menduduki Kota Gaza, dengan alasan hal itu dapat membahayakan nyawa para sandera Israel.
“Saya sepenuhnya setuju dengan kepala staf (Eyal Zamir) bahwa mengambil alih Kota Gaza membahayakan nyawa para sandera, itulah sebabnya saya menentang usulan perdana menteri,” ujarnya seperti dikutip Channel 12.
Lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar syahid dalam serangan ‘Israel’ di Doha pada 9 September yang lantas memicu kecaman global terhadap entitas zionis.
Perjanjian gencatan senjata mulai berlaku di Gaza pada 10 Oktober, berdasarkan rencana bertahap yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump. Tahap pertama mencakup pembebasan sandera ‘Israel’ dengan imbalan tahanan Palestina.
Rencana tersebut juga mencakup pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.
Sejak Oktober 2023, perang genosida ‘Israel’ telah menewaskan lebih dari 68.200 orang dan melukai lebih dari 170.300 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.*




