Hidayatullah.com— Kepolisian Dallas, Texas, menangkap Rabbi Yitzhak Meir Sabo, 43 tahun, atas dugaan pelecehan anak setelah penyelidikan mendalam terhadap laporan mantan muridnya. Penangkapan dilakukan awal April 2025, hanya setahun setelah Sabo menjadi sorotan karena menyebarkan klaim palsu mengenai pemerkosaan massal oleh Hamas saat serangan 7 Oktober 2023.
Menurut laporan The New Arab dan Middle East Monitor, Sabo dijerat dengan tuduhan indecency with a child. Catatan pengadilan menunjukkan ia ditahan dengan jaminan sebesar 100.000 dolar AS. Sekolah Yahudi modern di Dallas tempat Sabo bekerja langsung menonaktifkannya dan melarangnya mendekati area kampus.
Dalam pernyataan resmi, pihak sekolah menyebut kasus ini “mengejutkan dan sangat bertentangan dengan nilai yang kami junjung.”
Dewan sinagoga yang dipimpinnya juga menempatkan Sabo dalam status cuti tanpa gaji.
Korban, seorang siswa laki-laki yang dulu berusia 14 tahun, mengaku dilecehkan dalam jangka waktu beberapa tahun. Polisi mencatat dugaan tindakan Sabo meliputi menyentuh area pribadi korban, menarik pakaian, dan memaksa interaksi fisik yang tidak pantas.
“Kami merasa dikhianati oleh seseorang yang dipercaya untuk membimbing moral dan spiritual anak-anak kami,” kata salah satu anggota komunitas Yahudi Dallas yang enggan disebut namanya kepada Dallas Morning News.
Jejak Klaim Palsu Pemerkosaan Massal oleh Hamas
Sebelum kasus ini muncul, Sabo dikenal sebagai figur publik yang vokal di media sosial. Ia kerap mengklaim bahwa Hamas melakukan pemerkosaan massal terhadap perempuan Israel dalam serangan 7 Oktober 2023.
Namun klaim itu kemudian dibantah oleh penyelidikan independen dan laporan PBB, yang menyatakan tidak ada bukti verifikatif mendukung narasi tersebut.
“Tidak ada data forensik, saksi medis, atau laporan resmi yang mendukung tuduhan tersebut,” tulis laporan Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR)pada akhir 2023.
Meski begitu, unggahan Sabo telah tersebar luas di platform X dan Facebook, memicu gelombang kebencian terhadap komunitas Palestina serta memperkuat narasi genosida Israel.
Beberapa aktivis menyebut Sabo sebagai bagian dari jaringan penyebar disinformasi. “Dia menggunakan status religiusnya untuk menyebarkan propaganda yang memperburuk konflik,” ujar Laila Haddad, analis media dari The New Arab.
Kini, dengan kasus pidana baru yang menimpanya, publik menilai kejatuhan Sabo menjadi simbol bagaimana manipulasi moral dan kekuasaan religius dapat menutupi sisi gelap seseorang.
Yahudi Terguncang
Pihak Kepolisian Dallas belum merilis seluruh detail penyelidikan karena kasus masih berjalan. Namun juru bicara departemen menyebutkan bahwa bukti awal “cukup kuat untuk menjerat tersangka.”
Sementara itu, pihak pengacara Rabbi Sabo belum memberikan komentar resmi. “Kami akan bekerja untuk memastikan klien kami mendapat proses hukum yang adil,” kata kuasa hukum yang tak disebutkan namanya kepada media lokal.
Reaksi keras datang dari tokoh-tokoh Yahudi setempat. “Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi pengkhianatan terhadap kepercayaan spiritual,” ujar Rabbi Daniel Rosenthal, pemimpin komunitas konservatif di Dallas. Ia menyerukan agar lembaga keagamaan memperketat pengawasan terhadap figur religius.
Kasus ini memperlihatkan ironi tragis: seorang rabbi yang dulu menuduh pihak lain melakukan kekejaman tanpa bukti, kini sendiri dituduh melakukan kekerasan terhadap anak di bawah asuhannya.
“Ini pelajaran penting bagi publik agar tidak menelan mentah-mentah narasi emosional tanpa fakta,” kata Dr. Mona Awwad, pakar disinformasi Universitas Texas. “Dan bagi komunitas keagamaan, ini pengingat bahwa otoritas moral tidak boleh menjadi tameng dari penyalahgunaan kekuasaan,” tambahnya. *




