Hidayatullah.com—Sutradara dan pembuat film Bollywood, Ram Gopal Varma, memicu gelombang kecaman luas setelah membuat pernyataan kontroversial yang membandingkan genosida Israel di Gaza dengan festival Hindu Diwali.
Pernyataan ini disampaikan Varma melalui sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada Senin, yang segera menuai kritik keras dari jurnalis, akademisi, dan aktivis hak asasi manusia.
Kala itu Varma menulis, “Di India hanya ada satu hari untuk Diwali, tapi di Gaza, setiap hari adalah Diwali.”

Dengan ungkapan ini, ia berusaha mengibaratkan penderitaan terus-menerus yang dialami warga Palestina di Gaza akibat serangan militer Israel selama dua tahun terakhir, yang menurut berbagai laporan telah menyebabkan puluhan ribu orang meninggal.
Ungkapan Ram Gopal Varma ini dianggap sangat provokatif dan menyinggung banyak pihak. Di media sosial, pernyataan tersebut dikecam sebagai “ busuk,” “ keji,” dan “ tidak manusiawi.”
Banyak pengguna menilai perbandingan tersebut sebagai penghinaan terhadap makna spiritual dan budaya Diwali, sekaligus meremehkan tragedi kemanusiaan yang tengah berlangsung di Gaza.
Sejumlah tokoh masyarakat dan pakar hak asasi manusia mengutuk keras pernyataan Varma. Dr. Anita Menon, seorang akademisi bidang studi agama dan konflik, menyebut perbandingan tersebut “keliru dan berbahaya,” karena “mengaburkan makna sebenarnya dari peristiwa tragis yang sedang terjadi dan merendahkan nilai-nilai spiritual Diwali.”
Sementara itu, Harun Al-Sayed, aktivis HAM global, mengungkapkan, “Varma tampaknya gagal paham tentang penderitaan yang dialami warga Gaza yang dihantam blokade dan pengeboman setiap hari. Menggunakan Diwali sebagai analogi memperlihatkan ketidaktahuan dan kegagalan empati.”
Jurnalis independen dan pengamat politik juga bergabung dalam mengecam pernyataan tersebut. “Ini bukan hanya masalah kebebasan berpendapat, tapi cara berpendapat yang merendahkan rasa kemanusiaan,” tulis seorang wartawan senior dalam cuitannya.
Diketahui, aksi genosida militer Israel di Gaza telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang sangat parah. Hingga saat ini, korban dilaporkan telah mencapai lebih dari 68.000 jiwa, dengan jumlah besar adalah anak-anak dan perempuan yang menjadi korban serangan udara dan blokade. Ribuan lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal akibat kehancuran infrastruktur, rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
PBB dan berbagai organisasi kemanusiaan telah menyerukan gencatan senjata dan bantuan darurat untuk meringankan beban warga Gaza yang terjebak dalam konflik yang berlangsung tanpa henti ini.
Diwali merupakan salah satu festival terbesar dan paling penting dalam budaya Hindu di India dan di seluruh dunia. Festival ini dikenal sebagai “Festival Cahaya,” yang dirayakan sebagai wujud kemenangan cahaya atas kegelapan, kebaikan atas kejahatan, serta ilmu pengetahuan dan harapan atas keputusasaan.
Perayaan selama lima hari ini meliputi ritual doa, pencahayaan lampu minyak, pesta kembang api, dan pertemuan keluarga. Festival ini membawa pesan perdamaian, kebahagiaan, dan spiritualitas yang mendalam bagi jutaan penganut Hindu di dunia.
Penggunaan nama dan makna Diwali dalam konteks penderitaan dan kekerasan seperti yang dilakukan oleh Ram Gopal Varma dianggap sangat tidak pantas dan menuai kritik luas dari berbagai kalangan.*




