Hidayatullah.com – Wakil Ketua Majelis Syura Hidayatullah Nashirul Haq, hadir dalam kegiatan World Peace Forum (WPF) ke-9. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta ini merupakan forum internasional yang mempertemukan tokoh lintas benua, dan negara. Mengangkat tema sentral tentang isu wasathiyah dan perdamaian sebagai pokok bahasan utama.
Nashirul menjelaskan acara ini menjadi ruang strategis untuk membahas kontribusi agama, budaya, dan kebijakan global dalam menciptakan stabilitas sosial politik dunia yang berkeadilan.
“Wasathiyah dan perdamaian berada dalam posisi fundamental untuk menjawab tantangan sosial, politik, dan keagamaan abad ini, baik di tataran regional maupun global,” ujar Nashirul kepada Hidayatullah.com di Gedung Nusantara V Kompleks DPR RI, Senin (10/11/2025), di Jakarta.
Nashirul menegaskan pemahaman mengenai wasathiyah memiliki cakupan konseptual yang jauh lebih luas daripada sekadar wacana umum tentang moderasi beragama. Ia mengatakan bahwa wasathiyah merupakan konsep yang komprehensif tentang cara hidup, bukan hanya sekumpulan sikap toleran yang bersifat situasional.
“Wasathiyah mengandung makna yang sangat luas sebagai jalan hidup, way of life yang komprehensif. Yaitu sikap pertengahan, adil, objektif, proporsional,” katanya.
Wasathiyah Sebagai Nilai Universal
Karena itu, Nashirul berpandangan konsep ini bukan sekadar panduan internal bagi komunitas Muslim, melainkan sebuah nilai universal yang dapat berfungsi dalam berbagai konteks masyarakat.
Alumni Universitas Islam Madinah ini juga menerangkan bahwa penerapan nilai wasathiyah dalam tindakan nyata masyarakat merupakan faktor utama dalam terwujudnya perdamaian global. “Jika wasathiyah menjadi landasan berpikir dan bertindak, maka, perdamaian pasti akan terwujud dalam kehidupan umat manusia,” terang mantan Ketua Umum DPP Hidayatullah ini.
Menurut Nashirul, perdamaian tidak hanya dicapai melalui mekanisme politik, diplomasi, atau kerja sama antarnegara, tetapi juga melalui internalisasi nilai-nilai etika dan moral yang membentuk perilaku kolektif masyarakat. Dalam konteks itu, wasathiyah menurutnya berfungsi sebagai fondasi etik yang memastikan keseimbangan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Nashirul juga memberikan penekanan bahwa konsep wasathiyah tidak boleh dikecilkan maknanya menjadi sebatas moderasi atau toleransi yang bersifat praktis. Dalam kerangka Islam, wasathiyah memuat tuntunan moral yang mengarahkan manusia pada pilihan yang berpihak pada kebenaran.
“Wasathiyah tidak hanya dimaknai sebatas moderasi atau toleransi. Namun sebuah prinsip yang selalu berpihak kepada kebenaran, kebaikan dan kemaslahatan,” tegasnya.
Dia menguraikan, wasathiyah tidak hanya menjaga keseimbangan, tetapi juga menuntut keberanian moral untuk berpihak pada nilai-nilai yang diridhai dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Nashirul juga menggarisbawahi bahwa ajaran wasathiyah merupakan salah satu pilar yang menjadikan umat Islam mendapat predikat sebagai komunitas terbaik. Hal ini merujuk pada istilah “khaira ummah” yang terdapat dalam Al-Qur’an. “Bahkan ajaran wasathiyah inilah yang menjadikan umat Islam sebagai khaira ummah, umat terbaik,” terangnya.
Disamping itu, Ia menambahkan, konsep wasathiyah memiliki legitimasi teologis yang kuat, karena menghubungkan umat Islam dengan predikat sebagai komunitas terbaik yang membawa misi kebaikan bagi seluruh umat manusia. “Ketika umat Islam mengamalkan ajaran wasathiyah, maka seluruh umat manusia dan alam akan merasakan Islam sebagai rahmat,” katanya.
Forum World Peace Forum sendiri adalah platform internasional yang sejak awal digagas untuk menyatukan pemikir, pemimpin komunitas, akademisi, dan diplomat dalam membahas isu perdamaian dari berbagai sudut pandang.
Forum dua tahunan ini mengusung tema besar “Considering Wasatiyyat and Tionghoa for Collaboration”, yang menggali kontribusi nilai Islam Wasatiyyat dan tradisi pemikiran Tionghoa dalam membangun kehidupan global yang adil dan harmonis.
Penyelenggaraan forum merupakan kolaborasi antara Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Cheng Ho Multi Culture and Education Trust, dan Muhammadiyah.
Pidato pembukaan dilakukan oleh Wakil Ketua, MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono didampingi oleh Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. Sementara, dari DPR RI diwakilkan oleh Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir, dan DPD RI diwakilkan Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung.*Azim Arrasyid




