Hidayatullah.com–Isu hijab kembali menjadi topik hangat di Turki setelah sebuah video viral di media sosial memperlihatkan konfrontasi antara seorang wanita tanpa hijab dan seorang wanita berhijab yang kemudian menjadi sorotan pengguna Instagram di Turki, termasuk unggahan diskusi publik di Twitter/X.
Meskipun detail peristiwa belum terverifikasi oleh media arus utama, kasus itu memicu perdebatan luas tentang hak berpakaian dan warisan sekularisme Turki.
Dalam video yang beredar, tampak seorang perempuan sekuler tampak mencoba menarik kerudung wanita berhijab. Wanita berhijab kemudian bereaksi tegas, yang oleh netizen Turki disebut sebagai “pelajaran tentang harga diri dan kebebasan berpakaian.”
Unggahan tersebut menjadi viral dan memicu ribuan komentar dari warganet Turki di Twitter/X, termasuk dari akun berita lokal seperti Hurriyet Daily News (@HDNER) yang menyoroti bagaimana isu hijab masih menjadi simbol perdebatan sosial di Turki meskipun sudah lama menjadi bagian kehidupan publik.
Permasalahan hijab di Turki memiliki latar sejarah yang panjang. Debat tentang hak memakai hijab pernah mencapai puncaknya pada akhir abad ke-20 ketika mahasiswa dan pekerja publik dilarang mengenakan hijab di universitas dan institusi pemerintahan selama beberapa dekade di bawah prinsip sekularisme yang dipaksakan Mustafa KemalAtatürk (1923).
Sekularisme di Turki awalnya dipandang sebagai upaya untuk memisahkan agama dari urusan negara, tetapi pemberlakuan larangan tersebut memicu ketegangan antara kelompok sekuler dan religius selama puluhan tahun.
Larangan itu kemudian dicabut secara bertahap oleh pemerintah Turki. Menurut laporan sebelumnya oleh Reuters, larangan terhadap pemakaian hijab di sekolah dan institusi publik yang diberlakukan sejak tahun 1980-an mulai dihapus pada 2010 dan dilanjutkan dengan reformasi pada 2013 sehingga perempuan Muslim bisa memakai hijab di tempat kerja dan instansi pemerintah.
Meski demikian, isu hijab masih sering muncul dalam percaturan politik dan media karena mencerminkan ketegangan nilai antara kelompok sekuler yang ingin mempertahankan identitas budaya Barat-Sekuler dan golongan konservatif yang memandang hijab sebagai simbol kebebasan beragama.
Debat ini kembali melonjak saat Presiden Recep Tayyip Erdoğan mengusulkan referendum yang bertujuan menjamin secara konstitusional hak perempuan untuk memakai hijab di semua institusi negara, termasuk sekolah dan universitas, lapor Euronews.
Para komentator independen di Turki menilai bahwa kontroversi video viral itu bukan sekadar pertengkaran antarindividu, tetapi mencerminkan sensitivitas yang terus ada dalam masyarakat terkait hijab dan ekspresi agama.
Beberapa pengguna Twitter/X mengomentari bahwa konfrontasi semacam itu seringkali terhubung dengan persepsi bahwa hijab menjadi simbol identitas politik tertentu di tengah masyarakat yang masih terpecah antara sekuler dan religius.
Akun Bianet yang sering membahas isu HAM di Turki juga menunjukkan bahwa stigma terhadap wanita berhijab kadang muncul dari pandangan sekuler yang mengaitkan hijab dengan politik Islam sedang diterapkan, walaupun secara hukum kebebasan berpakaian tetap diakui.
Isu ini semakin diperumit oleh sejarah sekularisme Turki yang berasal dari reformasi Atatürk pada awal abad ke-20 yang menghapus banyak simbol religius dari ranah umum, termasuk standar berpakaian publik.
Ketegangan kultural ini masih terasa di masyarakat modern Turki di mana toleransi terhadap pluralitas keyakinan dianggap sebagai indikator keberhasilan demokrasi sekuler.
Hingga saat ini, otoritas Turki belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai video viral itu, dan jurnalis setempat terus menunggu konfirmasi fakta di lapangan terkait siapa pihak yang terlibat dan konteks sesungguhnya dari kejadian tersebut.*




