Hidayatullah.com– Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif membagikan video mengejutkan di media sosial yang mengungkap bagaimana para pengemis di negara itu mendapatkan uang yang cukup untuk membeli rumah melalui jaringan terorganisir, yang dia katakan bahwa karena hal ini negara-negara di kawasan Teluk enggan mengeluarkan visa untuk warga Pakistan.
Video tersebut menunjukkan seorang pria Pakistan berbicara dengan seorang pengemis anak, yang bercerita bagaimana semua anggota keluarganya bekerja sama menghasilkan uang dalam jumlah banyak dengan cara mengemis.
Mengomentari video itu, Asif mengatakan mengemis sudah menjadi profesi yang terorganisir.
“Ada kontraktor resmi yang merekrut anak-anak, perempuan dan orang difabel palsu, dan mereka mendulang uang miliaran. Mafia yang sama ini yang mengekspor para pengemis ke negara-negara Teluk dalam jumlah ribuan,” kata Asif, seperti dilansir Khaleej Times Rabu (11/2/2026).
Muak dengan hal itu, negara-negara Teluk akhirnya sekarang enggan mengeluarkan visa untuk warga Pakistan, imbuhnya pada keterangan video.
Besaran masalah itu tampak pada data pemerintah. Kementerian Warga Pakistan di Luar Negeri dan Pengembangan Sumber Daya Manusia mengungkap bahwa lebih dari 7.800 warga Pakistan dideportasi dari negara-negara teluk antara tahun 2009 dan 2025 karena berbagai alasan, termasuk mengemis. Menangani masalah itu, otoritas Pakistan mulai membatalkan paspor warga yang dideportasi pada 2025.
Asif juga menuding petugas di bandara Pakistan ikut andil dalam pengiriman pengemis ke luar negeri, mengklaim bahwa di seluruh penjuru negeri, “bisnis” ini menyerap paling banyak “tenaga kerja”.
“Bisnis ini tidak akan eksis di kota mana pun tanpa adanya pembiaran dari pihak pemerintah daerah dan kepolisian,” tegas Asif.
Cerita Si Pengemis Anak
Di dalam rekaman video yang dibagikan itu, pria yang mengajak bicara bertanya kepada si pengemis anak tentang perolehannya. Anak lelaki itu menceritakan secara terperinci apa yang dia dan tiga saudara lelakinya dapatkan setiap hari – total rata-rata PKR12.000, menurut perhitungan pria tersebut. Apabila dirupiahkan maka jumlah itu setara 717.600 (PKR1 = 59,80 rupiah).
Ketika ditanya tentang saudara lelakinya yang tampak pincang, bocah itu mengakui bahwa saudaranya hanya “berakting” dan dia tidak benar-benar cacat.
Anak lelaki itu juga menceritakan bahwa keluarganya sudah membeli sebuah rumah di daerah Millat di kota Faisalabad, yang dijuluki Manchester-nya Pakistan disebabkan banyaknya industri tekstil di sana.
Pria yang menanyai bocah itu mendesak para pemirsa supaya lebih cermat dalam memberikan donasi selama bulan Ramadhan. Dia mengimbau supaya masyarakat lebih memperhatikan keluarga, kerabat dan teman yang jelas-jelas kesulitan membayar biaya pengobatan atau kekurangan pangan, daripada memberikan sedekah ke pengemis, yang menurutnya, hanya akan menyuburkan praktik buruk itu.*




