Hidayatullah.com – Suasana sederhana tampak di Kampung Inspirasi, Ciater, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (7/3/2026). Di teras-teras rumah, sejumlah ibu terlihat tekun merajut tas dari serat kulit kayu pohon teureup menggunakan alat sederhana berbahan bambu.
Kerajinan tradisional yang dikenal dengan nama koja itu menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat Eks-Baduy di kampung tersebut.
Kegiatan ini terlihat saat tim Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Kang Maman berkunjung ke Kampung Inspirasi dalam rangka menggelar buka puasa bersama serta program belanja baju Lebaran untuk anak-anak Eks-Baduy. Kegiatan tersebut juga melibatkan Impact+, komunitas mahasiswa magister kesejahteraan sosial Universitas Indonesia, yang melakukan pemetaan sosial di wilayah tersebut.

Dari pemetaan itu terungkap cerita menarik di balik kerajinan koja yang ditekuni para perempuan di kampung tersebut.
Salah satu pengrajin, Arfa, mengungkapkan bahwa tas koja biasanya membutuhkan waktu satu hingga dua hari untuk diselesaikan. Kerajinan tersebut kemudian dikumpulkan untuk dijual kembali.
“Biasanya satu sampai dua hari jadi satu tas. Nanti kami kumpulkan untuk dijual lagi. Motifnya ada yang rapat, ada juga yang jarang. Kami sering membuatnya bersama-sama,” ujar Arfa.
Di Kampung Inspirasi saat ini terdapat sekitar 30 kepala keluarga masyarakat Eks-Baduy yang bermukim. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh tani dan pedagang serabutan.
BMH telah melakukan pembinaan terhadap masyarakat mualaf Eks-Baduy di kampung tersebut selama beberapa tahun terakhir. Selain pendampingan keagamaan, BMH juga memberikan dukungan pemberdayaan ekonomi, salah satunya melalui fasilitas pinjaman modal usaha bagi warga yang ingin berdagang.
Sementara itu, para ibu rumah tangga turut membantu perekonomian keluarga dengan memproduksi kerajinan koja dari serat pohon teureup.
Tokoh masyarakat setempat, Ustaz Supri, menilai para perempuan di kampung itu memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian keluarga melalui kerajinan tersebut.
“Saya rasa ibu-ibu di sini yang punya potensi. Mereka hampir setiap hari membuat kerajinan. Bahkan ada yang mulai berinovasi, tidak hanya membuat tas, tapi juga tempat tumbler dan gendongan bayi,” kata Supri.
Kerajinan koja sendiri memiliki makna yang cukup dalam bagi masyarakat Eks-Baduy. Tas yang terbuat dari serat alami pohon teureup itu menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kemandirian hidup.
Warna cokelat alami dari serat kayu tetap dipertahankan, mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam. Hingga kini, sebagian masyarakat masih menggunakan koja dalam aktivitas sehari-hari.
Kisah para perempuan pengrajin koja di Kampung Inspirasi ini menjadi gambaran tentang ketangguhan perempuan dalam menopang kehidupan keluarga. Di balik rajutan sederhana dari kulit pohon teureup, tersimpan cerita tentang kerja keras, kebersamaan, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Perempuan Internasional pada Maret, kisah ibu-ibu di Kampung Inspirasi menjadi refleksi tentang peran perempuan dalam membangun kemandirian ekonomi di tengah keterbatasan.*




