Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

AS Dominasi 66% Kasus Pembunuh Berantai Dunia

Ahmad
Terakhir diupdate: 14 Maret 2026 14:59 2:59 pm
Ahmad
Dipublikasikan 14 Maret 2026 14:57
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com – Amerika Serikat terus memimpin statistik kriminologi global terkait fenomena pembunuh berantai. Berdasarkan data terbaru dari Serial Killer Database di Radford University, AS mencatat sekitar 3.690 kasus terdokumentasi, yang mencakup lebih dari 66% dari total kasus global. Angka ini terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan negara lain seperti Inggris (196 kasus) dan Rusia (164 kasus).

Tingginya angka ini tidak serta merta menunjukkan bahwa warga Amerika secara biologis lebih cenderung menjadi pelaku kriminal, melainkan cerminan dari kecanggihan sistem pelaporan dan keterbukaan informasi.

The New York Times dalam ulasan mendalamnya menyoroti peran krusial basis data federal. “Sistem Violent Criminal Apprehension Program (ViCAP) milik FBI memungkinkan detektif menghubungkan titik-titik pembunuhan yang terpisah jarak ribuan mil, sesuatu yang jarang bisa dilakukan di negara dengan sistem kepolisian yang terfragmentasi,” tulis media tersebut.

Senada dengan hal itu, BBC News meninjau fenomena ini dari sudut pandang sejarah dan budaya kriminologi. Dalam salah satu laporannya, BBC menyebutkan bahwa istilah “serial killer” sendiri merupakan produk budaya penegakan hukum AS era 1970-an yang sangat didukung oleh media.

“Keterbukaan informasi dan obsesi media Amerika terhadap kasus-kasus kriminalitas menciptakan ekosistem di mana setiap pola pembunuhan segera teridentifikasi dan masuk dalam catatan sejarah publik,” ungkap laporan tersebut.

Baca Juga

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Namun, dominasi statistik ini juga menyimpan anomali yang disebut sebagai Dark Figure of Crime. The Guardian melaporkan bahwa dominasi AS dalam data global kemungkinan besar disebabkan oleh “kegagalan pelaporan” di negara-negara berkembang atau otoriter.

“Di banyak bagian dunia, pembunuhan berantai sering kali tidak terdeteksi karena kurangnya teknologi DNA dan koordinasi antarwilayah, sehingga banyak korban hanya dicatat sebagai orang hilang tanpa pernah dihubungkan satu sama lain sebagai pola kejahatan tunggal,” tulis koresponden kriminologi The Guardian.

Meskipun AS mendominasi secara historis, data Radford University menunjukkan tren penurunan tajam jumlah pembunuh berantai aktif sejak puncaknya di tahun 1980-an. Para ahli sepakat bahwa kemajuan forensik modern dan kewaspadaan masyarakat telah mempersempit ruang gerak pelaku sebelum mereka mencapai jumlah korban yang besar.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatHeadlinekriminal ASpembunuh berantaiSerial Killerstatistik kriminologi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Jami’ di Meghalaya Diserang Massa, Sejumlah Orang Dilaporkan Terluka
Tulisan selanjutnya Profesor John Mearsheimer: Sejak 1971 Kebijakan Luar Negeri AS Sudah Membunuh 38 Juta Jiwa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

4 Juni 2026 08:06
Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

3 Juni 2026 16:00
Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

3 Juni 2026 13:30
Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

3 Juni 2026 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?