Hidayatullah.com– Profesor John Mearsheimer, pakar hubungan internasional kawakan dari University of Chicago, mengguncang jagat maya lewat pernyataan eksplosif yang menelanjangi wajah asli kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Dalam potongan video yang viral di media sosial TikTok dan X yang viral baru-baru ini, Mearsheimer secara gamblang menuding AS bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 38 juta orang dalam rentang tahun 1971 hingga 2021.
Mearsheimer tidak ragu menyebut bahwa AS telah menciptakan kekacauan luar biasa di Timur Tengah. Ia menilai dampak Perang Irak dan intervensi militer lainnya sebagai sebuah tragedi kemanusiaan yang sengaja diciptakan oleh ambisi hegemonik Washington.
Penggunaan Kekuatan Ekonomi sebagai Senjata
Dalam video yang beredar luas tersebut, Mearsheimer membongkar taktik kotor AS yang menggunakan kekuatan ekonomi sebagai senjata pemusnah massal. Ia menyoroti penderitaan rakyat di Venezuela, Kuba, dan Iran sebagai korban langsung dari ambisi politik AS.
“Kita menggunakan pengaruh ekonomi luar biasa untuk membuat rakyat kelaparan dan menderita, agar mereka bangkit melawan pemerintahnya sendiri. Itulah yang kita lakukan di Venezuela dan Iran,” tegasnya dengan nada getir.
Selain intervensi militer, dalam video viral tersebut Mearsheimer mengecam keras penggunaan sanksi ekonomi sebagai alat untuk menyengsarakan warga sipil demi tujuan politik di beberapa negara yang ia sebut.
Gugatan Terhadap Narasi “Negara Mulia”
Menurutnya, strategi ini sengaja dirancang untuk menimbulkan penderitaan massal. Ia menegaskan bahwa pola tindakan tersebut membuat klaim Amerika Serikat sebagai “negara yang mulia” (noble country) menjadi sulit untuk diterima secara moral.
“Melihat semua fakta itu, saya merasa sangat sulit untuk berbicara tentang Amerika Serikat sebagai negara yang mulia,” pungkasnya.
Pernyataan keras ini bukanlah yang pertama kali dilontarkan oleh sang profesor. Pada pertengahan tahun 2025, Mearsheimer juga menyampaikan kritik serupa yang dimuat oleh berbagai media internasional seperti Al Jazeera dan kanal diskusi geopolitik Judge Napolitano – Judging Freedom.
Kala itu, ia menekankan bahwa kegagalan diplomasi AS di Ukraina dan Timur Tengah merupakan hasil dari “delusi liberal” yang mengabaikan realitas kekuatan global.
Pada forum Budapest Global Dialogue 2025, ia juga sempat menyatakan bahwa “kebijakan luar negeri AS lebih banyak menciptakan kekacauan daripada perdamaian,” sebuah narasi yang kini kembali diperkuat melalui data 38 juta korban jiwa yang ia kutip dalam video viral terbaru ini. Pernyataan Mearsheimer ini terus memicu diskusi hangat di kalangan akademisi dan netizen, antara mereka yang mendukung pandangan realisnya dan mereka yang menganggap datanya terlalu provokatif.*




