Hidayatullah.com– Seorang pejabat senior Kurdistan Iraq mengatakan kepada AFP bahwa Amerika Serikat tidak mempersenjatai kelompok-kelompok oposisi Kurdistan Iran yang mengasingkan diri di wilayah otonomi itu, seraya menegaskan kembali bahwa Kurdistan Iraq menentang keterlibatan keterlibatan kelompok-kelompok itu dalam perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan tiba-tiba oleh AS-Israel atas Iran.
Presiden AS Donald Trump awalnya menunjukkan dukungan langkah ofensif yang dilakukan kelompok-kelompok Kurdi terhadap Iran, sebelum akhirnya menarik mundur dari sikapnya tersebut.
“Kami tidak melihat ada upaya oleh Amerika Serikat, cabang apapun dari Amerika Serikat, untuk mempersenjatai kelompok-kelompok oposisi Iran yang berada di Kurdistan,” kata Wakil Perdana Menteri Kurdistan, Qubad Talabani, dalam wawancara hari Kamis (26/3/2026) dengan AFP.
Menyinggung tentang diskusi-diskusi individual yang dilakukan oleh otoritas lokal dengan AS, Iran, atau kelompok-kelompok setempat, dia menegaskan bahwa “saat ini tidak ada rencana untuk menggunakan kelompok-kelompok tersebut di dalam wilayah Iran.”
Dia mengatakan Kurdistan Iraq sudah menegaskan dengan sangat jelas bahwa mereka tidak ingin terlibat di dalam peperangan tersebut.
“Kami tidak akan membiarkan serangan dilakukan dari sini, dan kami sudah menyatakannya dengan tegas dan jelas kepada semua pihak yang terlibat,” kata Talabani dari kantornya di Sulaimaniyah, kota utama kedua di wilayah otonomi Kurdistan Iraq.
Di masa lalu, Teheran menuding kelompok-kelompok oposisi yang mengasingkan diri di Kurdistan Iraq melancarkan serangan ke dalam wilayah Iran.Mitra dari Washington dan negara-negara Barat, Kurdistan Iraq sejak lama berusaha mempertahankan hubungan baik dengan negara tetangga Iran.
Namun stabilitas itu – berkat kesepakatan keamanan 2023 antara wilayah otonomi itu dengan pemerintah pusat Baghdad dan Iran – terusik dengan serentetan serangan beberapa waktu terakhir yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok oposisi Kurdi Iran.
Di awal konflik yang pecah sejak 28 Februari, Talabani mengatakan Teheran sudah meminta Kurdistan Iraq untuk melakukan apapun yang “kami bisa untuk melindungi perbatasan”.
“Kami merasa adalah kewajiban bagi kami untuk melindungi perbatasan itu,” kata Talabani, mengingat adanya hubungan bilateral di antara mereka.Wilayah otonomi Kurdistan Iraq mengalami serangan drone berkali-kali sejak pecah perang Timur Tengah, yang ditujukan ke gedung Konsulat Amerika Serikat di Erbil, ibu kota Kudistan, atau para penasihat militer AS yang ditugaskan mendampingi pasukan koalisi anti-ekstremis internasional.
Talabani mengecam serangan-serangan itu, menyalahkan apa yang disebutnya “milisi-milisi luar” yang beroperasi dari wilayah lain federal Iraq. Dia mengatakan sudah menyampaikan masalah tersebut ke pemerintah pusat Iraq di Baghdad.
“Sebagian dari kelompok-kelompok ini, sayangnya, memiliki anggota yang merupakan pegawai pemerintah federal,” kata Talabani.
Meskipun secara lahiriah merupakan bagian dari koalisi bekas paramiliter yang terintegrasi ke dalam angkatan darat formal, beberapa kelompok pro-Iran ini secara konsisten bertindak secara mandiri.
Baghdad berjanji akan menghentikan serangan-serangan itu, kata Talabani.
Namun kenyataan di lapangan, pemerintah federal Iraq relatif lemah menghadapi milisi-milisi pro-Iran tersebut – yang mengklaim sebagai pelaku dari serangan-serangan terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di Iraq dan di tempat lain di kawasan Timur Tengah.
Dampak dari perang saat ini, sekitar 90 persen pendapatan minyak Iraq hilang akibat blokade Selat Hormuz.Talabani mengatakan pemerintahnya tentu saja mendukung pemulihan produksi minyak.
“Namun pada saat yang sama, Kurdistan tidak memiliki pertahanan udara, kami tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan ladang-ladang minyak ini dari serangan yang dilancarkan oleh berbagai kelompok milisi berbeda,” katanya.
“Kami juga harus realistis bahwa, semoga saja tidak terjadi, jika salah satu ladang minyak ini diserang saat sedang beroperasi, dampaknya akan menimbulkan malapetaka.”*




