Hidayatullah.com– Dunia akademik Inggris beberapa waktu terakhir dihebohkan dengan sejumlah kebohongan Profesor berkulit hitam termuda Universitas Cambridge Jason Arday. Selain dituduh melakukan plagiat pada disertasi doktoral dan beberapa karya ilmiahnya, media juga mengungkap kebohongan dan kejanggalan sejumlah pencapaian yang diklaim Arday di luar tuduhan karya tulis ilmiah yang mengepungnya.
Jabatan dan pencapaian akademik
Arday mengklaim pernah memegang sejumlah posisi sebagai peneliti dan profesor tamu di sejumlah universitas lain.
Situs web Jesus College, di mana Arday berstatus sebagai peneliti, menyatakan bahwa dia pernah menjadi profesor tamu di Office of Diversity and Inclusion di Ohio State University dan di School of Education di University of Glasgow. Namun, kedua universitas itu membantahnya, lansir The Guardian Kamis (6/8/2026).
Biografinya juga menyatakan bahwa Arday masih berstatus “profesor kehormatan” di Fakultas Sosiologi Universitas Durham, tempatnya bekerja sebelum masuk Cambridge. Akan tetapi universitas itu mengatakan kepada Daily Mail bahwa Arday sudah tidak memiliki peran apapun di lembaga pendidikan tersebut.
Arday juga mengklaim telah menyelesaikan gelar master dalam praktik psikodinamik di Birkbeck, Universitas London, dan setelah itu menjadi konselor yang berkualifikasi penuh, pengalaman yang memberinya “pemahaman mendalam tentang kesehatan mental”.
Namun, ketika Guardian menghubungi Birkbeck, perguruan tinggi itu mengatakan bahwa mereka tidak menemukan catatan tentang seorang mahasiswa bernama Jason Arday yang pernah belajar di sana.
Arday mengklaim sudah menerbitkan sebuah buku berjudul “Being Young, Black and Male: Challenging the Dominant Discourse”, melalui Palgrave Macmillan. Namun, penerbit itu kemudian mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang pernah menerima proposal dari Arday, tetapi buku itu tidak pernah diterbitkan.
Olahraga
Di dalam bukunya, Arday mengklaim pernah mengikuti 30 maraton dalam 35 hari untuk mengumpulkan donasi. Pada tahun 2012, ketika Arday bertemu dengan bintang tenis Andy Murray, ia mengatakan kepadanya bahwa ia mengalami kejang epilepsi dan patah kaki saat mengikuti salah satu maraton itu. Terlepas dari insiden itu, Arday mengaku mengikuti sembilan maraton lagi untuk menyelesaikan tantangan.
Sejumlah dokter mengatakan kepada Guardian bahwa pari sembilan maraton dalam keadaan mengalami retak setipis rambut di bagian fibula akan terasa sangat sakit, meskipun masih mungkin untuk dilakukan.
Di dalam buku memoarnya yang akan segera terbit, Arday mengatakan dia menjalani maraton-maraton itu sambil mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit, dan menyelesaikannya meskipun dalam keadaan kaki kanan membengkak dua kali ukuran normal.
Di dalam sebuah wawancara tahun 2021 dia mengaku berendam air es untuk menghilangkan sakit di antara lari maraton yang diikutinya.
Di sejumlah acara publik Arday juga mengklaim pernah berlari sejauh 600 mil dalam waktu enam hari, sebuah pencapaian yang – jika itu benar adanya – akan menjadikannya sebagai salah satu pelari jarak jauh paling berbakat di dunia. Sebagai informasi, wanita pertama yang pernah meraih prestasi serupa, Megan Eckert, baru bisa mewujudkannya tahun lalu; sementara di kalangan pria rekornya tercatat 650 mil).
Pertanyaan juga bermunculan terkait klaim Arday pada tahun 2024 yang pernah mengaku bermain untuk klub sepakbola Crystal Palace saat belum berusia 18 tahun. Pada podcast Talking Matters dia mengaku bergabung dengan klub itu beberapa tahu sebelum bermain sepakbola semi-profesional selama 12 tahun.
Crystal Palace mengatakan bahwa mereka tidak memiliki catatan dari akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, tahun ketika Arday mengklaim terdaftar sebagai pemain mereka.
Kabarnya, Arday memang pernah bermain sepakbola di Southern Counties East Division One bersama Lewisham Borough , klub yang berada di posisi nyaris terbawah di piramida non-liga.
Kerja amal
Di dalam beberapa wawancara di media, Arday mengklaim berhasil mendulang £5 juta untuk badan-badan amal selama kurun 20 tahun (dalam beberapa wawancara angkanya berubah menjadi £5,5 juta).
Warganet yang mengkritisi klaim-klaimnya mengatakan bahwa angka itu teramat besar untuk seseorang yang tidak terkenal seperti Arday.
Ketika ditanya apakah angka £5 juta itu akurat, Arday mengatakan kepada Guardian bahwa uang tersebut dikumpulkan dengan bantuan “banyak kelompok penggalangan dana selama kurun dua dekade”.
Dia juga mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari sindikat yang beranggotakan 100 orang. Ketika diminta untuk menyebutkan orang lain yang ikut serta dalam penggalangan dana itu, Arday mengatakan bahwa dia menandatangani perjanjian kerahasiaan (NDA) sehingga tidak bisa mengungkapkan informasi tersebut.
Arday mengklaim pernah mengunjungi Amerika Selatan dan Afrika Barat bersama organisasi amal WaterAid yang bergerak di bidang pengadaan air bersih.
Menanggapi klaim itu, WaterAid mengatakan pihaknya tidak pernah mengirim sukarelawan ke luar negeri, dan tidak juga mendorong untuk melakukan atau memfasilitasi kunjungan swadana ke tempat-tempat yang rawan air.
Di buku memoarnya, Arday menyebut pernah pergi ke Brazil untuk membuat sumur, tetapi tidak menyebutkan nama WaterAid.
Didiagnosis sebagai autis, Arday mengaku tidak bicara sampai usianya 11 tahun dan baru belajar membaca dan menulis di usia 18 tahun, sebelum menjadi seorang profesor di Universitas Cambridge pada usia 37 tahun.*




