Hidayatullah.com—Gelombang demonstrasi besar melanda Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026), ketika ribuan aksi digelar serentak di seluruh 50 negara bagian dalam gerakan bertajuk “No Kings” yang menentang kebijakan Presiden Donald Trump.
The Guardian memperkirakan lebih dari 8 juta orang ikut serta di lebih dari tiga ribu aksi di seluruh dunia. Bahkan aksi ii disebut sebagai hari demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Amerika, kutip San Fransisco Chronicle.
Menurut Reuters, aksi berlangsung di berbagai kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington DC, serta meluas hingga komunitas kecil di seluruh negeri. “Kami tidak ingin hidup di bawah kepemimpinan yang bertindak seperti raja. Demokrasi harus dijaga,” ujar salah satu peserta aksi dalam laporan tersebut.
Sementara itu, The Washington Post mencatat jumlah aksi mencapai lebih dari 3.300 demonstrasi secara nasional.
Gerakan No Kings sendiri merupakan jaringan aksi protes yang muncul sejak 2025 sebagai respons terhadap kebijakan pemerintahan Trump yang dinilai kontroversial.
Aksi ini merupakan gelombang ketiga dari rangkaian demonstrasi yang sama, dengan jumlah peserta yang menurut penyelenggara dapat mencapai jutaan orang secara keseluruhan. Namun, jumlah pasti massa bervariasi antar wilayah dan sumber.
Banyak ilmuwan politik dan analis Barat membaca aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang mereka anggap kecenderungan otoritarian pemerintahan Donald Trump. Selain itu kekhawatiran atas isu seperti perang Iran, kebijakan imigrasi, dan hak sipil.
Para demonstran menyuarakan berbagai tuntutan, mulai dari penolakan terhadap konflik dengan Iran, kebijakan imigrasi yang dinilai represif, hingga meningkatnya biaya hidup di dalam negeri. \
Reuters melaporkan bahwa ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan langkah pemerintah menjadi pemicu utama meluasnya aksi di berbagai daerah.
Yang tak kalah menarik, Para demonstran “No Kings” berkumpul membentuk pesan bertuliskan “TRUMP HARUS PERGI SEKARANG!” di Ocean Beach, San Francisco, California.
Selain itu, isu domestik lain turut mencuat, seperti pemotongan anggaran riset kesehatan. The Guardian melaporkan bahwa ratusan hingga ribuan orang berkumpul di depan National Institutes of Health (NIH) di Maryland untuk memprotes rencana pemangkasan dana penelitian oleh pemerintah.
Demonstrasi juga berlangsung di berbagai wilayah konservatif, menunjukkan meluasnya ketidakpuasan publik lintas geografis dan politik. Sejumlah aksi diwarnai orasi, pertunjukan seni, serta seruan untuk mempertahankan demokrasi dan hak-hak sipil.
Sejumlah analis politik di Amerika Serikat menilai gelombang aksi ini mencerminkan akumulasi ketidakpuasan publik yang semakin meluas. Mengutip Reuters dan The Guardian, pengamat menilai tekanan ekonomi, kebijakan domestik, serta kebijakan luar negeri—termasuk keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran dan dukungan terhadap penjajah ‘Israel’—telah memperkuat sentimen anti-pemerintah dan memicu konsolidasi gerakan sipil dalam skala nasional.
Associated Press melaporkan bahwa kemarahan publik turut dipicu oleh kebijakan imigrasi yang kontroversial, termasuk serangkaian insiden penembakan oleh aparat federal dalam operasi imigrasi di Minnesota.
Pada Januari 2026, dua warga sipil tewas dalam operasi yang melibatkan agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Minneapolis, memicu protes luas setelah video kejadian beredar dan menimbulkan perdebatan soal penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat.
Meski demikian, pemerintah belum memberikan tanggapan resmi yang signifikan terhadap aksi serentak ini. Penyelenggara menegaskan bahwa demonstrasi dilakukan secara damai dan akan terus berlanjut sebagai bagian dari tekanan publik terhadap arah kebijakan nasional.
Slogan “No Kings” sendiri lahir dari tuduhan bahwa Trump telah bertindak seperti monarki dan melampaui batas kekuasaan eksekutif. Nama “No Kings” mencerminkan penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter, dengan penekanan bahwa Amerika Serikat tidak menganut sistem kekuasaan absolut.
Istilah “No Kings” berasal dari tradisi politik Amerika yang sudah sangat lama. Frasa ini berakar dari semangat Revolusi Amerika abad ke-18, ketika para kolonis menolak kekuasaan Raja Inggris. Semboyan seperti “no kings” (tidak ada raja) atau “no king but the law” (tidak ada raja selain hukum) digunakan untuk menegaskan bahwa Amerika dibangun sebagai republik—bukan monarki.*




