Hidayatullah.com– Prancis mendesak warganya untuk sesegera mungkin meninggalkan Mali, setelah terjadi serangan terkoordinasi oleh kelompok-kelompok separatis dan Muslim pada akhir pekan kemarin.
Dalam imbauan terbaru hari Rabu (29/4/2025), Prancis juga mendesak warganya tidak melakukan perjalanan ke negara di Afrika Barat tersebut, karena situasi di sana tidak dapat diprediksi.
“Warga negara Prancis disarankan untuk mengatur kepergian mereka dari Mali untuk sementara ini sesegera mungkin dengan menggunakan penerbangan komersial yang tersedia” kata Kementerian Luar Negeri Prancis.
Apabila masih belum dapat berangkat, mereka diminta untuk tetap tinggal di kediamannya, membatasi pergerakan di luar rumah dan mengikuti instruksi dari otoritas setempat, serta supaya terus memberikan kabar kepada keluarga dan kerabat masing-masing.
Sementara itu pemimpin junta militer Mali Jenderal Assimi Goïta mengatakan situasi di negaranya terkendali.
Berbicara di muka publik untuk pertam kalinya pada Selasa malam, dia mengatakan tentara memukul telak para pelaku serangan dan mengisyaratkan bahwa operasi militer memburu para perusuh masih terus berlangsung, lansir BBC.
Militer Mali dipimpin oleh Goïta merebut kekuasaan melalui kudeta pada 2020, dengan janji akn memulihkan keamanan negara dan membasmi kelompok-kelompok bersenjata.
Ketika melakukan kudeta junta mendapatkan dukungan rakyat, tetapi kelompok-kelompok bersenjata masih merajalela dan kerap melakukan serangan yang merenggut banyak nyawa rakyat sipil. Kelompok bersenjata Muslim masih menguasai sebagian besar wilayah di bagian utara dan bagian timur sebagian besar masih di luar kendali pasukan pemerintah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Prancis – bekas negara penjajah Mali – mengerahkan pasukan perdamaian guna membantu menjaga keamanan, dan pemerintah militer menyewa tentara bayaran asal Rusia untuk membantu mereka menghadapi kelompok bersenjata.
Inggris juga mengeluarkan peringatan dan imbauan serupa.
“Apabila Anda memilih untuk tetap berada di Mali, maka risikonya Anda tanggung sendiri. Anda harus memiliki rencana darurat dan tidak mengandalkan pemerintah Inggris,” imbuh Foreign Office.
Bandara Internasional Bamako saat ini masih buka, tetapi para pelancong diminta terus mengikuti perkembangan informasi kalau-kalau terjadi penundaan atau pembatalan penerbangan.*




