Hidayatullah.com– Jumlah pasien gangguan liver, ginjal dan saluran pencernaan disebabkan kebiasaan mengkonsumsi suplemen harian semakin bertambah, sementara media sosial mengajak orang untuk “meningkatkan” kesehatan dengan mengkonsumsi pil dan tepung suplemen.
Pakar gizi mengatakan tren itu “menggila”, bahkan sebagian percaya makan pil lebih baik dari makan makanan sungguhan” kata seorang ahli gizi kepada BBC. “Padahal tidak demikian.”
Ahli gastroenterologi Dr Pedro de Maria Pallares dari Hospital Universitario La Paz di Madrid mengatakan dia melihat semakin banyak gangguan liver yang disebabkan oleh suplemen herbal.
“Kami menanyakan pasien apakah mereka minum obat-obatan. ‘Tidak’, kata mereka … Kemudian mereka berkata: ‘Oh, Saya mengkonsumsi beberapa suplemen berbeda’.” Dia memperingatkan bahwa dosis tinggi vitamin A, glutamine, ashwagandha dan ekstrak teh hijau dapat menjadi racun bagi liver.
Risiko itu tergambar dari pengalaman Ginger Smith, 30, seorang influencer di Seattle yang rutin mempromosikan suplemen secara daring. Setelah mengkonsumsi pil dosis tinggi vitamin C, vitamin D, kunyit dan pil anti-kembung, dia mengalami batu ginjal berukuran 2-3 cm. Operasi pengangkatannya menelan biaya $6.000, meskipun sudah dengan asuransi.
“Saya tidak pernah menyangka bahwa upaya memperbaiki kesehatan yang saya lakukan, justru berakhir dalam keadaan yang begitu buruk,” katanya, seperti dilansir BBC Sabtu (20/6/2026).
Dr Karan Rajan, dokter bedah dan science communicator badan kesehatan Inggris NHS, mengatakan suplemen bisa sangat bermanfaat, tetapi setiap suplemen harus disikapi dengan skeptisisme sampai benar-benar terbukti berkhasiat.
Dia sendiri mengkonsumsi vitamin D, serat, dan kreatin dalam “kombinasi yang tepat sasaran” , tetapi memperingatkan bahwa mencampur berbagai suplemen dapat menyebabkan duplikasi yang berbahaya.
Prof Victoria Tzortziou Brown, presiden Royal College of GPs, mengatakan pasien kemungkinan mengkonsumsi suplemen dalam jumlah berlebihan atau yang dapat berinteraksi dengan obat-obat resep dokter. “Berlebihan belum tentu lebih baik,” ujarnya.
Ahli gizi Kristen Stavridis mendeak masyarakat untuk memprioritaskan makanan sesungguhnya daripada pil.
“Media sosial memperdaya mereka bahwa untuk sehat orang perlu mengkonsumsi suplemen-suplemen tersebut, padahal seringkali sebenarnya tidak demikian,” kata Stavridis.
Dia merekomendasikan vitamin D pada musim dingin dan zat besi dalam jangka waktu pendek bagi orang-orang yang mengalami defisiensi. Namun, dia memperingatkan sebaiknya masyarakat terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsi suplemen guna memperbaiki defisiensi.
Smith sekarang sudah berhenti mengkonsumsi “gado-gado pil suplemen” dan hanya meminum satu multivitamin.
“Lucunya, saya merasa sama berenergi dan sehatnya seperti saat saya mengonsumsi berbagai suplemen itu,” ujarnya.*




