Di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan disrupsi teknologi, Generasi Z menunjukkan kecenderungan baru untuk mencari makna dan stabilitas melalui agama.
Hidayatullah.com | TINJUAUN pendapat terkini menunjukkan adanya peningkatan kecenderungan terhadap agama di kalangan Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012. Fenomena ini memunculkan diskusi serius di kalangan akademisi, peneliti sosial, dan pemuka agama mengenai faktor pendorong serta arah perkembangan spiritual generasi muda tersebut.
Dr. Edward David, Felo Peneliti di Blackfriars Hall, University of Oxford, menilai bahwa peningkatan minat beragama pada Generasi Z tidak bisa dilepaskan dari tekanan sosial dan ekonomi yang mereka alami sejak masa remaja.
“Generasi ini mewarisi bagian paling sulit dalam struktur sosial dan ekonomi,” ujarnya dalam video yang dibagikan melalui Instagram, dikutip oleh The Times.
Menurutnya, dari sisi sosial, Generasi Z tumbuh dalam bayang-bayang pandemi COVID-19. Masa pembatasan sosial yang panjang terjadi justru ketika mereka berada pada fase krusial pembentukan identitas diri. “Secara sosial, mereka tumbuh dalam pandemi dan mengalami isolasi pada periode yang sangat penting dalam kehidupan mereka,” katanya kepada The Telegraph.
Dari sisi ekonomi, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Harga properti yang melambung membuat kepemilikan rumah semakin sulit dijangkau. Pasar kerja yang tidak stabil serta kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), turut menambah tekanan psikologis. “Di tengah pergolakan sosial ini, kaum muda mencari jawaban, dan agama dapat menyediakan sebagian dari jawaban tersebut,” tambahnya, seperti dilaporkan BBC News.
Temuan ini sejalan dengan survei terbaru dari Pew Research Center yang menunjukkan bahwa sebagian responden Generasi Z di Amerika Serikat melaporkan peningkatan frekuensi doa dan refleksi spiritual pascapandemi. Sementara itu, studi dari Barna Group pada 2023 menemukan bahwa 74 persen remaja Gen Z menyatakan mereka “cukup atau sangat tertarik” untuk mempelajari isu-isu spiritual, angka yang lebih tinggi dibanding generasi milenial pada usia yang sama satu dekade lalu.
Di Inggris, laporan dari Theos mencatat adanya peningkatan partisipasi ibadah di kalangan remaja, meskipun tidak merata di semua denominasi. Data demografis menunjukkan remaja Generasi Z lebih sering menghadiri layanan keagamaan dibanding kelompok dewasa awal dalam generasi yang sama.
Namun demikian, Dr. Edward mengingatkan agar fenomena ini tidak digeneralisasi. “Kita perlu mengakui bahwa terdapat banyak kisah berbeda dalam Generasi Z,” katanya kepada The Guardian. Sebagian anak muda kembali menghadiri gereja atau rumah ibadah, sementara sebagian lainnya tetap skeptis dan menyuarakan kekecewaan terhadap institusi keagamaan.
Para pengamat menilai bahwa yang terjadi bukan sekadar “kebangkitan agama” dalam arti tradisional, melainkan munculnya subkultur religius yang beragam. Generasi Z cenderung mengekspresikan spiritualitas secara lebih personal, fleksibel, dan sering kali terhubung dengan isu keadilan sosial, kesehatan mental, serta keberlanjutan lingkungan.
Meski tren menunjukkan peningkatan minat, Dr. Edward tetap berhati-hati dalam menarik kesimpulan jangka panjang. “Apakah ini pertanda kebangkitan umum religiositas di kalangan Generasi Z? Kita belum tahu. Waktu yang akan menjawabnya,” ujarnya kepada Financial Times.
Ia menggambarkan Generasi Z sebagai generasi yang tangguh dan kreatif, tetapi secara keagamaan masih berada dalam proses pencarian. “Secara religius, mereka adalah generasi yang sedang mengalami perubahan,” katanya.
Perkembangan ini dinilai signifikan dalam lanskap keagamaan global, terutama di tengah ketidakpastian politik, ekonomi, dan teknologi. Apakah peningkatan kecenderungan beragama ini akan bertahan atau sekadar fase transisi, satu hal yang jelas: Generasi Z tengah membentuk ulang cara agama dipahami, dijalankan, dan diintegrasikan ke dalam kehidupan modern.*




