Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 Juli 2026 09:05 9:05 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 Juli 2026 06:56
Bagikan
Uskup Alfonso de Galarreta yang dikucilkan mengangkat hosti selama Misa konsekrasi ilegal di Écône, Swiss (Sumber: Serikat Santo Pius X
Bagikan

Hidayatullah.com— Suasana khidmat di sebuah lereng bukit Pegunungan Alpen, Swiss, mendadak berubah menjadi babak baru dalam sejarah perpecahan Gereja Katolik. Hanya berselang 24 jam setelah kelompok ultrakonservatif Society of St. Pius X (SSPX) nekat melantik empat uskup baru tanpa izin, Vatikan langsung menjatuhkan sanksi terberat: ekskomunikasi atau pengucilan dari Gereja.

Vatikan dengan tegas menyatakan bahwa para uskup baru, pastor, serta umat awam yang sengaja mengikuti gerakan ini telah resmi melakukan skisma.

Skisma sendiri merupakan istilah dalam Gereja yang berarti perpecahan atau pemisahan diri secara sadar dari otoritas resmi Paus dan komunitas Gereja Katolik Roma.

Keputusan berani ini diumumkan langsung oleh Kardinal Víctor Manuel Fernández, Kepala Kantor Doktrin Vatikan, tepat saat misa luar ruangan yang dihadiri 6.000 umat awam sedang berlangsung.

“Para klerus dan umat awam diperingatkan untuk tidak ikut serta dalam skisma Priestly Fraternity of St. Pius X, karena tindakan tersebut secara otomatis akan menjatuhkan sanksi ekskomunikasi,” tegas Kardinal Fernández dalam pernyataan resminya.

Baca Juga

Iran Izinkan Sejumlah Kapal Tanker Iraq Melewati Selat Hormuz
Kuwait dan Amerika Sepakat Memperdalam Kerja Sama dan Integrasi Militer
Pendiri Raksasa Properti China Evergrande Dibui Seumur Hidup
Amerika Serikat Setujui Penjualan Pesawat Pengisi Bahan Bakar Bernilai $4,5 Miliar ke Qatar
Turki Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Benjamin Netanyahu

Dampak dari keputusan ini sangat fatal bagi operasional SSPX di seluruh dunia. Vatikan menyatakan bahwa seluruh sakramen yang dipimpin oleh 751 pastor SSPX kini berstatus tidak sah.

“Umat Allah diperingatkan bahwa para pelayan sakramen dari SSPX menjalankan tugasnya secara melawan hukum. Sakramen tobat (pengakuan dosa) dan pernikahan yang mereka resmikan dinyatakan tidak sah,” tulis nota resmi Vatikan.

Perlawanan dari Balik Pegunungan Alpen

Meskipun status mereka kini resmi dikucilkan oleh Roma, para pemimpin SSPX tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Sambil memegang tongkat gembalanya yang baru, Uskup Michael Goldade—salah satu uskup yang baru dilantik dan diekskomunikasi—justru menyerang balik arah gerak Vatikan saat ini.

“Jika Gereja Katolik dalam tradisinya membawa kehidupan, maka gereja modernis saat ini adalah sebuah padang pasir. Ia membunuh apa saja yang disentuhnya,” ujar Uskup Goldade tajam di hadapan ribuan umat. Ia juga meminta para keluarga yang hadir untuk “tetap setia pada lembaga yang kudus ini dan jangan pernah melepaskannya.”

Konsekuensi hukum dari Vatikan ini juga disadari betul oleh sebagian umat awam yang hadir di lokasi. Marc-Andre Mabillard, seorang pengikut awam yang ikut membantu mengorganisasi acara tersebut, mengonfirmasi posisi mereka saat ini.

“Umat awam SSPX harus menyurati uskup mereka dan tidak lagi datang ke tempat doa kami jika ingin aman. Tapi jika mereka tidak melakukan dua hal itu, mereka pasti diekskomunikasi. Hari ini, saya resmi diekskomunikasi,” kata Mabillard pasrah namun teguh.

Umat Awam Mengaku Tidak Gentar

Menariknya, ancaman sanksi tertinggi dari Paus tidak menyiutkan nyali para pengikut setia kelompok ini. Bagi mereka, mempertahankan misa tradisi kuno (Misa Latin) jauh lebih penting ketimbang urusan birokrasi Roma.

Lillian Riddell (20 tahun), umat asal Ontario, Kanada, yang sudah beribadah di kapel SSPX sejak usia 7 tahun, mengaku sanksi pemecatan ini tidak akan mengubah hidupnya.

“Saya akan tetap melanjutkan cara hidup saya. Saya mencintai SSPX, saya pikir apa yang mereka lakukan sangat luar biasa bagi seluruh umat Katolik,” ungkap Riddell.

Hal senada disampaikan oleh Ana Sofía Ribera Sánchez, perempuan asal Meksiko yang datang langsung ke Swiss karena saudara laki-lakinya adalah seorang pastor SSPX. Ia melihat situasi ini sebagai bentuk ujian iman di tengah tekanan.

“Sangat sulit ketika Anda diberi tahu bahwa Anda salah, terutama ketika ucapan itu datang dari seorang Paus. Namun saya pikir itulah perjuangan yang harus dihadapi semua umat Katolik, karena kita membela kebenaran,” kata Sánchez sambil tersenyum lebar. “Saya berada di tempat di mana pemikiran saya sejalan. Tidak ada yang bisa menggeser saya dari sini.”

Kini, bola panas ada di tangan para uskup di seluruh dunia. Vatikan telah memerintahkan para duta besarnya untuk memandu keuskupan lokal dalam menangani para pengikut SSPX di wilayah mereka masing-masing.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gereja katolikHeadlineskismaSociety of St. Pius XSSPXuskupvatikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
Tulisan selanjutnya Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

pengungsi rohingya
Berita

Nasib Pengungsi Rohingya, Mau Pulang Harus Minta Izin Pemerintah Myanmar

Berita
18 Agustus 2026 05:00
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Aparat Keamanan Pakistan Tewaskan 49 Militan
Kantor Perdana Menteri Pemerintah Kurdistan Diserang Drone
19 Kota di Dunia Gelar Aksi Demo, Desak Blokade Gaza Segera Dibuka

Terbaru

  • Iran Izinkan Sejumlah Kapal Tanker Iraq Melewati Selat Hormuz
  • Kuwait dan Amerika Sepakat Memperdalam Kerja Sama dan Integrasi Militer
  • Pendiri Raksasa Properti China Evergrande Dibui Seumur Hidup
  • Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
  • Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
  • Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
  • Amerika Serikat Setujui Penjualan Pesawat Pengisi Bahan Bakar Bernilai $4,5 Miliar ke Qatar
  • Turki Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Benjamin Netanyahu
  • Aparat Keamanan Pakistan Tewaskan 49 Militan
  • Nurul Hidayati K: BMIWI Dorong Sikap Proporsional Hadapi Fenomena Homoseksual

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Nurul Hidayati K: BMIWI Dorong Sikap Proporsional Hadapi Fenomena Homoseksual

21 Agustus 2026 21:00
Berita

Roberto Carlos Bantah Jadi Mualaf, tapi Akui sedang Mempelajari Islam

21 Agustus 2026 17:14
Advertorial

Sentuhan AI vs ‘Rasa’ Manusia: Mengapa Fotografer Profesional Kurang Menyarankan AI Generated Image?

21 Agustus 2026 16:35
Berita

Al Muzzammil Yusuf: Perjuangan Kemerdekaan Palestina Butuh Kerja Bersama Dunia Internasional

21 Agustus 2026 12:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?