Hidayatullah.com — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengutip ayat-ayat Alkitab dan menyerukan perang terhadap “kaum Islamis” dalam pidatonya di hadapan sekitar 600 perwira dan personel militer di Pangkalan Korps Marinir AS, Quantico, Virginia, Rabu (30/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Hegseth dalam pidato tahunan bertajuk State of the Force atau “Kondisi Angkatan Bersenjata”. Di bagian penutup, ia mengutip Kitab Yesaya pasal 6 ayat 8 untuk menggambarkan kesiapan militer AS menghadapi musuh-musuhnya.
“Utuslah aku untuk melawan pasukan Inggris. Utuslah aku untuk melawan kaum Komunis. Utuslah aku untuk melawan kaum Islamis. Utuslah aku,” kata Hegseth, sebagaimana dikutip laman www.war.gov, sumber resmi Departemen Perang AS.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Hegseth menggunakan rujukan kitab suci Kristen dalam konteks seruan perang, dengan “kaum Islamis” disebut sejajar dengan pasukan Inggris dan kaum Komunis sebagai pihak yang harus dihadapi militer AS.
Al Jazeera dalam pemberitaannya menyoroti pernyataan tersebut sebagai bagian dari pidato keagamaan Hegseth yang memicu kontroversi. Media itu juga melaporkan munculnya reaksi keras di media sosial berbahasa Arab terhadap penggunaan bahasa keagamaan dalam retorika militer Amerika Serikat.
Dalam pidatonya, Hegseth juga menyampaikan pernyataan yang menghubungkan peperangan fisik dengan pertarungan spiritual. “Kita sedang mengenakan seluruh perlengkapan senjata Tuhan. Sebab, ketika kita melancarkan perang fisik, kita semua tahu bahwa pertempuran yang sesungguhnya bersifat spiritual,” ujarnya dikutip Religion News Service.
Ia melanjutkan, “Tuhan itu baik. Kejahatan itu tidak. Militer Amerika harus memahami perbedaannya.” Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian pidato yang menempatkan keyakinan Kristen sebagai salah satu landasan moral bagi prajurit Amerika.
Hegseth mengatakan kurang dari lima persen personel militer AS mengidentifikasi diri sebagai tidak beragama. Berdasarkan angka yang ia sampaikan, ia menyebut pemerintah memiliki kewajiban untuk menyediakan dukungan keagamaan yang memadai bagi para prajurit di berbagai lokasi penugasan.
“Departemen kami memiliki kewajiban suci untuk menyediakan dukungan keagamaan kelas satu, di mana pun kami mengirimkan para prajurit,” kata Hegseth.
Retorika Pete Hegseth memicu kecaman luas. Advokasi hak sipil Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR) memperingatkan bahwa retorika perang keagamaan yang mengasingkan kaum “Islamis” tersebut “memecah belah kesatuan prajurit, mengasingkan anggota militer Muslim dan minoritas agama lainnya, serta merusak prinsip dasar keberagaman dalam angkatan bersenjata”.*




