Hidayatullah.com– Korea Utara akan meningkatan kekuatan nuklirnya baik dalam kuantitas maupun kualitas, serta memperluas peran dinas intelijen militernya yang fokus memantau Korea Selatan, lapor media hari Jumat (10/7/2026).
Isu tersebut dibahas selama pertemuan komisi militer partai berkuasa yang digelar pada hari Kamis (9/7/2026), menurut kantor berita resmi Pyongyang Korean Central News Agency (KCNA) seperti dilansir AFP.
Rapat itu juga mendorong untuk dilakukannya perluasan fungsi dan misi General Reconnaissance and Intelligence Bureau, dinas intelijen militer Pyongyang yang diberi tugas melakukan operasi berkaitan dengan Korea Selatan.
Unit itu berperan penting dalam mengontrol ancaman potensial dari para musuh dan untuk mengumpulkan informasi intelijen, lapor KCNA.
Hong Ming, seorang peneliti senior di Korea Institute for National Unification, mengatakan bahwa langkah terbaru Korea Utara ini menunjukkan perubahan sikap Pyongyang dalam menyikapi isu dua Korea. Sekarang Pyongyang menganggap Seoul sebagai musuh, tidak lagi sebagai saudara bertetangga meskipun ada ketegangan di antara mereka.
“Aktivitas intelijen yang menarget negara berdaulat lain bisa menimbulkan implikasi diplomatik,” kata Hong kepada AFP.
Sejak Perang Korea berakhir pada1953, Korea Utara melancarkan beragam operasi spionase mulai dari sekedar mengumpulkan informasi sampai pembunuhan, termasuk pembunuhan defektor Lee Han-young pada 1997.
Salah satu mata-mata Korea Utara yang terkenal adalah Jeong Su-il, yang menyusup ke Korea Selatan pada 1984 dengan menyamar sebagai Muhammed Kansu, seorang akademisi keturunan Filipina Libanon. Setelah penyamarannya terbongkar, dia menjalani hukuman penjara di Korea Selatan dan kemudian menjadi pakar sejarah yang fokus mengkaji Jalur Sutra dan sejarah Asia Barat.*




