Hidayatullah.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menilai Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII menjadi momentum strategis untuk memperkuat persatuan umat Islam sekaligus mendukung berbagai agenda pembangunan nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti usai berdialog dalam sesi bertajuk Kebijakan dan Tantangan Implementasi Pendidikan Dasar dan Menengah Menyongsong Indonesia Emas 2045 pada KUII VIII, Ahad (26/7/2026). Menurutnya, forum yang mempertemukan berbagai organisasi Islam di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki peran penting dalam memperkuat komitmen umat terhadap persatuan bangsa dan semangat patriotisme.
“Yang paling penting sesungguhnya adalah menjaga persatuan agar tantangan yang dihadapi bangsa saat ini dapat diatasi bersama. Situasi geopolitik dunia yang penuh dinamika dan ketidakpastian berdampak pada ketahanan pangan, ketahanan energi, hingga stabilitas ekonomi nasional,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, umat Islam perlu menjaga kekompakan dan tidak terjebak dalam perbedaan yang dapat melemahkan kohesi sosial. Menurutnya, semangat persatuan menjadi modal utama dalam mendukung berbagai program strategis pemerintah demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Abdul Mu’ti menyebut penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai agenda nasional yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk umat Islam. Ia menilai lembaga pendidikan yang dikelola para ulama, kiai, dan organisasi Islam memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Selain sektor pendidikan, Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya pengembangan ekonomi syariah sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Menurutnya, penguatan sektor tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto melalui pengembangan perbankan syariah, lembaga keuangan syariah, serta industri halal.
“Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Potensi halal harus terus didorong agar menjadi salah satu keunggulan bangsa dan menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen KUII VIII dalam menolak praktik korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral maupun hukum yang berlaku di Indonesia.
Ia menilai pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga harus dibarengi dengan pembangunan budaya antikorupsi dan penerapan sistem pemerintahan yang menjunjung tinggi prinsip meritokrasi.
Sementara itu, terkait penyalahgunaan narkoba, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa persoalan tersebut merupakan ancaman serius bagi masa depan bangsa. Karena itu, menurutnya, diperlukan langkah terpadu melalui penegakan hukum yang tegas serta penguatan pendidikan karakter di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Abdul Mu’ti berharap semangat yang dibangun melalui KUII VIII dapat semakin memperkokoh persatuan umat Islam sekaligus mendorong kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, pengembangan ekonomi syariah, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.*




