Hidayatullah.com—Keluarga bukan sekadar ikatan laki-laki dan perempuan, tetapi fondasi lahirnya generasi yang kuat iman, ilmu, akhlak, dan ketahanan hidup. Di tengah maraknya perceraian, fenomena marriage is scary, serta pengaruh media sosial, keluarga harus dibangun dengan semangat saling menjaga, bukan saling mencurigai. Dari keluarga yang demikian lahir durriyah thayyibah yang mampu menjaga agama dan peradaban.
“Keinginan-keinginan dan cita-cita yang luhur itu tentu saja tidak dihasilkan dari ruang hampa. Ada ikhtiar, ada tirakat, ada usaha lahir batin yang dilakukan sedemikian rupa untuk sampai kepada misi durriyah thayyibah,” kata peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Henri Shalahuddin, dalam INSISTS Camp 2026 Batch 3 di Cisarua, Bogor, Ahad (26/7/2026).
Ia mengingatkan Al-Qur’an telah memperingatkan kaum beriman agar tidak meninggalkan dzurriyatan dhi’afa, yakni generasi yang lemah, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga iman, ilmu, semangat, dan cita-cita.
“Dalam umat Islam itu, orang beriman takut kalau dia menelurkan generasi yang lemah. Lemah imannya, lemah himahnya, lemah ambisinya, lemah motivasinya, lemah ekonominya, lemah ilmunya,” katanya.
Menurutnya, keluarga merupakan kendaraan menuju akhirat. Ancaman terhadap rumah tangga bukan hanya hadirnya orang ketiga, melainkan segala hal yang mengikis arah hidup keluarga menuju kebaikan.
“Kalau terjadi sesuatu dalam rumah tangga yang mengikis peta jalan hidupnya, itu yang harus dicurigai. Karena keluarga adalah kendaraan menuju akhirat. Makanya kita harus aktif menuju kebaikan,” tuturnya.
Semangat saling menjaga diwujudkan dengan memperbanyak amal saleh. Ia mengibaratkan air panas yang akan mendingin bila dibiarkan. Demikian pula manusia, jika tidak disibukkan dengan kebaikan, akan mudah terseret kepada keburukan.
“Yang penting saya baik saja, yang penting saya tidak ganggu orang. Tidak bisa begitu. Amar ma’ruf nahi munkar itu harus dilakukan,” tegasnya.
Ia juga mengkritik kesungguhan pelaku kemaksiatan yang sering lebih profesional dibanding keseriusan umat Islam mengerjakan proyek kebaikan.
“Masuk neraka itu mahal tiketnya. Orang membuka kasino itu profesional. Sementara proyek-proyek kebaikan sering dikerjakan asal-asalan,” ujarnya.
Membangun Generasi Kuat Dimulai dari Keluarga
Membangun keluarga yang melahirkan generasi tangguh memerlukan pengorbanan. Setiap fase kehidupan memiliki amanah berbeda. Ada masa seseorang memiliki tenaga dan harta, tetapi tidak punya waktu. Ada pula yang memiliki waktu, tetapi tenaganya berkurang.
“Pebisnis sukses kuat tenaganya, banyak duitnya, tapi tidak punya waktu. Pensiunan punya waktu dan duit, tetapi tenaganya berkurang. Mahasiswa punya waktu dan tenaga, tetapi tidak punya duit,” paparnya.
Karena itu, generasi muda didorong memanfaatkan masa produktif untuk menuntut ilmu sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Setelah menikah, orientasi hidup bergeser dari kepentingan diri sendiri menjadi tanggung jawab terhadap pasangan dan anak.
“Dulu mau ke perpustakaan sampai malam tidak ada yang bertanya. Setelah menikah, ‘Mas, kapan pulang?’ Ada yang menunggu kita di rumah,” katanya.
Ia juga mengkritik paradigma yang menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Menurutnya, ulama terdahulu memandang kekayaan sebagai sarana menuntut ilmu dan membangun peradaban.
“Paradigma modern fokusnya mencari duit untuk diakumulasi. Padahal paradigma ulama klasik berbeda. Harta adalah bahan bakar untuk menerangi jalan ilmu,” ujarnya.
Sebagai ilustrasi, ia mengisahkan seorang ayah yang mewariskan 100 ribu dirham kepada putranya dengan syarat menguasai 100 ribu hadis terlebih dahulu. Ia juga mengutip kisah Imam Ahmad bin Hanbal saat menjalani mihnah. Seorang penuntut ilmu dari Andalusia bahkan rela menyamar sebagai pengemis agar tetap dapat belajar kepada sang imam.
“Dari Andalus ke Baghdad hanya untuk belajar. Dia menyamar menjadi pengemis supaya tetap bisa menimba ilmu kepada Imam Ahmad,” tuturnya.
Pernikahan sebagai Jalan Peradaban, Bukan Sekadar Ikatan
Menurut Henri, pernikahan merupakan awal membangun peradaban melalui keluarga. Rasa takut menikah yang banyak muncul di kalangan generasi muda dinilai bertentangan dengan fitrah manusia. Rumah tangga menjadi ruang bagi suami istri untuk bertumbuh dan memikul amanah bersama.
“Mengkhawatirkan menikah itu aneh. Esensi menikah adalah berpindah dari kebebasan sendiri menuju kedamaian bersama,” ujarnya.
Mengutip buku Conscious Family, ia mengatakan hidup melajang terlalu lama berpotensi membuat seseorang larut dalam egoisme. Sebaliknya, pernikahan mengajarkan perubahan orientasi dari “aku” menjadi “kita”.
“Menikah bukan lagi tentang ‘aku’, tetapi ‘kita’. Dari menghadapi kehidupan sendirian menjadi menghadapi kehidupan dengan kekuatan bersama,” tuturnya.
Ia mengaitkan konsep tersebut dengan firman Allah, hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna. Menurutnya, ayat ini merangkum hubungan suami istri sebagai dua pribadi yang saling melindungi dan menutupi kekurangan.
“Permasalahan rumah tangga yang begitu rumit diselesaikan Al-Qur’an hanya dengan enam kata. ‘Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka’,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan anak sebagai proyek ambisi pribadi.
“Anak itu bukan proyek orang tua. Mau jadi apa pun, yang penting waladun shalih,” pesannya.
Di tengah anggapan menikah harus menunggu mapan, ia berpandangan kedewasaan justru ditempa melalui kehidupan rumah tangga.
“Semua yang menikah dimulai dari belum matang. Yang penting bukan sudah sempurna, tetapi punya kemauan untuk bertumbuh bersama,” ujarnya.
Pandangan serupa berlaku terhadap rezeki. Menurutnya, banyak anak muda terlalu khawatir pada persoalan ekonomi.
“Saya pernah ditanya, waktu menikah sudah kerja belum? Saya jawab belum. Padahal menikah itu juga kerja, bahkan tanggung jawabnya jauh lebih besar,” ujarnya.
“Allah tidak mungkin memberi umur tanpa memberi rezeki. Yang perlu dibangun adalah kesiapan menjalani amanah rumah tangga,” tutupnya.
Racun Medsos dan Fenomena Takut Menikah
Henri menilai derasnya informasi digital membuat ketakutan terhadap pernikahan semakin mudah tumbuh. Berita perselingkuhan, KDRT, dan perceraian membentuk persepsi bahwa pernikahan identik dengan penderitaan. Padahal, keretakan rumah tangga lebih sering dipicu lemahnya fondasi keluarga dan buruknya komunikasi.
“Ada yang kekurangan, tapi bukan karena itu dia bercerai. Masa ada orang bilang, ‘Pak, uang beli ikan tidak ada, kita cerai.’ Tidak ada begitu. Permasalahannya yang pertama adalah pertengkaran,” ujarnya.
Menurutnya, pertengkaran merupakan hal wajar. Yang membedakan keluarga yang bertahan ialah kemampuan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
“Banyak keluarga bertengkar, tapi tidak bercerai. Kenapa? Karena fondasinya kuat,” katanya.
Ia mengingatkan agar persoalan rumah tangga tidak diumbar kepada orang lain, terlebih melalui media sosial.
“Baru merasakan ketidakcocokan, marah, langsung pasang status. Ngadu ke tetangga, telepon orang tua. Dia menyediakan dirinya untuk diintervensi orang,” tuturnya.
Karena itu, pasangan yang telah menikah didorong belajar mandiri menyelesaikan persoalan rumah tangga.
“Kalau sudah menikah, tidak usah kumpul sama orang tua lagi. Ada keadaan yang membuat kita harus bersama, tetapi mudaratnya sering lebih besar karena rumah tangga mudah diintervensi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti algoritma media sosial yang terus menyajikan konten negatif tentang rumah tangga.
“Kenapa orang takut menikah? Karena informasi terlalu banyak. Beritanya perselingkuhan, KDRT, perceraian. Akhirnya muncul anggapan marriage is scary,” katanya.
Sebagai ilustrasi, ia mengisahkan pengalamannya saat tinggal di Melbourne, Australia. Di sana, tidak sedikit pasangan memilih hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Ketika hubungan berakhir, anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak.
“Yang penting suka sama suka, lalu hidup bersama. Ketika berganti pasangan, anak yang menanggung akibatnya,” tuturnya.
Menurutnya, pendidikan keluarga juga dibangun melalui kebiasaan sederhana yang menanamkan tanggung jawab sejak dini.
“Kenapa lampu masih menyala, sudah jam sembilan pagi? Itu harus dilatih sejak kecil. Tanggung jawab tidak muncul begitu saja ketika dewasa,” ujarnya.
Menjelang akhir ceramah, Henri mengingatkan agar suami dan istri menjaga kehormatan pasangannya dengan tidak membuka aib rumah tangga kepada orang lain.
“Allah sudah menutup aib kita, jangan kita buka sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna. Rumah tangga dibangun dengan saling menjaga, bukan saling membuka kekurangan pasangan,” pesannya.
Kegiatan INSISTS Camp 2026 Batch 3 yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 menghadirkan rangkaian sesi spiritual, intelektual, dan diskusi interaktif bersama Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Prof. Dr. Syamsuddin Arif, Assoc. Prof. Dr. Ugi Suharto, Dr. Nirwan Syafrin Manurung, Dr. Akmal Sjafril, dan Arif Afandi Zarkasyi, M.A. *




