Hidayatullah.com— Bentrokan terjadi di kota Karbala, Iraq, saat perayaan Arbain hari Senin 3 Agustus antara pendukung rezim Iran dan pengikut tokoh ajaran Syiah ternama Sadiq al-Shirazi.
Dilansir Al Arabiya Kamis (6/8/2026), berbagai laporan media menyebutkan aksi kekerasan itu mengakibatkan 54 orang terluka dan sekitar 140 orang lainnya ditangkap, meskipun angka-angka tersebut belum diverifikasi secara independen.
Rekamaman video yang ditayangkan kanal televisi Iraq Shaaer, yang berafiliasi dengan kantor Sadiq al-Shirazi, menunjukkan sekelompok orang berkerumun di luar kantornya di Karbala sambil membawa potret Ayatullah Ali Khamenei dan penggantinya Mojtaba Khamenei. Para pengunjuk rasa itu mengibarkan spanduk bertuliskan slogan-slogan keagamaan dan politik, serta meneriakkan protes terhadap al-Shirazi, yang dikenal sebagai pengkritik sistem Wilayat al-Faqih yang dipegang rezim Iran.
Shaaer mengatakan teriakan-teriakan kelompok pro- Teheran itu menyulut pertengkaran dengan pengikut al-Shirazi. Polisi Iraq awalnya turun tangan untuk memisahkan kedua kubu, tetapi kerusuhan kemudian menyebar ke daerah lain di kota tersebut, sehingga memaksa aparat keamanan untuk menggunakan kekuatannya guna menertibkan keadaan.
Berbagai kabar yang beredar di media sosial – yang belum dipastikan kebenarannya – juga mengklaim bahwa Hossein Sotoudeh, yang dikenal dekat dengan institusi-institusi keagamaan yang disokong negara Iran, ambil bagian dalam kerumunan itu dan berusaha mengubah acara keagamaan itu menjadi demonstrasi politik.
Dilahirkan di Karbala pada tahun 1941, Sadiq al-Shirazi merupakan salah satu tokoh Syiah maraji yang ternama. Dia berasal dari klan keluarga ulama Syiah yang disegani, al-Shirazi, yang akarnya bisa ditelusuri hingga ke kota Shiraz di selatan Iran. Keluarga itu dikenal memiliki madrasah-madrasah Syiah terkemuka baik di Iraq maupun di Iran.
Sadiq al-Shirazi berpindah tempat tinggal ke kota Qom, Iran, setelah presiden Iraq kala itu Saddam Hussein meningkatkan tekanan terhadap warga Iran yang tinggal di Iraq.
Sejak itu al-Shirazi membangun jaringan keagamaan dan media yang signifikan melalui berbagai institusi dan saluran televisi satelit yang berafiliasi dengan gerakannya.
Berbeda dengan rezim Iran, al-Shirazi menolak doktrin absolut Wilayat al-Faqih, yang memberikan wewenang politik sangat luas kepada pemimpin tertinggi Iran.
Sementara sistem politik Teheran dibangun di atas prinsip bahwa seorang ulama senior Syiah harus memegang kekuasaan politik tertinggi, al-Shirazi berpendapat bahwa otoritas keagamaan tidak serta merta memberikan kekuasaan politik tertinggi kepada seorang ulama senior.
Dia juga menganjurkan agar otoritas keagamaan dan madrasah Syiah tetap independen dari negara.
Dia juga mengkritik kebijakan suksesi kepemimpinan Iran, khususnya mendiang pemimpin tertinggi Ali Khamenei, serta kebijakan-kebijakan regional Iran.
Beberapa pandangan keagamaan dan sosialnya juga terbukti kontroversial, termasuk dukungannya terhadap tatbir – ritual pencambukan diri selama upacara berkabung Syiah – yang ditentang oleh banyak ulama dan intelektual Syiah.
Media dan berbagai institusi yang dekat dengan rezim Iran kerap menyebut gerakan al-Shirazi sebagai “Syiah Inggris,” menuduh gerakan tersebut menerima dukungan asing atau melayani agenda yang memusuhi Iran.
Para pengikut al-Shirazi tentu menolak sebutan itu, mengatakan hal tersebut merupakan bagian dari kampanye agama dan politik melawan mereka. Mereka berpendapat bahwa perselisihan mereka dengan Teheran berakar pada perbedaan yurisprudensi dan politik mengenai konsentrasi otoritas keagamaan dan politik pada satu lembaga tunggal, bukan pada perbedaan pendapat mengenai dasar-dasar ajaran Syiah.
Sejumlah pengamat mengatakan bentrokan di Karbala menggarisbawahi bagaimana perseteruan panjang antara gerakan al-Shirazi dan rezim Iran sudah meluas ke luar Iran ke lingkungan Syiah Iraq, di mana faksi-faksi yang bersaing memperebutkan pengaruh selama acara-acara besar keagamaan, terutama ziarah tahunan Arbain, yang menarik kedatangan jutaan pengikut Syiah dari Iraq dan seluruh belahan dunia.*




