Hidayatullah.com – Sembilan belas kota di seluruh dunia akan menggelar aksi demonstrasi solidaritas Palestina secara serentak pada Rabu besok, bertepatan dengan Hari Kemanusiaan Sedunia pada 19 Agustus.
Menuntut masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang sedang dikepung dan diblokade oleh ‘Israel’ akan menjadi tuntutan utama aksi demonstrasi besar-besaran tersebut.
Melansir Palestinian Information Center pada Selasa (18/08/2026), koordinator aksi, Osman Nuri Kabaktepe, mengatakan bahwa aksi yang digelar di 19 kota itu bertujuan untuk menyuarakan tuntutan akan jaminan akses terhadap makanan, obat-obatan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan bagi penduduk Gaza.
Di Turki, demo akan digelar di Alun-alun Üsküdar, Istanbul pada pukul 18.30, jelasnya.
Kabaktepe menyatakan bahwa dunia sedang menyaksikan kondisi kekurangan kebutuhan dasar warga sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya, seraya menegaskan bahwa akses terhadap makanan, obat-obatan, tempat tinggal, dan layanan kesehatan merupakan hak asasi manusia yang mendasar, bukan sekadar bentuk kemurahan hati.
Ia mencatat bahwa puluhan ribu warga sipil telah kehilangan nyawa di Gaza, sementara anak-anak, pasien, perempuan, dan kelompok paling rentan menghadapi kesulitan yang semakin besar dalam mengakses makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Menurut Kabaktepe, entitas penjajahan ‘Israel’ telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada 10 Oktober 2025, yang menetapkan masuknya 600 truk bantuan ke Jalur Gaza setiap harinya.
Ia mengatakan laporan dari organisasi internasional menunjukkan bahwa hanya 100 hingga 200 truk yang masuk setiap hari dari jumlah yang disepakati, sehingga semakin memperparah kekurangan pasokan makanan, air, obat-obatan, dan tempat berlindung di seluruh wilayah Jalur Gaza.
Kabaktepe menyerukan kepada warga, organisasi, dan institusi di Istanbul untuk berpartisipasi dalam aksi mobilisasi pada hari Rabu; ia menyebutkan bahwa kegiatan ini akan berlangsung di 19 negara bersamaan dengan kampanye media sosial yang bertujuan meningkatkan tekanan publik agar hambatan yang mencegah masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dapat disingkirkan.
Ia menegaskan bahwa upaya mobilisasi akan terus berlanjut dalam beberapa hari dan minggu mendatang guna mendesak pembukaan jalur bantuan kemanusiaan dan memungkinkan warga sipil di Gaza mendapatkan kebutuhan pokok mereka.
Pada 9 Agustus, Euro-Med Human Rights Monitor memperingatkan bahwa pihak pendudukan ‘Israel’ secara sengaja melumpuhkan sistem transportasi dan angkutan barang di Gaza dengan menghancurkan truk dan gudang, menargetkan pengemudi, serta mencegah masuknya truk pengganti dan suku cadang.
Organisasi tersebut mengutip pernyataan Nahed Sheheiber, kepala Asosiasi Transportasi Swasta Gaza, yang menyebutkan bahwa hanya sekitar 25% dari armada 1.200 truk di Gaza yang selamat dari pemboman Israel.
Serangan-serangan tersebut juga telah membunuh lebih dari 20 pengemudi—termasuk empat orang sejak gencatan senjata Oktober 2025 dimulai—dan menyebabkan penahanan terhadap 15 pengemudi lainnya, yang beberapa di antaranya masih ditahan selama hampir dua tahun.
Demonstrasi ini berlangsung di tengah memburuknya bencana kemanusiaan di Jalur Gaza. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa pihak pendudukan Israel telah menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil selama perang genosida Israel yang telah berlangsung sejak 8 Oktober 2023.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dibutukan sekitar 70 miliar dolar AS untuk membangun kembali Gaza. Berdasarkan angka-angka yang dikutip, perang genosida ‘Israel’ telah membunuh lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 orang—yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak—di tengah pembatasan bantuan kemanusiaan yang terus berlanjut dan kebutuhan yang semakin mendesak di seluruh Jalur Gaza.*




