Hidayatullah.com – Ketua Umum terpilih Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) periode 2026–2030, Fadlurrahman, menegaskan komitmennya menjadikan APHIDA sebagai lokomotif kemajuan ekonomi umat sekaligus instrumen untuk memperkuat kemandirian jamaah dan menopang keberlanjutan dakwah.
Hal tersebut disampaikan Fadlurrahman dalam sambutannya setelah terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) APHIDA 2026 yang digelar di Gedung Pusat DPP Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak 1/14 Polonia, Jakarta Timur, Senin (31/8/2026).
Fadlurrahman mengatakan, amanah sebagai Ketua Umum APHIDA periode 2026–2030 bukan sekadar tanggung jawab organisasi, tetapi juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
“Terima kasih atas amanah dan kepercayaan yang diberikan kepada saya hari ini. Ini merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan organisasi dan jamaah, tetapi terutama di hadapan Allah SWT,” ujar Fadlurrahman dalam sambutannya di Aula DPP Hidayatullah.
Menurutnya, APHIDA tidak boleh berhenti sebagai wadah berkumpulnya para pengusaha Hidayatullah. Organisasi tersebut harus mampu mengonsolidasikan potensi ekonomi jamaah dan mengarahkannya menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
“APHIDA lahir bukan sekadar sebagai wadah berkumpulnya para pelaku usaha. Lebih dari itu, APHIDA harus menjadi lokomotif kemajuan ekonomi umat,” tegasnya.
Ia menggambarkan APHIDA sebagai instrumen perjuangan yang bertugas menggerakkan seluruh potensi usaha jamaah dan kader menuju kemandirian ekonomi.
“APHIDA adalah instrumen perjuangan yang bertugas menarik seluruh gerbong potensi usaha jamaah dan kader menuju kemandirian yang nyata,” katanya.
Fadlurrahman menilai penguatan ekonomi memiliki posisi strategis dalam menopang agenda dakwah dan pendidikan. Menurutnya, kemandirian ekonomi menjadi salah satu fondasi penting agar gerakan dakwah dapat berjalan secara berkesinambungan.
“Sebagaimana visi besar organisasi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam, fondasi ekonomi yang kuat adalah syarat mutlak agar dakwah dan pendidikan dapat berjalan secara berkesinambungan dan berdaulat,” ujarnya.
Tiga Pilar Penguatan APHIDA
Untuk mewujudkan agenda tersebut, Fadlurrahman menyampaikan tiga pilar utama yang akan menjadi fokus kepengurusan APHIDA periode 2026–2030.
Pertama, konsolidasi dan sinergi ekosistem usaha jamaah. Menurut Fadlurrahman, APHIDA perlu memiliki basis data usaha anggota yang kuat sekaligus membangun jejaring bisnis yang saling terhubung.
“Kita akan mengonsolidasikan basis data, memperkuat jejaring supply chain antaranggota, dan saling menopang dari hilir ke hulu agar daya dorong ekonomi kita semakin solid,” jelasnya.
Kedua, digitalisasi dan profesionalisme bisnis. Ia menilai perkembangan teknologi menuntut para pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas agar mampu menghadapi persaingan yang semakin terbuka.
Karena itu, APHIDA akan mendorong program inkubasi bisnis, pendampingan legalitas usaha, serta akselerasi digital bagi para anggotanya.
“Lokomotif yang tangguh harus didukung mesin yang modern. Kita akan mendorong lahirnya program inkubasi bisnis, pendampingan legalitas, serta akselerasi digital agar produk-produk anggota APHIDA mampu bersaing secara nasional bahkan global,” katanya.
Ketiga, menggerakkan ekonomi keumatan untuk menopang dakwah dan kemandirian. Fadlurrahman mengatakan, penguatan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari agenda besar gerakan Hidayatullah. Karena itu, APHIDA akan berupaya membangun sinergi dengan struktur Hidayatullah dan organisasi-organisasi pendukung lainnya.
“Sebagaimana pesan Rais Aam, gerakan dakwah harus ditopang dengan gerakan ekonomi keumatan yang kokoh dengan bersinergi bersama organisasi-organisasi pendukung,” tuturnya.
Fadlurrahman menyadari, agenda besar tersebut tidak mungkin diwujudkan hanya oleh kepengurusan APHIDA. Ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh jajaran pengurus, struktur Hidayatullah, serta anggota APHIDA di berbagai daerah.
“Kepemimpinan ini tidak akan berarti apa-apa tanpa kerja sama dari seluruh jajaran pengurus, dukungan dari struktur Hidayatullah, dan partisipasi aktif dari seluruh anggota APHIDA,” katanya.
Ia mengajak seluruh anggota APHIDA untuk menjadikan periode kepengurusan 2026–2030 sebagai momentum memperkuat ekosistem ekonomi jamaah dan melahirkan lebih banyak pengusaha yang mampu memberikan kontribusi bagi umat.
“Marilah kita bulatkan tekad. Jadikan APHIDA sebagai lokomotif kemajuan ekonomi yang kokoh, menopang dakwah, membina kewirausahaan generasi muda, serta membawa kemaslahatan bagi seluruh umat,” pungkas Fadlurrahman.
Sebagaimana diketahui, dalam Munas APHIDA 2026, terpilih saudara Fadlurrahman sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hidayatullah periode 2026-2030. Saudara Ubaidillah Navis sebagai Sekretaris Jenderal, dan saudara Musyawir sebagai Bendahara Umum.
Pelantikan itu pandu oleh Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perekonomian Wahyu Rahman. Dan disaksikan oleh Ketua DPP Departemen Koperasi dan Kewirausahaan, Syaiful Anwar, Ketua APHIDA periode 2021-2026, Faisal Thamrin.*




