Hidayatullah.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim jika bukan karena dirinya, ‘Israel’ akan binasa.
“Jika saya bukan presiden, Israel akan musnah. Tidak akan ada Israel dan mungkin tidak akan ada Timur Tengah,” kata Trump kepada Fox News pada Senin (31/08/2026).
Klaim itu disampaikan Trump merespon pertanyaan terkait serangan-serangan terhadap Iran. Presiden yang menjabat untuk kedua kalinya ini menyebut ia telah memusnahkan seluruh kemampuan militer Iran.
“Angkatan laut mereka musnah, angkatan udara mereka musnah, dan para pemimpin mereka musnah,” imbuh Trump.
Ia menyebut orang-orang Iran sebagai “orang-orang yang tangguh dan cerdas” namun “sangat jahat.”
Pernyataan Trump ini muncul saat Iran mengonfirmasi telah menyerang pangkalan AS di Yordania dan aset militer AS di Uni Emirat Arab sebagai balasan atas serangan AS di Pulau Larak—sebuah aksi saling serang langsung pertama antara kedua pihak sejak akhir Juli.
Pasukan AS mengklaim telah menghantam dua peluncur rudal Iran di pulau yang berada di Selat Hormuz itu.
Sebagian besar warga Amerika dan anggota Kongres mengkritik keputusan Trump untuk turut serta dalam serangan Israel terhadap Iran; mereka menyatakan bahwa “ini adalah perang Israel, bukan perang kita” dan mengecam langkah tersebut sebagai tindakan yang “inkonstitusional.”
Baru-baru ini, direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Joe Kent mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap perang tersebut. Menurutnya, sangat “jelas kita memulai perang ini akibat tekanan dari Israel dan lobi Amerikanya yang kuat.”
Pada bulan Maret, Netanyahu menepis laporan yang menyebutkan bahwa Israel menyeret AS ke dalam perang dengan Iran dengan menyebutnya sebagai “berita palsu”. “Apakah ada yang benar-benar berpikir bahwa seseorang bisa mendikte Presiden Trump mengenai apa yang harus dilakukannya?” ujarnya, seraya menambahkan: “Saya tidak menyesatkan siapa pun.”
Pernyataan Netanyahu tersebut muncul setelah The New York Times melaporkan bahwa ia memainkan peran kunci dalam mendorong Trump menuju perang dengan Iran; ia melobi Trump secara pribadi selama berbulan-bulan dan berupaya mencegah pembicaraan diplomatik menggagalkan rencana serangan militer.
Menurut laporan tersebut, Netanyahu pertama kali melontarkan gagasan untuk menyerang situs-situs rudal Iran saat berkunjung ke kediaman Trump di Mar-a-Lago pada bulan Desember. Dua bulan kemudian, ia berhasil mendapatkan keterlibatan AS yang lebih luas dalam sebuah kampanye yang bertujuan untuk menggulingkan kepemimpinan Iran.*




