Hidayatullah.com – Seluruh sekolah Kristen di Yerusalem, Palestina mengumumkan mereka menghentikan kegiatan belajar-mengajar mulai Selasa. Hal itu lantaran 70 guru dan pegawai sekolah tidak diberi izin masuk oleh penjajah ‘Israel’. Hari itu kemarin merupakan awal tahun ajaran baru di Yerusalem dan ‘Israel’.
Pihak sekolah Kristen mengatakan sedang mempersiapkan tahun ajaran baru 2026-2027 saat mereka dikejutkan oleh “gagalnya pembaruan izin masuk bagi lebih dari 70 guru dan pegawai secara tiba-tiba.”
Perlu diketahui, wilayah pendudukan ‘Israel’ seperti Yerusalem dan Tepi Barat mewajibkan setiap warga Palestina harus memiliki izin jika ingin bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal itu dikarenakan seluruh kontrol mobilitas maupun administrasi dikuasai oleh penjajah ‘Israel’.
Zionis mendirikan pos pemeriksaan, tembok pembatas yang membatasi serta memantau pergerakan keluar-masuk orang. Mereka berdalih itu dilakukan demi keamanan mereka.
Absennya guru dan pegawai dalam jumlah besar ini memengaruhi berbagai aspek operasional sekolah, termasuk layanan pendidikan, administrasi, dan kesehatan, serta layanan kebersihan dan langkah-langkah keamanan serta keselamatan, demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pihak sekolah menyatakan bahwa situasi ini “membuat mustahil untuk menjamin dimulainya tahun ajaran yang aman dan stabil” bagi para siswa.
Secara terpisah, Munther Isaac, pendeta di Gereja Lutheran Injili Christmas Church di kota Betlehem, Tepi Barat, mengecam tindakan ‘Israel’ tersebut.
“Tekanan Israel terhadap keberadaan komunitas Kristen di Yerusalem terus berlanjut,” ujar Isaac melalui media sosial X.
“Sekolah-sekolah Kristen di kota tersebut melakukan aksi mogok karena Israel menolak menerbitkan izin bagi guru-guru mereka yang berasal dari Tepi Barat,” tambahnya.
Sejak Oktober 2023, ‘Israel’ telah membatasi izin masuk bagi pekerja Palestina dari wilayah pendudukan Tepi Barat—termasuk para guru—bersamaan dengan dimulainya perang genosida di Jalur Gaza.*




