Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara

Mahmud
Terakhir diupdate: 7 Oktober 2026 08:25 8:25 am
Mahmud
Dipublikasikan 7 Oktober 2026 08:25
Bagikan
Almarhum KH. Abdul Mu'thi. Di sampingnya ada foto Buya Natsir dan Kasman saat berbicara di hari wafatnya tahun 1976.
Bagikan

Penjara sama sekali bukan penghalang untuk menulis dan berkarya. KH. Abdul Mu’thi -Ulama dan Pejuang dari Muhammadiyah- telah membuktikannya. Dari balik penjara beliau menyampaikan nilai-nilai adab dalam bentuk buku yang sangat bermanfaat bagi umat.

Hidayatullah.com | JERUJI besi sering kali dipandang sebagai garis akhir: pembatas kemerdekaan ragawi sekaligus kuburan bagi semangat dan daya cipta. Lain halnya bagi para pejuang sejati yang meletakkan seluruh denyut nadinya pada jalan keyakinan, penjara hanyalah sebuah ruang kontemplasi baru.  

Prinsip hidup luar biasa inilah yang terpancar nyata dari rekam jejak tokoh Muhammadiyah dan mujahid kemerdekaan Republik Indonesia, K.H. Abdul Mu’thi (Mohamad Roem, majalah Suara Muhammadiyah No. 23 [1976] dan Ramlan Mardjoned, majalah Suara Masjid No. 26 [1976]).

Bagi beliau, dinding tebal ruang tahanan bukanlah lonceng kematian bagi perjuangan, melainkan lahan dakwah baru yang melahirkan karya kebaikan abadi (Pengantar buku karya Abd. Mu’thi dan Kata Sambutan karya Udin Sjamsuddin dalam buku Bimbingan Adab, Juni 1958).

Sejak masa mudanya pada era Hindia Belanda, K.H. Abdul Mu’thi telah dikenal luas sebagai sosok pergerakan yang berpendirian kukuh, vokal, dan pantang berkompromi terhadap kebatilan (majalah Suara Muhammadiyah No. 19 Th. 56, Oktober 1976).

Baca Juga

KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Berulang kali beliau berhadapan dengan ancaman aparat kolonial. Saat menjadi mubalig di Kudus sekitar dekade 1920-an, surat selebarannya yang dinilai mengkritik tajam penguasa serta pidatonya yang membakar kesadaran rakyat membawanya ke meja hijau pengadilan dan dinginnya sel penjara Belanda (H. Djarnawi Hadikusuma, majalah Suara Muhammadiyah No. 12 Th. 57, Juni 1977 dan Suara Masjid No. 26, November 1976).

Keteguhan prinsip tersebut tak sedikit pun luntur pasca-kemerdekaan Indonesia. Beliau berkeyakinan bahwa membela keadilan dan melawan kebatilan tak pernah mengenal garis henti, tak peduli apakah suatu bangsa telah merdeka atau belum. Memasuki masa pergolakan politik nasional, keteguhan sikap politiknya membuat beliau kembali ditangkap aparat dan menjadi tahanan politik.

Beliau ditahan di Belawan pada 25 Maret 1958, dipindahkan ke RTM Medan pada 30 April 1958, hingga akhirnya dimasukkan ke sel Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo No. 9, Jakarta sejak 1 Mei 1958. Namun, pemenjaraan fisik itu sama sekali gagal meruntuhkan martabat dan tekadnya (sumber: artikel Pengantar Abd. Mu’thi dalam buku Bimbingan Adab).

Mengubah Sel Menjadi Taman Amal dan Majelis Ilmu

Dalam catatan Mohammad Roem, di balik tembok RTM Budi Utomo, K.H. Abdul Mu’thi menjadi lentera bagi sesama tahanan politik, mendampingi sahabat-sahabat seperjuangannya seperti Mr. Mohamad Roem, Mohammad Natsir, dan Syafruddin Prawiranegara. Kehilangan kebebasan jasmani tak membuatnya meratap apalagi mengeluh.

Sebaliknya, beliau justru menyibukkan diri dengan kerja-kerja nyata. Beliau mengolah pekarangan tahanan dengan menanam sayur bayam dan tomat yang subur, lalu membagikan hasil panennya dengan tulus kepada kawan-kawannya di penjara. Beliau juga merakit kompor sederhana dari kaleng susu bekas dengan lilin sebagai bahan bakar guna membantu kebutuhan sehari-hari. Tak hanya itu, suasana tahanan diubahnya menjadi pusat ibadah: beliau mengadakan kuliah subuh pengajaran tafsir Al-Qur’an dan hadis setiap pagi pukul 06.00 hingga 07.30 WIB bagi para tahanan yang berlatar belakang dokter, insinyur, hingga kalangan perwira.

Lahirnya Buku “Bimbingan Adab” di Keheningan Sepertiga Malam

Puncak pembuktian bahwa jeruji besi bukan penghalang berkarya adalah terbitnya karya monumental beliau berupa buku bertajuk “Bimbingan Adab” yang kemudian diterbitkan Firma Saiful Medan, 1959.

Kelahiran buku ini berawal ketika Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, H. M. Junus Anies, datang membesuk beliau di RTM Jakarta pada pertengahan Mei 1958. Dalam kunjungan itu, terucap satu nasihat yang menancap mendalam: “Ambillah manfaatnya kejadian ini”. Nasihat tersebut menyadarkan beliau bahwa keterbatasan kurungan sel justru mendatangkan kelapangan waktu yang selama ini sukar didapat saat beraktivitas bebas di luar.

Maka, setiap malam sehabis mendirikan salat Tahajud ―antara pukul dua dini hari hingga pukul lima menjelang subuh saat tahanan lain lelap tertidur― K.H. Abdul Mu’thi mulai merangkai bait-bait tuntunan akhlak bagi anak-anak bangsa.

Buku tersebut menguraikan adab keseharian secara rinci, mulai dari bangun pagi, berbakti kepada ayah-bunda, kesopanan makan, adab menuntut ilmu kepada guru di sekolah, bertetangga, hingga adab tidur kembali.

Tepat pada malam Rabu tanggal 17 Juni 1958 menjelang fajar, naskah itu tuntas diselesaikan. Pihak otoritas penjara, yakni Kepala R.T.M. Kapten Sunendro dan Letnan Anwar Bey, bahkan menaruh simpati mendalam hingga berkenan meminjamkan mesin ketik untuk merapikan naskahnya. Naskah berharga ini pada akhirnya dicetak dan diterbitkan secara resmi oleh salah seorang rekan sesama tahanan politik di RTM tersebut, Saiful U.A., pemilik Firma Saiful Medan.

Dari riwayat hidup K.H. Abdul Mu’thi terkandung teladan emas bahwa keterkungkungan fisik tak pernah sanggup membelenggu jiwa yang merdeka dan niat suci beramal. Alih-alih tenggelam dalam kepedihan kurungan, beliau membuktikan bahwa dari dalam bilik penjara yang dingin, seorang ulama pejuang tetap mampu memanen sayur, menuntun sesama, dan melahirkan karya literatur budi pekerti yang menembus lintas zaman. Beliau wafat dengan husnulkhatimah pada 20 September 1976 di usia 78 tahun, meninggalkan warisan keteladanan yang tak lekang oleh zaman.

Keteguhan jiwa K.H. Abdul Mu’thi di balik jeruji besi ini seakan menggemakan kembali perkataan masyhur Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang diceritakan langsung oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Wabil ash-Shayyib (hlm. 48): bahwa di dunia terdapat surga yang harus dimasuki sebelum surga akhirat, penjara bagi seorang mukmin tak lain adalah ruang khalwat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Lebih dari itu, kata beliau, orang yang benar-benar terpenjara sejatinya adalah siapa saja yang hatinya terhalang dari Rabbnya. Ini adalah sebuah pembuktian bahwa dinding penjara sekeras apa pun hanya mampu mengurung raga, tetapi tidak akan pernah sanggup membelenggu jiwa yang merdeka untuk terus beribadah dan melahirkan karya. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abdul Mu'thiHeadlineJeruji Besi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Wajib Halal Oktober 2026 Bagian dari Pemenuhan Hak Masyarakat

Berita
1 Oktober 2026 16:02
Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati
Amerika Jatuhkan Sanksi atas Jaringan Pendanaan Hamas
Menara Shahi Masjid Ujjain Roboh Saat Dibongkar, Warga Muslim Pertanyakan Prosesnya
Menteri Ekstremis ‘Israel’ Pimpin Gerombolan Pemukim Yahudi Serbu Masjid Ibrahimi

Terbaru

  • KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
  • Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual
  • Menteri PertahananAS Kutip Alkitab dan Serukan Perang terhadap “Kaum Islamis”
  • Aljazair Berlakukan Hukuman Mati Bagi Arsonis Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan
  • Intelijen Maroko Dituding Mematai Jurnalis dan Aktivis HAM
  • Amerika Serikat Usir Dua Diplomat Iran Usai Sidang Majelis Umum PBB
  • Lima Orang Didakwa di Prancis Terkait Pendanaan Hamas
  • Amerika Serikat Umumkan Kontrak $24,4 Miliar untuk Mempercepat Produksi Rudal
  • Dua Pria Iran Didakwa Berencana Serang Yahudi Manchester
  • Pakar Filsafat Islam Ini Membedah 7 Cacat Nalar Kaum Ateis

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?