Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Marinir Amerika yang Kembali Pada Fitrahnya

Ama Farah
Terakhir diupdate: 7 Desember 2012 15:35 3:35 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 7 Desember 2012 15:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Namaku Jacian Fares. Aku keturunan keluarga Al Fares dari Hebron. Ayahku dilahirkan di Libanon, sementara ibuku seorang wanita Spanyol. Aku merupakan generasi pertama keluargaku yang lahir di Amerika Serikat, tepatnya di kota Dearbon, negara bagian Michigan.

Ayahku tidak terlalu peduli dengan agama, meskipun kekek-kekekku merupakan penganut Islam yang taat. Maka tidak heran, jika aku dan saudara kandungku tumbuh berkembang tanpa mengenal agama tertentu. Kami dibesarkan sebagai anak Amerika, titik.

Aku dapat membayangkan, betapa ketidakpedulian ayahku itu dan jalan kehidupan yang dipilihnya telah membuat sedih hati kakek-kakekku.

Percaya tidak percaya, di antara kami bertiga hanya aku yang pernah tinggal di Libanon selama 6 tahun, yaitu ketika aku masih remaja. Pengalaman tinggal di Libanon itu bisa dibilang sebagai persentuhan pertamaku dengan kebudayaan Timur Tengah.

Persentuhanku kedua dengan peradaban Timur Tengah terjadi saat aku berdinas sebagai anggota angkatan laut Amerika Serikat, sebagai seorang marinir. Aku ikut memimpin pasukan AS menginvasi Iraq, sebuah perang yang tidak aku setujui, tapi apa mau dikata karena aku hanya seorang prajurit.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Di Fallujah dan tempat-tempat lain di Provinsi Al Anbar, aku berusaha mengenal penduduk setempat. Aku memperhatikan bagaimana kebiasaan orang Arab selama bulan Ramadhan dari tahun ke tahun. Aku menyaksikan bagaimana mereka begitu taat dan patuhnya kepada agamanya.

Malang tidak dapat dihindari. Suatu saat aku tertembak di Iraq dan kehilangan satu dari dua ginjalku. Aku percaya itu kehendak Tuhan, karena aku yakin setiap kejadian pasti ada alasan di belakangnya.

Ketika pulang kembali ke Amerika Serikat, aku dalam keadaan sangat tertekan, depresi dan merasa hampa, tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup ini. Aku terbiasa memiliki rutinitas tertentu sebagai prajurit, dan kini semua itu lenyap. Hubungan sosialku pada saat itu dalam titik nadir. Aku kesepian.

Di tengah kegelisahan, kakek-kakekku dan bibi-bibiku menunjukkan jalan menuju Islam. Sepanjang tahun 2008 kerjaku hanya membaca al-Qur`an. Dan itu rasanya seperti langsung ‘nyambung’.

Menurutku al-Qur`an sangat masuk akal, jauh lebih masuk akal ketimbang Bibel dan Torah. Qur`an sangat lugas, tidak bertele-tele. Kehidupan seorang Muslim ada rutinitasnya. Dan itu yang aku perlukan untuk mengubah hidupku, untuk menemukan jatidiri yang sejati.

Akhirnya, aku punya rutinitas. Aku punya alasan untuk menjalani hidup di dunia ini, untuk membuat hidupku lebih baik.

Bisa dibilang aku kemudian mendapatkan teman banyak, dari seluruh Timur Tengah, seperti dari Mesir, Palestina, Yordania dan Qatar. Dan teman-temanku itu yang membantuku menjadi aku seperti yang sekarang ini. Atas nikmat itu, aku sangat bersyukur.

Meskipun aku terdampar di Amerika ini sendirian, aku tidak kesepian. Orang-orang di komunitas Muslim selalu memperlakukanku sebagai anggota keluarga mereka.

Pada Ramadhan kedua (2009) aku tidak dapat berpuasa, disebabkan penyakit diabetes. Sebagai gantinya, aku bersedekah makanan, uang dan juga waktu untuk membantu orang-orang yang memerlukan selama 30 hari penuh. Akhir Ramadhan kedua itu sangat spesial, sebab tanggal 1 Syawal-nya bertepatan dengan hari kelahiranku.

Aku suka Ramadhan dan hikmah dibaliknya. Ramadhan mengingatkan kita agar selalu menjadi Muslim yang baik. Aku mengajak semua Muslim agar menjadikan kehidupan mereka setiap harinya seperti pada bulan Ramadhan.

Kita sebagai Muslim, dapat menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal yang lebih baik, tidak peduli seberapa buruk media memandang dan menggambarkan kita.

Muslim tidak perlu memaksa orang lain untuk percaya kepada Allah. Kita dapat menjelaskan kepada orang-orang yang tidak paham tentang Islam dengan cara yang baik. Begitulah yang aku alami, di mana aku mendapatkan bantuan dan pertolongan dari saudara, teman dan keluarga dalam Islam.

Aku menyeru kepada orang-orang yang belum percaya kepada al-Qur`an, bukalah mata kalian lebar-lebar dan bacalah al-Qur`an dengan pandangan yang terbuka. Al-Qur`an adalah sebuah alat, yang dengannya kita menjalani kehidupan melalui jalan yang benar. Islam mengajarkan perdamaian, kasih sayang dan keyakinan yang kuat kepada Allah.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Arab Saudi Evaluasi Tempat Kursus Bahasa Inggris
Tulisan selanjutnya Oposisi Tolak Undangan Mursy untuk Dialog Nasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Berita
30 Agustus 2026 10:13
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza

Terbaru

  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?