Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 30 April 2023 15:28 3:28 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 30 April 2023 14:34
Bagikan
[Ilustrasi] Ayah dan anak.*
Bagikan

Hidayatullah.com | HARI Kamis (27/4/2023) bertepatan 6 Syawal 1444H, saya mendapat pengalaman ringan tapi sangat berkesan.

Ceritanya, salah seorang anak kami, usia 21 bulan, jatuh sakit. Saya pun membawanya ke sebuah Puskesmas di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur untuk diperiksa.

Awalnya saya mengajak istri untuk turut serta. Namun karena kondisi istri sedang kurang sehat plus lelah, akhirnya saya pergi sendiri membawa si bayi.

Singkat cerita, saya pun tiba di Puskesmas. Sembari menggendong bayi, saya masuk ke ruangan pendaftaran dengan satu harapan utama: sang bayi dapat diketahui apa penyakitnya dan bagaimana penanganannya.

Rupanya Puskesmas sudah ramai. Saat saya masuk Puskesmas, tampak beberapa pengunjung dan pasien menoleh ke arah saya. Ada yang sebatas melihat sekilas, ada yang memperhatikan mungkin agak seksama. Saya bersikap biasa saja. Gak ada yang istimewa bagi saya.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia
“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

Usai mendapatkan nomor urut ke-28, saya duduk pada salah satu kursi. Sembari menunggu panggilan, saya tetap menggendong bayi berumur 1,9 tahun ini. Entah bagaimana, muncul perasaan bahwa beberapa orang memperhatikan saya. Bukan cuma melihat 1-2 kali, tapi berkali-kali. Terbukti, beberapa kali saya beradu tatapan mata dengan salah seorang ibu berjilbab. Tapi, beradu tatapan, sepertinya hal yang biasa terjadi dalam dunia perantrean dimanapun, hehe…

Karena sang bayi terlihat berkeringat, saya menurunkannya dari gendongan, membuka jaketnya, dan menempatkannya di kursi sebelah. Sesekali saya kasih dodotnya biar gak kehausan.

Bocah kecil ini tampak anteng bersama Abinya. Memang, saya sudah cukup terbiasa membawanya sendirian tanpa ditemani Umminya.

Singkat cerita lagi, saya dipanggil petugas untuk mengikuti beberapa prosedur sebelum kemudian sang bayi diperiksa dokter.

Bla… Bla… Bla…

Petugas, perawat, dan dokter di Puskesmas Teritip ini ramah-ramah. Masya Allah deh!

Kemudian, usai pemeriksaan, dokter mengarahkan saya untuk membawa sang bayi ke Poli Gizi yang terletak di lantai dua. Saya menuruti arahan tersebut. Sejumlah barang perlengkapan bayi (popok, minuman, makanan, tisu, dll) yang disimpan dalam tas kain, tak lupa saya bawa ke lantai dua.

Tiba di ruang Poli Gizi, saya masuk sembari mengucapkan salam. Begitu saya masuk, petugas di dalam ruangan itu terlihat cukup kaget. Kenapa?

Rupanya mereka tampak heran karena yang masuk ternyata seorang pria, seorang bapak, yang menggendong seorang bayi. Sendirian pula. Saya pun sempat keki. Mungkin selama ini yang masuk ruangan itu adalah ibu membawa anaknya. Memang, mayoritas pengunjung Puskesmas ini adalah perempuan. Hanya segelintir laki-laki.

Bahkan saya sempat mendengar salah seorang petugas di ruang Poli Gizi itu bertanya, “Mana istrinya?”, kurang lebih seperti itu.

Menjawab –mungkin– keheranan atau rasa penasaran itu, saya pun menjelaskan bahwa istri saya sedang tidak bisa ikut karena satu dan lain hal, bla…bla…bla….

Mereka pun mafhum.

Di Poli Gizi ini, sang dokter/ahli gizi –saya tidak sempat melihat/mencatat/menanyakan namanya– mulai menjalankan tugasnya. Menimbang dan mengukur tinggi anak saya, memberikan sejumlah arahan, masukan, catatan, menjawab pertanyaan saya, dan lain sebagainya. Penuh keramahan!

Proses penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak saya berjalan lancar. Sang bayi sangat kooperatif mengikuti arahan Abinya. Mempermudah tugas Bu Dokter.

Sempat sang bayi agak rewel, mungkin karena sudah kelamaan di Puskesmas. Ya! Antrean yang cukup panjang dan lama tadi tentu cukup menguras energi bayi tak berdosa ini, apalagi kondisinya sedang tidak baik-baik saja.

Alhamdulillah! Di Poli Gizi, saya diberikan sebungkus vitamin dan dua kotak biskuit khusus bayi. Menurut dokter, berat dan tinggi bayi saya perlu ditingkatkan agar sesuai dengan perkembangan ideal anak. Kira-kira begitu istilah mudahnya yang bisa saya tuliskan.

Keluar dari Poli Gizi, barang bawaan saya pun bertambah. Jika sebelumnya cuma menggendong bayi dan tas selempang plus tas kain kecil, kali ini ada tambahan satu kompek besar berisi dua kotak biskuit bayi.

Kelar urusan dengan dokter/ahli gizi dan dokter umum, saya pun keluar untuk mengambil obat di loket khusus.

Saat di tempat pengambilan obat, sang bayi saya turunkan dan dudukkan di kursi. Saya memang belum memasukkannya ke gendongan. Maklum, bagi saya agak ribet kalau digendong terus, sementara banyak tetek bengek yang harus diurus.

Dalam “kerepotan” seperti itu, rupanya ada salah seorang wanita pengunjung Puskesmas –yang datang bersama seorang (diyakini) suaminya— memperhatikan saya. Saya sebut dia “memperhatikan” karena bukan sekilas saja melihat saya dan bayi ini. Tapi berkali-kali. Saya pun membalas tatapannya dengan ramah, selayaknya tata krama dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Selesai mengambil obat dari petugas, saya undur diri. “Permisi, Bu, Pa!” ujar saya kepada sepasang suami istri yang duduk di dekat saya tadi.

Dugaan saya, perempuan tadi memperhatikan kami mungkin karena merasa “heran” atau apalah melihat ada seorang pria menggendong bayi seorang diri, dengan segala kerempongannya, tanpa kehadiran seorang istri saya atau ibu dari sang bayi.

Atau mungkin ada sesuatu lain pada diri saya yang memancing perhatian orang tadi? Apa gerangan? Atau jangan-jangan saya cuma terlampau PD, percaya diri. GeeR, gede rasa.

Sambil memikirkan hal itu, saya tetap fokus pada misi utama selanjutnya, yaitu memastikan sang bayi bisa segera pulang. Berjam-jam dia ikut Abinya, pasti kelelahan. Meskipun secara umum, bayi perempuan ini terbilang anteng tanpa Umminya (padahal, selama sakit sekitar dua pekan ini, kalau di rumah dia selalu merengek dan nempel ke Umminya).

Saat bersiap naik ke kendaraan roda dua di area parkir, saya menyempatkan diri menengok ke arah tempat tunggu pengambilan obat tadi. Rupanya perempuan tadi masih terlihat memperhatikan saya. Saya pun bersikap biasa saja, merasa seolah-olah tidak tahu diperhatikan.

Saat mulai keluar kompleks Puskesmas, saya sempatkan kembali menengok ke arah tempat tunggu pengambilan obat tadi. Ternyata, perempuan tadi lagi-lagi masih terlihat memperhatikan saya.

Waduh! Kenapa sudah itu?! Tapi ah, masa bodoh aja, batinku, lalu mulai melaju pelan di jalanan area Pasar Gunung Tembak itu.

Dalam perjalanan pulang, pikiranku masih “tersita” oleh perhatian dan sikap sejumlah orang di Puskesmas tadi. Mulai dari kekagetan petugas Puskesmas hingga perhatian warga terhadap kami: seorang bapak dan seorang bayi.

Hal Biasa

Di keluarga kami, adalah hal biasa seorang bapak/suami mengurus keperluan anak-anak. Mulai dari -maaf- menceboknya, memandikannya, memakaikan baju, membawanya jalan-jalan, dan seterusnya. Bahkan sekalipun jika tanpa bantuan istri (ibunya anak-anak).

Hal demikian pun berlaku bagi banyak keluarga di sekitaran lingkungan saya di Gunung Tembak, khususnya di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah.

Maka, ketika saya merasa menjadi “pusat” perhatian di Puskesmas tadi, saya bertanya-tanya sendiri, ada apa gerangan. Apa ada yang salah atau tidak biasa? Entahlah!

Pakar parenting, Teh Ida S Widayanti, pernah menyampaikan pentingnya ayah dan ibu berbagi peran dalam rumah tangga. Keduanya ibarat jembatan yang kokoh dalam menopang kehidupan berkeluarga.

Istri saya pernah berkata, “Abi harus menjadi lelaki pertama yang dicintai anak perempuannya.” Hal ini untuk menghindari sang anak mencintai lelaki lain yang bukan mahramnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah mengajarkan pentingnya seorang ayah terlibat aktif dalam mengurus keluarga, termasuk anak.*

  • Abu Fawwaz | Kepala Rumah Tangga
Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakayahKeluargaparentingrumah tanggasuamisuami istri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banyak Pihak Menolak, Tim Rugby Israel Batal Datang ke Afrika Selatan
Tulisan selanjutnya Kurun 2 Pekan 210 Mayat Migran Ditemukan Terdampar di Pantai Tunisia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dua Anggota Basij Tewas Dalam Serangan di Mashhad Iran

Berita
12 Juli 2026 09:49
PM Pakistan Desak Presiden Iran untuk Memelihara Kesepakatan Damai yang Sudah Payah Diupayakan
Rusia Kirim Kembali Pekerjanya ke Pembangkit Nuklir Bushehr Iran
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Cermin

Kisah Tukang Bangunan: Dulu Shalat Bolong-bolong, Kini Rajin ke Masjid

16 Desember 2021 05:40
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?