Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Ajarkan Mereka Berburu Ilmu, Bukan Angka!

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Juli 2011 09:27 9:27 am
Ahmad
Dipublikasikan 21 Juli 2011 09:27
Bagikan
Bagikan

HAMPIR bisa dipastikan, sistem pendidikan modern yang menjadikan angka-angka (nilai-nilai ujian) sebagai standar kesuksesan dalam evaluasi akhir proses pembelajaran bagi para siswa-siswi, sedikit-banyak telah menggeser motivasi para peserta didik dalam menuntut ilmu. Mereka tidak lagi memahami akan urgensi ilmu bagi kehidupan mereka di masa mendatang, namun, lebih disibukkan untuk berburu angka sebesar-besarnya. Karenanya, nilai-nilai norma pun mereka langgar, dengan target tujuan tercacai (mencontek).

Setali tiga uang, para wali murid pun mengalami hal serupa. Tidak sedikit, di antara mereka mendorong buah hatinya untuk giat sekolah namun dengan motivasi yang keliru. Banyak kita temukan orangtua mengatakan, “Belajar yang rajin, biar nanti hasil ulangannya bagus, dan nanti juara satu.”

Tentu bisa dimaklumi jika banyak kasus dikemudian hari adanya melakukan kecurangan-kecurangan demi menggapai target yang telah dibebankan olehnya, baik itu oleh pemerintah sendiri, guru, ataupun orangtuanya.

Peristiwa yang menghebohkan dunia pendidikkan di Jawa Timur, khususnya Surabaya, beberapa waktu lalu, terkait dengan terbongkarnya kasus sontek-menyontek satu sekolahan pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di salah satu SD di kota Pahlawan tersebut, adalah sedikit bukti betapa motivasi (niat) yang keliru dalam menuntut ilmu sangat mempengaruhi perilaku setiap oknum yang terlibat dalam proses pendidikkan.

Sebagaimana diberitakan oleh media massa, seorang wali kelas, tega meminta muridnya untuk berbuat culas, demi ‘kesuksesan’ peserta didiknya yang lain dalam UN. Sungguh memprihatinkan, seorang pendidik yang seharusnya mengajarkan kejujuran demi kebaikkan diri murid, bangsa, dan Negara, justru mendoktrinnya dengan nilai-nilai negatif (curang), demi tercapainya target angka yang menjadi standar kelulusan. Di sisi lain, ini bisa dimaklumi,karena apa yang dilakukan para guru, akibat dari turunan dari atasnya (sistem yang ada).

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Kalau sudah begini, lalu siapa yang harus disalahkan? Tidak mudah untuk menentukan kambing hitamnya. Bagaimana pun juga, semua ini berawal dari orientasi yang keliru, yang menjadikan angka-angka sebagai perburuan utama peserta didik.

Ilmu itu Penuntun

Suatu hari, Imam Syafi’I mengadu kepada salah satu gurunya, Waqi’, bahwa dia tengah mengalami kesukaran dalam menghafal. Mendengar pengakuan muridnya, sang-guru menasehati agar imam syafi’i menjauhi kemaksyiatan, karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya (petunjuk Allah) yang tidak akan pernah diberikan kepada mereka yang bermaksiat.

Beliau (Waqi’) berujar, “fainni ‘ilma nuurun wa nuruullahi laa yuhdaa li al-‘asyi” (Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada mereka yang bermaksiat).

Jadi, hakikat ilmu adalah penuntun yang akan mengarahkan pemiliknya kepada kebaikkan. Senada dengan ini, Ali bin Abi Tholib pun telah berujar, bahwa perbedaan antara ilmu dan harta itu ada beberapa macam, dan salah satunya, ilmu itu menjaga si pemiliknya –dari keburukkan-, sedangkan harta itu harus dijaga –agar tidak dicuri orang-.

Lebih tinggi lagi, ilmu itu seharusnya mampu mengenalkan si-pemiliknya kepada Allah, Sang-Pemberi ilmu lebih dalam lagi. Sehingga, dengan ilmunya tersebut dia semakin taat kepada Allah, dan takut untuk melanggar perintah-perintah-Nya.

Firman Allah, وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…”. (QS: Fathir: 28).

Dan inilah sejatinya tujuan utama dari proses belajar-mengajar seorang mukmin. Yaitu mampu menghantarkan dirinya kepada ma’rifatullah. Selain bertujuan demikian, berarti dia telah keliru dalam melangkah.

Turunnya ayat pertama surat al-‘Alaq yang berisi perintah membaca (menuntut ilmu) ‘iqra’ (bacalah), itu bergandengan langsung dengan kalimat setelahnya ‘bismi rabbika alladzi khalaq’ (dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan), tanpa ada pemisah sedikit pun. Dan ini, menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, dalam suatu diskusi, bahwa dalam mengkaji suatu ilmu itu harus lurus niatnya, lillahi ta’ala, yang bertujuan untuk ma’rifat kepada-Nya. Dan keduanya, tidak bisa dipisahkan. Setiap kali kita ber-iqra’, maka itu harus ber-bismi rabbika.

Jadi jelas, seorang mukmin, ketika menuntut ilmu, bukan sekedar berburu angka-angka atau pun materi. Dan barangsiapa yang melakukan demikian, maka sungguh dia merupakan pribadi yang lebih buas dari pada singa yang kelaparan.

Kenapa bisa demikian? Karena dengan ilmu yang dia peroleh dia akan membuat kerusakkan, kedzoliman, kesemena-menaan di muka bumi ini. Dia akan mengancam keselamatan siapa saja yang dia anggap sebagai penghalang dalam meraih missinya.

Kalau dia memiliki jabatan, maka jabatannya akan disalahgunakan. Kalau dia memiliki kekuasaan, maka kekuasaannya akan dijadikan media pelicin jalan menggapai impiannya.

Boleh jadi, potret pemimpin negeri ini yang menjadikaan kekuasaan sebagai alat pengeruk uang rakyat, niat mereka menjabat atau mencalonkan diri sebagai pejabat, bukan bismirabbik (atas nama Allah SWT), tapi bismilmaali (atas nama harta/pekerjaan).

Dengan Cara Mulia

Karena ilmu itu adalah sesuatu yang suci, maka cara menggapainya pun harus dengan cara-cara yang mulia pula. Setidaknya terdapat enam perkara yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, yang menghendaki kemudahan dan kebarokahan. Enam perkara tersebut ialah; kecerdasan, ambisius, uang, menghormati guru, dan waktu yang tidak singkat.

Kesimpulannya, membenahi niat (motivasi) dalam menuntut ilmu, itu sangat penting bagi seorang pelajar, guru, dan wali murid. Ketika terjadi disorientasi, maka, alih-alih anak tersebut akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, tapi bisa jadi, dia justru terjerumus dalam keburukkan karena tekanan-tekanan eksternal yang harus ia penuhi. Tahun ajaran baru telah di depan mata. Mari kita perbaharui niat menyekolahkan anak-anak kita untuk menuntut ilmu, bukan memburu angka-angka. Dengan demikian, ilmu yang bermanfaat akan mereka peroleh, dan angka-angka pun akan mereka dapatkan.

“Sesungguhnya semua amalan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan memperoleh (balasan pahala) sesuai dengan yang ia niatkan. Oleh karena itu, barang siapa yang hijrahnya menuju kepada Allah dan rosul-Nya, maka berarti hijrahnya menuju Allah dan rosul-Nya, dan barang siapa yang hijrohnya karena dunia yang akan diperolehnya atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrohnya itu menuju kepada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallah ‘alam bis-Shawab.*/Robinsah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya OKI Nyatakan Somalia Zona Kelaparan
Tulisan selanjutnya Hubungan Seks Remaja Rawan Kanker Serviks

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?