Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Bangun Orientasi Hidupmu Agar Tak Tertipu

sahid
Terakhir diupdate: 13 Juni 2012 06:53 6:53 am
sahid
Dipublikasikan 13 Juni 2012 06:53
Bagikan
Bagikan

SEMUA mukmin tentu sudah tahu bahwa setiap orang hidup pasti akan menemui kematian. Hidup di dunia ini hanya sementara, dan kita semua akan pergi ke kampung akhirat. Meninggalkan harta benda yang sekian lama dikumpulkan; anak, istri dan keluarga yang dicintai; jabatan yang dikejarnya dan terputus dari berbagai kesenangan dunia.

Jasad manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sedangkan ruhnya di alam Barzakh. Kelak di alam akhirat, manusia dibangkitkan dan dikumpulkan kembali seolah terbangun dari tidur sesaat di siang hari. Maka pada saat itu barulah orang-orang yang tak mempercayai akhirat akan merasa rugi.

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sungguh merugi orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS: Yunus [10]: 45)

Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.

Seorang yang beriman pada akhirat tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir tetapi sebagai ladang amal.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Tertipu Dunia

Meski sudah tahu akan mati dan melihat sendiri banyak orang yang lebih muda umurnya mendahului, kadang manusia tidak terdorong bersiap diri. Orientasi hidup yang dibangun di hati semata dunia saja. Dalam hal harta, yang dipikirkan berapa banyak harta yang bisa dikumpulkan. Inginnya menambah dan menyimpan rapat- rapat. Dalam hal jabatan, selalu mendongak ke atas bagaimana meraih jabatan yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Tak segan harus mengeluarkan dan berkorban uang banyak sampai ratusan juta bahkan milyaran sekali pun demi jabatan yang direbutnya. Kecintaan pada dunia membuatnya tertipu dan tak peduli dengan hari kemudian.

“Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat.” (QS: al-Insaan [76]: 27)

Karena kesenangan dunia yang menjadi tujuan hidupnya, semua waktu dan energi dikerahkan untuk meraih dunia. Lupa bahwa semua yang dikejar dan diraih itu hanyalah sementara. Semua akan terlepas pada akhirnya. Siapa pun orangnya tak kan dapat menghindar saat maut datang menjemput; tak dapat diundurkan barang sesaat pun.

“…Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat menundanya dan tidak (pula) mempercepatnya sesaat pun.” (QS: an-Nahl [16]: 61)

Bekerja keras untuk memiliki harta yang banyak tidak dilarang. Berkorban untuk menduduki jabatan tinggi juga tak salah. Yang tidak boleh adalah bila hal itu sampai mengabaikan akhirat. Lupa ada kehidupan baru setelah kematiannya di dunia.Mereka mengira semua persoalan selesai pasca kematiannya. Padahal justru kematian itu mengantarkannya pada persoalan yang lebih besar, sehingga ketika mereka dibangkitkan dari kubur mereka berangan-angan seandainya saja tidak ada kehidupan baru setelah kematian mereka di dunia.

“Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.” (QS: al-Haqqah [69]: 27-29).

Orientasi Akhirat

Bangunlah orientasi akhirat sekarang juga. Sadari bahwa harta yang akan abadi menjadi milik kita sampai di akhirat adalah yang telah diinfakkan di jalan Allah. Sedangkan harta yang masih tersimpan di tangan belum tentu nasibnya, bahkan bisa lepas dari genggaman.

Dengan orientasi akhirat, kita tidak terjebak pada perlombaan memamerkan kekayaan. Karena ukuran kemuliaan bukan dari banyaknya harta, tetapi dari banyaknya persentase sedekah.

Misalkan, jika seseorang memiliki dua dirham dan ia bersedekah satu dirham maka berarti dia telah mengeluarkan 50% (separuh) hartanya. Itu nilainya besar di hadapan Allah. Tapi jika seseorang penghasilannya sepuluh ribu dirham lalu berderma seratus dirham maka yang dikeluarkan itu hanya 1% nya. Itu sebabnya Rasulullah pernah bersabda, “Sedekah satu dirham bisa mengalahkan amal seratus dirham.”

Karena itu, bagaimana pun keadaan kita, prioritaskanlah beramal shalih; baik dengan harta ataupun tenaga. Mereka yang terus berusaha untuk mendapatkan harta yang lebih banyak, yang tak kalah pentingnya adalah terus meningkatkan kekuatan mental beramal yang lebih besar. Tambahnya penghasilan hendaknya diiringi dengan tambahnya sedekah.

Jika kekuatan sedekah dan pengorbanan tidak bertambah, maka tambahnya penghasilan bukannya menambah kemuliaan di hadapan Allah tapi kehinaan. Apalagi kalau cara yang ditempuh mendapat harta tidak memedulikan halal dan haram, maka sama saja menyiapkan neraka sejak di dunia ini.

Untuk meningkatkan amal shalih, bukan tamak yang harus kita perturutkan, tetapi iman pada akhirat yang harus ditingkatkan. Iman akan mendorong kita menjadikan dunia ini sebagai ladang amal.

Iman kepada akhirat, bukan semata dihafal tetapi harus diresapi. Iman yang hakiki juga bukan sekedar diketahui tetapi dihayati sampai membawa kesadaran diri seolah melihat akhirat di pelupuk mata. Inilah yang dirasakan al-Harist sehingga membuatnya gigih beramal.

”Bagaimana keadaanmu pagi ini?” tanya Rasulullah kepada al-Harist yang sedang lewat di depan beliau.

”Pagi ini saya menjadi mukmin yang sebenarnya,” jawab al-Harist.

Kemudian Rasulullah bersabda, ”Perhatikanlah apa yang engkau ucapkan itu, karena tiap- tiap sesuatu itu memiliki hakikat. Apakah hakikat keimananmu?”
al-Harist menjawab, ”Diriku telah menjauhi keduniaan, aku berjaga (tidak tidur) pada malam hari dan haus (berpuasa) pada siang hari, seolah- olah aku melihat Arasy Tuhanku tampak jelas, seakan-akan aku melihat para penghuni sorga sedang saling berkunjung, dan seakan-akan aku melihat penghuni neraka sedang meliuk- liuk kelaparan dan kepanasan”

Rasulullah bersabda, ”Wahai Harist, engkau sudah mengerti, maka istiqamahlah!” Beliau mengucapkan perkataan ini tiga kali. Semoga kita diberi istiqamah oleh Allah. Amiiin.* /Hanif Hanan

Redaktur: sahid
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Prioritas Utama Anak Palestina Menghafal Al Quran, Baru Bola
Tulisan selanjutnya Peradaban Islam Peletak Dasar Teknologi Dirgantara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?