Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Meneliti Pemikiran Liberal untuk Mengetahui Kesesatannya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Mei 2010 18:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Mengerti hal-hal mendasar dalam Islam adalah wajib. Namun demikian mengerti hal-hal yang tidak baik (merusak, menyesatkan) juga satu keperluan. Orang yang hanya mengerti kebaikan saja dengan tidak mengerti keburukan, bisa jadi akan cenderung lebih mudah tertipu dan abai terhadap ancaman serius dari pemikiran-pemikiran  yang keliru.

Demikian pula halnya dalam upaya rekonstruksi peradaban Islam. Selain umat Islam wajib memahami konsep-konsep dasar dalam Islam, mereka juga dituntut untuk memahami ide-ide, pemikiran, dan tradisi rasionalitas yang dibangun atas cara pandang yang keliru.

“Saya melihat perlu sebagian dari umat Islam ini mengerti sebaik-baiknya corak pemikiran liberal, yang tidak saja bertentangan dengan Islam, tapi juga sangat bertentangan dengan akal sehat,” jelas Nirwan Syafrin, MA kepada hidayatullah.com dalam acara tasyakuran akademiknya di Ponpes Husnayain Jakarta, setelah sukses meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan dari IIU Malaysia (9/5).

Dengan disertasinya yang berjudul “A Critique of Reason in Contemporary Arab Intellectual Discourse With Special Reference to Muhammad Abid Al-Jabiri”, Dosen Filsafat Ilmu di Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun ini mengatakan, sekalipun pemikiran liberal itu sulit diterima akal sehat, namun dengan kemampuan retoris dan dengan gaya rasionalitas yang parsial itu, mereka cukup memukau, khususnya bagi kalangan awam.

“Apa yang disampaikan kaum liberal sebenarnya tidaklah sulit untuk diruntuhkan. Sangat mudah untuk dibantah, sebab selain parsial terkadang juga sering mengada-ada. Hanya saja selimut akademis sering menjadikan kalangan awam menjadi kebingungan,” jelasnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Atas dasar itulah, DR. Nirwan Syafrin, MA memilih untuk menjadikan Muhammad Abid Al Jabiri, salah seorang tokoh liberal berpengaruh di dunia, juga di Indonesia, sebagai objek kajiannya dalam disertasi doktornya. “Dengan berbagai karyanya, sekarang ini pemikiran Jabiri telah merasuki pemikiran banyak kalangan akademis muslim, tidak terkecuali Indonesia. Oleh karena itu saya memilih Jabiri sebagai tokoh liberal berpengaruh untuk dikaji dalam disertasi saya,” tegasnya.

Hal itu dimaksudkan agar kritik terhadap Jabiri secara ilmiah benar-benar dapat diakui. Syafrin mengakui bahwa caranya ini terinspirasi dari metode kritik yang dilakukan Imam Ghazali terhadap pemikiran para filosof.

“Kajian saya terhadap Jabiri bukan atas dasar saya sepakat dengan ide-idenya. Justru saya ingin menunjukkan kepada umat bahwa pemikiran Jabiri itu keliru. Saya terinspirasi dengan metode Ghazali dalam mengkritik filosof. Ghazali tidak mengkritik beberapa pemikiran para filosof, sebelum dia benar-benar telah mengkaji filsafat sampai paham. Ini bisa dilihat dalam beberapa karya beliau, di antaranya Tahafut Falasifah dan Maqashidul Falasifah,” terangnya.

Syafrin yang juga pengasuh Ponpes Husnayain Sukabumi itu berkesimpulan bahwa kajian secara serius terhadap kekeliruan pemikiran kaum liberal juga perlu. Sebab dengan cara demikian kita tidak akan tertipu dengan pemikiran mereka, sekalipun di depan dan di belakang namanya terdapat titel akademik yang cukup tinggi.

“Sebagai seorang muslim, selain mengkaji Islam secara serius, kita juga perlu mengkaji pemikiran liberal yang menyesatkan. Dengan cara demikian maka kita tidak akan mudah menerima pendapat orang pintar walaupun dia bergelar profesor doktor. Sejauh pendapatnya tidak benar, maka harus ditolak sehingga kita semakin yakin untuk menjadikan Islam ini sebagai jalan hidup kita,” jelasnya. [imam/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Seabad Muhammadiyah Dibahas di ADITV
Tulisan selanjutnya Pendidikan di Indonesia Masih Menimbulkan Keresahan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?