Hidayatullah.com–Dalam beberapa tahun terakhir pendidikan di negeri ini sering menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Selain itu secara prinsip perangkat penilaian dan penentuan kelulusan (Ujian Nasional) masih dinilai banyak pihak sebagai kebijakan yang keliru dan merugikan para pelajar dan masyarakat secara umum.
Sepanjang sejarah baru dalam era reformasi ini saja, siswa atau siswi yang tidak lulus ujian nekad bunuh diri. Ironisnya mereka yang lulus pun tidak mengekspresikan kelulusannya itu dengan cara-cara yang wajar sebagai seorang pelajar. Kondisi ini tentu bukan problem sederhana. Sebaliknya sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas generasi muda bangsa.
“Kekacauan yang ditimbulkan dalam dunia pendidikan saat ini disebabkan oleh kerancuan ilmu. Ilmu yang rancu akan menimbulkan kekacauan pada masyarakat,” terang Adian Husaini dalam kajian bulanan INSISTS di Ponpes Husnayain Jakarta, Minggu (9/5).
Menurutnya, pendidikan seharusnya melahirkan manusia-manusia yang beradab. Bukan manusia yang materialis, apalagi inferior dalam menghadapi tantangan zaman yang mengalami lost of adab (hilangnya
adab).
“Pendidikan itu mestinya melahirkan generasi yang beradab. Sebab adab itu prinsip hidup. Secara hukum juga mestinya pendidikan kita ini melahirkan generasi yang beradab. Coba lihat sila kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalau sekarang murid-muridnya banyak yang tidak beradab, jelas pendidikannya perlu dievaluasi dan disempurnakan,” terangnya.
Adab, menurut Adian, bukan seperti anggapan kebanyakan orang saat ini yang hanya sebatas pada masalah budi pekerti dan sopan-santun.
“Adab itu bukan sopan-santun. Adab itu kemampuan seorang muslim untuk mengenal dan mengakui sesuatu sesuai dengan harkat dan martabatnya. Jadi jika ada orang tahu saja bahwa ada Tuhan dan dia tidak mengakuinya sebagai Tuhan, jelas manusia itu adalah manusia tidak beradab. Contohnya sederhana, Iblis itu tidak beradab, Yahudi juga demikian, dan kaum musyrikin pun sama,” tegasnya.
Dalam kajian yang bertajuk “Meluruskan Tujuan dan Praktik Pendidikan”, Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia ini menegaskan bahwa seharusnya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan negeri ini dengan lebih baik, khususnya jika dibandingkan dengan masa penjajahan dulu.
“Kalau dibandingkan masa penjajahan, pendidikan sekarang jauh lebih buruk. Ketika M. Natsir sekolah di AMS dulu misalkan, sekarang setingkat SMA, syarat siswa untuk lulus setidaknya telah tuntas
membaca 20 buku sastra. Sekarang tidak sama sekali. Justru pemerintah lebih konsen pada soal daripada kebutuhan dasar dan problem utama pendidikan kita sekarang,” jelasnya.
Oleh karena itu pendidikan kita mestinya melahirkan manusia-manusia beradab, bukan manusia terpelajar tapi biadab.
“Pemerintah mestinya melakukan pembenahan, khususnya terkait dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan yang benar itu adalah melahirkan manusia-manusia beradab. Bukan manusia pintar tapi biadab (tidak beradab). Imam Syafi’I saja pernah mengatakan bahwa beliau mengejar-ngejar adab, seperti seorang ibu yang mencari-cari anak satu-satunya yang hilang. Jadi jelas adab lebih utama daripada sekedar pintar,” katanya. [imam/hidayatullah.com]
Ilustrasi:http://www.rripontianak.com