Hidayatullah.com–Intelektul-intelektual Suriah sangat marah kepada pemerintah Amerika Serikat yang mengatakan akan “melucuti rezim Suraih dan Presiden Bashar Al Assad dari kekuasaannya,” setelah kelompok pendukung pemerintah merusak gedung Kedutaan AS di Damaskus, Ahad (10/7).
Muhammad Fattouh, seorang penulis, wartawan dan aktivis oposisi, mengecam pernyataan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang mengatakan bahwa Assad kehilangan legiimasinya.
“Masyarakat internasional, termasuk saudara Arab kami, tidak tergerak dengan pertumpahan darah yang terjadi di Suriah selama empat bulan ini. Pecahnya kaca kedutaan lebih berharga bagi Amerika Serikat daripada ratusan nyawa manusia. Kemunafikan AS ini akan terukir dalam buku sejarah Suriah,” ujarnya.
Untuk pertama kalinya sepanjang demonstrasi lebih dari 1.000 intelektual Suriah, penulis dan wartawan akan turun ke jalan-jalan Damaskus hari Rabu (13/7) untuk menunjukkan solidaritas mereka atas aksi protes rakyat.
Mereka memperingatkan pemerintah agar tidak menggunakan kekerasan selama mereka melakukan aksi turun ke jalan yang akan dimulai dari Masjid Al Hasan, di jantung ibukota pada pukul 6 pagi. Mereka mengatakan demonstrasi mereka adalah sebuah aksi damai.
Amerika Serikat menuding pemerintah Suriah mengalihkan perhatian dengan merusak gedung kedutaan mereka dan Prancis, Senin (11/7).
Menanggapi peristiwa yang menimpa kedutaan negaranya Menlu Hillary Clinton mengatakan, “Presiden Al Assad tidak diperlukan lagi, dan kami sama sekali tidak berharap ia tetap memegang kekuasaannya.”
“Menurut perspektif kami, ia telah kehilangan legitimasi,” kata Clinton.*