Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Semakin Banyak Imam di Amerika Serikat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Juni 2012 09:55
Bagikan
Pdt Al Bunis dari Plymouth dan Imam Khalil Abdur-Rashid di sebuah acara
Bagikan

Hidayatullah.com–Menurut sebuah penelitian tentang pemeluk agama di Amerika belum lama ini, Islam menjadi salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Yang boleh jadi tak disadari oleh banyak orang Amerika adalah bahwa ketika kelompok ini tumbuh berkembang, para ulamanya pun dengan cepat berkembang.

Bagi pemeluk Yahudi dan Kristen, para pemuka agama – rabbi dan pendeta – menjalankan berbagai macam peran. Mereka adalah pemimpin kehidupan beragama, yang bertindak sebagai pengurus jemaat dan pemimpin peribadatan. Namun, tak seperti para rabbi dan pendeta di Amerika Serikat, para imam cenderung tidak bertindak dalam kapasitas pelayan masyarakat seperti menyambangi orang sakit dan lansia, memberikan konseling, dan memimpin berbagai program untuk anak muda.

Para pemuka Islam di Amerika umumnya terdidik di Amerika Serikat, dengan fokus pada keulamaan atau lembaga tradisional di luar negeri – yang keduanya tak menekankan kepedulian terhadap masyarakat. Para imam juga tidak terlatih untuk menjalin hubungan dengan media, dan masjid umumnya tidak berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat seperti halnya gereja dan sinagog di Amerika Serikat.

Namun, kini sikap para pemuka agama dalam komunitas orang Amerika Muslim tengah berubah. Para imam mengambil banyak peran termasuk memberi layanan sosial kepada masyarakat, dan lebih banyak bekerja dengan anak muda.

Mengapa ini terjadi? Mungkin ada kaitannya dengan fakta bahwa semakin banyak imam kelahiran Amerika.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Kendati belum ada data statistik yang konkrit, beberapa pakar tentang Islam di Amerika telah memperhatikan tren ini. Namun, alasan utamanya adalah bahwa ada lebih banyak perhatian yang diarahkan pada kebutuhan-kebutuhan jamaah, dan hampir dua per tiga orang Amerika Muslim lahir di Amerika Serikat. Banyak dari mereka memandang bahwa layanan sosial bagi masyarakat adalah bagian integral peran pemuka agama. Anak-anak muda Amerika Muslim mengharapkan adanya para imam yang mau aktif terlibat dalam masyarakat – dan mereka pun pada gilirannya memenuhi harapan ini.

Para pemuka agama harus bisa bicara dalam bahasa dan budaya masyarakat mereka. Di Amerika, ini berarti harus bisa mengurus salah satu komunitas Muslim paling majemuk di dunia, khususnya ketika perbedaan yang terkait etnis dan aliran dalam Islam menjadi kian kurang penting bagi komunitas orang Amerika Muslim.

New York adalah mikrokosmos dari beberapa perubahan positif ini. Khalid Latif dan Khalil Abdur-Rashid, yang masing-masing adalah ulama di New York University dan Columbia University, tengah menciptakan ruang terbuka tempat semua Muslim disambut dengan baik. Sunni dan Syiah shalat berjamaah.

Lingkungan kampus juga memungkinkan mereka melakukan program pemberdayaan masyarakat. Misalnya, banyak universitas kini memiliki program “puasa untuk galang dana” di bulan Ramadan, yaitu mahasiswa dari semua latar belakang didorong untuk menyumbangkan biaya sekali makan ke lembaga amal. Dalam banyak hal, Latif dan Abdur-Rashid mewakili profil pemuka Amerika Muslim masa depan: terbuka, fokus pada masyarakat, dan terlatih untuk menjalankan berbagai macam peran.

Yang lebih penting, mereka bekerja dengan orang lain dan lembaga lain. Meski dulu Muslim jarang sekali terwakili dalam program-program masyarakat, ini pun sekarang berubah.

Ada semakin banyak imam yang tengah belajar bagaimana secara aktif berhubungan dengan masyarakat tempat mereka hidup. Misalnya, selain melayani komunitas kampus Universitas New York, Latif juga menjadi imam di Kepolisian New York City.

Namun, mendorong para imam untuk mengambil peran kemasyarakatan yang lebih luas belum cukup. Yang dibutuhkan – dan yang makin sering kita lihat – adalah kerjasama dari beragam pelaku masyarakat. Tokoh agama, akademisi, aktivis dan pengurus masyarakat secara bersama-sama menjadi pemuka masyarakat Amerika Muslim.

Dengan menyadari keterlibatan ulama dalam komunitas tersebut, ini menguntungkan setiap orang; mereka bisa melakukan hal terbaik yang yang bisa mereka lakukan, dan berbagi kerja dengan orang-orang lain. Pada saat yang sama, para imam Amerika Muslim juga menjalankan peran yang beragam dan mengubah wajah Islam di Amerika.*

Hussein Rashid, guru besar Hofstra University dan Redaktur Asosiat dari Religion Dispatches. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerikaimamislamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hari Ini, Pengadilan Mesir Umumkan Putusan atas Mubarak
Tulisan selanjutnya Rekomendasi BAKORPAKEM Tunggu Fatwa MUI Bandung Barat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?