Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Penguasaan Komoditi dan Penguasaan Ekonomi…

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 November 2012 11:12
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

Kita semua pada umumnya adalah produsen dan konsumen sekaligus. Kita memproduksi barang atau jasa A, dan membutuhkan produk barang atau jasa B. Dalam proses konversi antara yang kita produksi A menjadi yang kita butuhkan B inilah dibutuhkan medium of exchange – yaitu uang. Sayangnya uang yang kita pakai untuk medium of exchange selama ini sangat tidak efisien.

Kalau kita memproduksi jagung dan kita butuh beras setahun kemudian, kehilangan proses penukaran ini bisa mencapai sekitar 9 % di Indonesia – yaitu angka inflasi rata-rata per tahun bahan pangan selama 5 tahun terakhir.

Hal yang sama terjadi pada skala negara, kita memproduksi gas, emas, hasil hutan dlsb., pada saat yang bersamaan kita butuh pesawat terbang, computer, mesin-mesin pabrik dlsb. Produksi kita dijual dan kita menerima Dollar untuk digunakan membeli barang-barang yang kita butuhkan.

Karena ada jeda waktu antara kita menjual produk dan membeli kebutuhan, selama jeda waktu tersebut Dollar simpanan kita (cadangan devisa) terus mengalami penurunan. Terhadap kambing (yang setara emas) misalnya, Dollar menurun daya belinya 18 % per tahun rata-rata selama 10 tahun terakhir.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Lantas bagaimana agar dalam proses menukar produk kita dengan produk yang kita butuhkan tersebut tidak terjadi in-efficiency yang begitu nyata ?, jawabannya ya tidak menggunakan uang yang rentan terhadap in-efficiency tersebut (baca inflasi).

Cuma masalahnya adalah menyimpan kambing tidak semudah menyimpan uang, menjual kambing juga tidak semudah membeli barang dengan uang. Apa solusinya ?, itulah dibutuhkan pasar sehingga barang atau komoditi apapun dapat dipertukarkan dengan cepat dan mudah.

Pasar juga membutuhkan satuan nilai (unit of account) agar satu barang-mudah ditukar dengan barang lain dengan nilai yang sesuai untuk masing-masing barang. Unit of account seharusnya juga standard dan bernilai relatif tetap terhadap barang lain. Kalau 1 unit of account 10 tahun lalu cukup untuk membeli kambing, sekarang juga harus cukup.

Apakah ini bisa terjadi bila unit of account-nya Rupiah, Dollar dlsb ?. Statistik menunjukkan tidak, karena harga kambing melonjak sampai sekitar 5 kali selama 10 tahun terakhir saja bila dibeli dengan Rupiah maupun Dollar. Yang terbukti stabil selama 1400 tahun lebih adalah emas atau Dinar – maka Dinar itulah sesungguhnya unit of account atau timbangan yang adil itu.

Bagaimana menyikapi Dinar yang nilainya terlalu besar untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti telur , sayur, beras dlsb. ?. Timbangannya tetap timbangan yang adil, tetapi nilainya bisa saja dipecah menjadi unit yang sangat kecil misalnya 1 ¢¢ ( dibaca 1 sen-sen) atau 1/10,000 Dinar.

Bagaimana mencetak koin dengan satuan 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ atau koin emas seberat 0.000425 gram itu ? Jawabannya ya tidak harus dicetak !. Berbagai teknologi yang ada di jaman ini bisa dengan mudah menggantikan fungsi koin 1 ¢¢ tersebut. Tinggal emasnya dititipkan di sebuah institusi yang terpercaya (Trusted Third Party), penggantinya bisa kupon, digital record dlsb.

Dalam sejarah Islam, institusi yang menerima titipan emas tersebut disebut al-Sharf – dan ‘kupon’ yang diberikan untuk dapat ditukar kembali dengan emas – bahkan di negeri yang jauh – disebut al-Suftajah.

Melalui keberadaan al-Sharf dan produknya al-suftajah tersebutlah dahulu negeri-negeri Islam yang sangat luas wilayahnya-pun memiliki system medium of exchange yang efisien dan tidak tergerus oleh inflasi. Medium of exchange ini berdasarkan komoditi, karena inilah medium of exchange yang disebut dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh hampir seluruh perawi itu.

“(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”. (HR. Muslim)

Sayangnya negeri yang nampaknya paling memahami kekuatan komoditi sebagai store of value (penyimpan nilai), unit of account (satuan nilai) dan sekaligus juga medium of exchange (alat tukar) itu kini bukan negeri muslim – tetapi malah negeri China.

Chinalah sekarang negeri yang paling agresif mengumpulkan berbagai komoditi baik oleh pemerintah atau swasta/rakyatnya, baik itu emas, perak, tembaga sampai komoditi-komoditi yang sangat khusus – dibutuhkan dalam perlombaan teknologi jaman ini tetapi tidak banyak yang bisa memproduksinya.

Bahkan di negeri-negeri lain nama komoditi tersebut belum dikenal. Kalau saya sebut neodymium, europium, dan cerium misalnya – pasti belum banyak yang mengetahui benda apa itu.

Itulah kekuatan China di bidang komoditi, karena hanya Chinalah yang menguasai rare earth elements ini. Neodymium diperlukan untuk memproduksi magnet permanent dan teknologi laser, Europium diperlukan untuk teknologi fiber optic dan LED lights, penerangan hemat energy kedepan. Cerium dibutuhkan untuk fluid-cracking catalyst yang bisa meningkatkan hasil dan mengurangi energy yang dibutuhkan dalam industri perminyakan.

Untuk komoditi pangan, China pula yang telah memperkenalkan dioscorea flour – yang tidak lain sebenarnya adalah tepung gembili yang kita-pun sesungguhnya bisa memproduskinya dalam skala besar – bila kita ada awareness ke sana.

Bagaimana China bisa unggul dalam komoditi-komoditi tersebut di atas ?, karena mereka tahu bahwa komoditi-lah uang yang sesungguhnya itu. Sementara negeri-negeri lain mengira bahwa uang itu adalah Rupiah, Dollar dlsb. yang nilainya mudah sekali terdistorsi turun.

Umat ini sesungguhnya telah diberitahu oleh Rasul-nya bahwa jual beli itu dengan komoditi sebagaimana hadits shahih di atas, tetapi ketika petunjuk itu diabaikan – maka penguasaan ekonomi dunia inipun tidak ditangan umat ini. Penguasaan ekonomi itu ditangan yang menerapkan petunjuk tersebut ! Wa Allahu A’lam.

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga Inggris Krisis Gizi karena Krisis Finansial
Tulisan selanjutnya MER-C Tak Akan Tarik Relawannya dari Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?