Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Idris Salim, Komandan Oposisi yang Harus Selalu Terjaga

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 30 Desember 2012 23:10
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Tetap terjaga di tengah malam. Itulah hal terberat yang dirasakan oleh Salim Idris, komandan tertinggi pasukan oposisi Suriah yang baru diangkat bulan Desember 2012 ini di Turki.

Mantan jenderal yang membelot dari militer rezim Suriah lima bulan lalu itu mengaku harus pindah dari satu rumah aman ke rumah lain sejak menjadi komandan pasukan oposisi. Dia bahkan bisa berganti markas dua kali dalam satu malam, ketika dicurigai ada mata-mata rezim yang mengintai.

“Ketakutan terbesar” Idris adalah kemungkinan Presiden Bashar al-Assad yang semakin terjepit itu memutuskan untuk menggunakan senjata kimia. Teman-teman Idris yang masih berada di lingkungan militer rezim memperingatkannya akan hal itu.

Logistik juga merupakan bagian dari kekhawatirannya. Pria lulusan Jerman berusia 55 tahun dan mengajar elektronika di akademi militer Suriah itu harus berkomunikasi menggunakan Skype dengan para bawahannya. Komunikasi penting di antara mereka seringkali terputus karena baterai laptopnya habis dan tidak ada suplai listrik untuk melanjutkannya.

Komandan pasukan lokal di lapangan menjadi tantangan tersendiri. Misalnya saja di daerah Maarit Misrin di Provinsi Idlib di mana dia dicap sebagai pahlawan kesiangan. Para komandan lokal dari suku setempat yang biasa mengambil keputusan sendiri di lapangan menilai Idris terlambat bergabung dengan pasukan oposisi dan dia tidak pantas menjadi pemimpin mereka, sebab belum merasakan bahaya yang sebenarnya di lapangan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Meskipun demikian, Idris merasa terpilih sebagai komandan tertinggi secara layak. Ratusan komandan yang bertemu dalam konferensi di Turki itu mewakili sebagian besar kelompok pejuang oposisi Suriah. Para komandan pasukan di lapangan menunjuk 260 orang sebagai anggota dewan militer, yang kemudian memilih 30 di antara mereka sebagai pemimpin militer. Kelompok kecil itu kemudian yang bersepakat mengangkat Idris sebagai komandan tertinggi mereka.

Idris, yang berkarir di militer Suriah selama 35 tahun, menetap di Turki setelah membelot pada bulan Juli lalu.

Dia sudah membentuk lima pusat operasi regional, dengan menempatkan 15 bekas anggota militer Suriah di masing-masing wilayah operasi militer itu.

Latar belakang anggota pasukan oposisi yang beragam, di mana sebagian besar berasal dari rakyat sipil, menjadi kendala tersendiri. Kekacauan sering terjadi di lapangan, sebab pasukan mereka sebagian besar tidak pernah menjalani latihan miiter.

“Di militer ada disiplin. Tapi di sini disiplin sangat minim. Kami perlu banyak kesabaran,” katanya dalam wawancara dengan Associated Press Selasa malam (18/12/2012) di lobi bekas sebuah hotel yang terbengkalai di Antakya perbatasan Turki-Suriah.

Perpindahannya dari tempat persembunyian satu ke tempat lain sering terganggu. “Kami membawa peta. Kadang kami kehilangan sesuatu, sebab tidak terorganisir dengan baik. Tapi apa mau dikata, kami tidak punya pilihan.”

Keberadaan pejuang dari kelompok Islam yang dicap teroris oleh Barat menjadi kendala pasokan senjata dari luar negeri. Keberadaan mereka dijadikan alasan negara-negara Barat tidak memasok pasukan oposisi dengan persenjataan canggih untuk melawan pendukung Bashar al-Assad.

Menurut Idris, jika mereka mendapat pasokan senjata yang canggih, oposisi dapat mengalahkan Assad dan pendukungnya dalam waktu satu bulan saja. Tapi tanpa bantuan senjata dari luar negeri, upaya itu bisa berlangsung berbulan-bulan.

Idris mengatakan Assad “bisa dan akan” menggunakan senjata kimia, kecuali masyarakat internasional menekannya untuk segera hengkang.

“Kami tahu persis di mana keberadaan mereka (senjata kimia Assad-red) dan kami mengawasi semuanya,” kata Idris. “Tapi kami tidak punya kemampuan untuk menguasainya,” imbuhnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Benci Muslim, Wanita Amerika Bunuh Pria India
Tulisan selanjutnya Dari Pelayan Kuil Hindu Menjadi Hamba Allah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelatih Irlandia Menyebut Timnya Jengkel Harus Melawan ‘Israel’

Berita
23 September 2026 14:23
Lewat MIHAS, Malaysia Bidik Penguatan Jejaring Halal Dunia
Kompleks Makam Imam Al-Bukhari Kembali Dibuka Usai Renovasi Besar-Besaran
Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
Hari Solidaritas Hijab, Muslimat Hidayatullah Jaksel Ajak Muslimah Bangga Berhijab

Terbaru

  • Siti Hasmah Mohamad Ali, Istri Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100
  • Timnas Irlandia Tolak Jabat Tangan dengan ‘Israel’ sebelum Libas Tiga Gol Tanpa Balas
  • Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut Amerika di Selat Hormuz
  • Warga Maroko di Belasan Kota Gelar Demo Tolak Normalisasi Pemerintahnya dengan ‘Israel’
  • Drone ‘Israel’ Meledak, Tewaskan Dua Tentaranya Sendiri
  • Uganda Tangguhkan Kerja Sama Militer dengan Turki Terkait Ekstradisi Pengkritik Presiden Museveni
  • Presiden Brazil Teken Larangan Judi Online
  • Pemerintah Italia Setuju Larangan Burqa dan Niqab, Serta Pembatasan Siswa Asing
  • Pos Polisi Pakistan Dibom Sedikitnya 11 Nyawa Melayang
  • Orang Terkaya Afrika Bantu Pembangunan Jaringan Pipa BBM antara Ethiopia dan Djibouti

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?