Menilik pabrik kecap tradisional yang mampu bertahan di tengah gempuran produsen-produsen kecap modern berskala besar.
Asap tipis menyelimuti ruang produksi di sebuah pabrik. Hawa panas pun terasa menyengat kulit tangan dan muka. Tetapi, semua seolah hilang ketika aroma khas kecap mulai menusuk hidung.
Di ruangan itu, ada beberapa tungku, kuali raksasa, dan ember-ember besar yang terbuat dari kayu. Sementara di sudut lainnya, beberapa pekerja sedang mengisi botol-botol berbagai ukuran dengan cairan kental berwarna hitam.
“Inilah ruang produksi kecap Segi Tiga,” ujar Agus Sudianto, kordinator pemasaran perusahaan kecap Segi Tiga, ketika ditemui Suara Hidayatullah di pabrik tersebut, beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah, kecap Segi Tiga masih bisa bertahan sampai sekarang,” imbuhnya penuh syukur.
Menurut Agus, ratusan pabrik kecap berdiri di Majalengka, Jawa Barat pada tahun 70 hingga 90-an. Namun, satu persatu berguguran. Salah satu pabrik kecap yang masih bertahan dan merasakan manisnya bisnis “si kental hitam” hingga sekarang adalah kecap Segi Tiga. Lantas, apa kiatnya bisa bertahan dan terus berkembang?
Menjaga Mutu dan Kualitas
Pria lulusan Universitas Islam Bandung (Unisba) Fakultas Hukum ini memberi kiat-kiatnya. Pertama, pengelola kecap Segi Tiga selalu menjaga mutu serta kualitas. Kedua, kreatif atau mengikuti perkembangan zaman, seperti memproduksi kecap manis yang bervariasi tingkatannya. “Dulunya hanya sebatas rasa asin,” kata Agus.
Ketiga, menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan dan para agen. Keempat, memasarkan kecap ke pasar modern, seperti ke Jogja Dept Store, Surya Swalayan, 17 Swalayan, Majalengka Mart, dan lain-lain.
Selain itu, memasarkan produk melalui media sosial, seperti facebook, whatsapp, instagram, serta media online lainnya. Ada bonus dari perusahaan apabila target perusahaan tercapai atau bahkan melebihi.
Kini, perusahaan kecap Segi Tiga punya karyawan sebanyak 34 orang. Perusahaan ini setiap bulan mampu memproduksi lima ribu botol. Bahkan, kadang bisa lebih, tergantung permintaan pasar.
Selain di Kabupaten Majalengka, wilayah pemasarannya juga telah merambah ke beberapa kota sekitarnya seperti kabupaten Subang dan Indramayu.
Beragam Ukuran dan Rasa
Perusahaan kecap Segi Tiga memproduksi berbagai ukuran kemasan. Ada yang 135 mililiter (ml), 250 ml, 500 ml, dan 600 ml. Bahkan ada yang curah. Ukurannya 1 liter dan 5 liter.
Kecap Segi Tiga pun menyajikan berbagai rasa seperti asin, manis, manis sedang, dan asin sedang.
Adapun soal harga, cukup bervariasi. Kecap manis 135 ml dibandrol Rp 7.000, kecap manis 300 ml Rp 14.500. Kecap asin 135 ml Rp 6.000, kecap asin 300 ml Rp 12.500, dan kecap manis sedang 135 ml Rp 6.500.
Selain itu, ada juga yang dijual secara curah atau jerigen. Kecap rasa asin 1 liter Rp 35.000, kecap asin 5 liter Rp 175.000, kecap manis 1 liter Rp 40.000, kecap manis 5 liter Rp 200.000, dan kecap manis sedang 5 liter Rp 187.500.
Sebagai wujud syukur kepada Allah, Sang Pemberi rezeki, maka para karyawannya diminta untuk menjaga dan meningkatkan ibadah. Misalnya setiap akan memulai pekerjaan diawali dengan doa bersama. Lalu, karyawan diwajibkan shalat Zhuhur dan Ashar berjamaah di mushala pabrik. Selain itu ada anjuran untuk bersedekah.
Agus sendiri pun aktif mengikuti kegiatan keislaman seperti halaqah pekanan dan majelis taklim. “Semoga ikhtiar dari sisi manajemen dan spiritual ini menjadi jalan kemudahan, kemajuan, dan keberkahan,” harapnya.
*Kisah selengkapnya, bisa dibaca di rubrik Muamalat majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2021.