Hidayatullah.com – Pada penghujung Januari hingga awal Februari 2025, seorang aktivis kemanusiaan Indonesia melakukan perjalanan berisiko tinggi ke Palestina dengan misi ganda: menyalurkan bantuan kemanusiaan dan menyaksikan langsung kondisi nyata di sekitar Masjidil Aqsa. Pengalaman yang diperoleh selama kunjungan tersebut memberikan gambaran mendalam tentang situasi umat Islam di tanah suci yang masih berada di bawah pendudukan Israel.
- Landasan Syariah untuk Misi Kemanusiaan
- Perjalanan Penuh Tantangan
- Kompleks Masjidil Aqsa dan Pembatasannya
- Realitas Menyedihkan di Lapangan
- Pengalaman Khusus di Malam 27 Rajab
- Keajaiban dalam Misi Kemanusiaan
- Pesan dari Para Imam
- Interaksi dengan Anak-anak Palestina
- Kunjungan ke Pengungsi di Jordania
- Hikmah dan Refleksi
Perjalanan ini bukanlah keputusan yang diambil dengan mudah. Motivasi awal justru dilandasi oleh kehati-hatian, mengingat fatwa Syeikh Yusuf Al Qardhawi yang menyatakan bahwa kaum muslimin sebaiknya tidak mengunjungi Masjidil Aqsa atau Palestina selama wilayah tersebut masih dikuasai Israel.
Pertimbangan utama dari fatwa tersebut adalah kekhawatiran bahwa kunjungan wisata biasa hanya akan memberikan keuntungan finansial kepada pihak Israel melalui visa dan berbagai biaya lainnya. Pengalaman pribadi dalam pengurusan visa memperkuat kekhawatiran ini, di mana visa Israel ternyata merupakan yang termahal dibandingkan negara-negara lain, namun hanya berupa selembar kertas kecil.
Landasan Syariah untuk Misi Kemanusiaan
Namun demikian, setelah melakukan kajian lebih mendalam, ditemukan ijtihad beberapa ulama yang membolehkan kunjungan ke Palestina jika memiliki misi khusus, bukan sekadar berwisata. Misi tersebut antara lain untuk menyampaikan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan penduduk Palestina melalui lembaga kemanusiaan resmi, termasuk yang dimiliki Dewan Dakwah.
Tujuan lainnya adalah untuk menyaksikan dan kemudian menyebarluaskan kondisi riil yang terjadi di Palestina, khususnya di Masjidil Aqsa, kepada umat Islam di seluruh dunia. Hal ini dianggap penting mengingat minimnya informasi akurat tentang situasi sebenarnya di lokasi tersebut.
Landasan utama yang memperkuat keputusan ini adalah hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam yang menyebutkan bahwa tidak dianjurkan bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga tempat suci: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Ketika ada sahabat yang bertanya tentang ketidakmampuan melakukan perjalanan tersebut, Nabi SAW menyarankan untuk memberikan minyak untuk menerangi masjid-masjid tersebut, yang dalam konteks modern dimaknai sebagai bantuan kemanusiaan.

Perjalanan Penuh Tantangan
Perjalanan dimulai dari Mesir menuju Palestina melalui jalur darat. Meski secara umum berjalan lancar atas pertolongan Allah, terdapat beberapa pemeriksaan ketat terkait paspor dan dokumen perjalanan.
Ketika tiba di pintu masuk wilayah Palestina, pemandangan pertama yang menyambut adalah tidak adanya bendera Palestina. Yang terlihat hanyalah bendera Israel yang berkibar di mana-mana, menunjukkan realitas pendudukan yang masih berlangsung.
Setelah berhasil masuk ke kota Yerusalem atau Baitul Maqdis dan menginap di hotel, keesokan subuhnya menjadi momen bersejarah. Atas izin Allah, ia dapat melaksanakan shalat Subuh di Masjidil Aqsa setelah melewati lorong-lorong bersejarah yang usianya mencapai ribuan tahun, saksi bisu perjalanan sejarah dari zaman para nabi hingga masa Shalahuddin Al Ayyubi.
Kompleks Masjidil Aqsa dan Pembatasannya
Di dalam kompleks Masjidil Aqsa terdapat dua bangunan masjid utama: Masjid Khubatushaqra (atau Masjid Kubah Kuning) dan Masjid Qibli. Selain itu, ada beberapa masjid lainnya yang memiliki nilai sejarah dan kisah tersendiri.
Keinginan untuk berkomunikasi langsung dengan para imam masjid dan memberikan bantuan uang secara langsung ternyata tidak diperbolehkan dengan alasan keamanan para imam tersebut. Hal ini menunjukkan tingkat pembatasan dan pengawasan yang ketat dari pihak otoritas Israel.
Meskipun berhasil melaksanakan shalat Subuh di Masjidil Aqsa, akses ke area tersebut sudah ditutup kembali sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Pengalaman spiritual yang dirasakan sulit diungkapkan dengan kata-kata – perasaan syukur yang mendalam atas izin Allah untuk dapat beribadah di tempat suci tersebut, sekaligus beban berat melihat kenyataan bahwa Masjidil Aqsa masih berada di bawah kekuasaan Israel.

Realitas Menyedihkan di Lapangan
Salah satu kenyataan menyedihkan yang disaksikan adalah tidak adanya pemuda yang diizinkan melaksanakan shalat di Masjidil Aqsa. Jamaah yang terlihat kebanyakan adalah orang-orang sepuh. Cerita dari murabit (penduduk sekitar) mengkonfirmasi pembatasan ini.
Untuk memasuki kompleks Masjidil Aqsa, pengunjung harus melewati tiga kali pemeriksaan yang sangat ketat oleh tentara Israel – di awal, tengah, dan akhir sebelum memasuki wilayah masjid. Bagi mereka yang melakukan perjalanan mandiri tanpa biro perjalanan, tantangan ini menjadi lebih berat karena tidak ada pemandu.
Aktivitas di masjid juga sangat terbatas. Setelah shalat Maghrib dan Isya, biasanya ada tausiyah dari para imam. Namun sekitar pukul 8-9 malam waktu setempat, masjid harus dikosongkan dan tidak boleh ada aktivitas di dalamnya. Peringatan ini ditandai dengan bunyi sirine yang dilakukan tentara Israel dari luar masjid.
Jika hingga jam 9 malam masih ada jamaah yang ramai, tentara Israel akan bertindak lebih agresif dengan memaksa jamaah keluar dari masjid dan halaman dengan cara ditarik atau didorong.
Pengalaman Khusus di Malam 27 Rajab
Pengalaman menarik terjadi pada malam 27 Rajab, di mana ia berkesempatan shalat di Masjid Khubatushaqra yang tidak ada penjagaan tentara Israel di sekitarnya, berbeda dengan Masjid Qibli yang dijaga ketat.
Pada malam tersebut, semua pintu masjid ditutup untuk pengunjung, baik yang datang mandiri maupun melalui tur. Namun keesokan paginya sekitar jam 9, pintu-pintu dibuka kembali. Menurut warga setempat, ini seperti hari raya di mana warga saling bertemu dan berbagi makanan atau hadiah, seakan otoritas Israel memberikan izin khusus.
Keajaiban dalam Misi Kemanusiaan
Salah satu pengalaman yang dinilai sebagai keajaiban Allah terjadi saat membawa bantuan uang untuk diserahkan kepada para imam. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa pengunjung asing tidak boleh membawa uang lebih dari US$ 500, dengan risiko disita jika ketahuan.
Namun atas kuasa Allah, meskipun membawa sekitar US$ 1.700, setiap kali diperiksa tentara Israel, mereka mencatat jumlah uang yang dibawa tidak mencapai US$ 500. Hal ini memungkinkan bantuan tersebut dapat diserahkan langsung kepada para imam dan masyarakat yang membutuhkan.
Pesan dari Para Imam
Para imam yang ditemui menyampaikan pesan mendalam tentang kondisi umat Islam saat ini. Mereka menyatakan bahwa kaum muslimin sedang berada di titik nadir di mana Masjidil Aqsa dikuasai oleh Zionis Israel, sementara umat Islam di seluruh dunia belum mampu merebutnya kembali.
Masjidil Aqsa merupakan warisan dan titipan Rasulullah yang harus dijaga oleh kaum muslimin hingga hari kiamat. Ini juga merupakan amanah dari Umar bin Khattab yang kini tergantung di pundak umat Islam untuk segera dibebaskan, sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa suatu saat Masjidil Aqsa akan kembali ke pangkuan kaum muslimin.
Interaksi dengan Anak-anak Palestina
Pengalaman menyentuh terjadi saat bertemu dengan anak-anak di sekitar Masjidil Aqsa. Ketika membagikan kue kepada mereka, hampir saja ditangkap tentara Israel karena dikira sedang membagi-bagikan uang.
Anak-anak tersebut menunjukkan keceriaan meski telah kehilangan orang tua mereka. Dari wajah mereka terpancar ketegaran dan tidak ada rasa takut. Ketika ditawarkan secara bercanda untuk tinggal dan ikut menjaga Masjidil Aqsa, mereka dengan tegas menyatakan tidak perlu dan lebih baik kembali ke Indonesia. Mereka masih sanggup menjaga Masjidil Aqsa, sementara muslim di luar Palestina bisa membantu sesuai kemampuan masing-masing.
Kunjungan ke Pengungsi di Jordania
Perjalanan pulang juga menyempatkan kunjungan ke pengungsi Palestina di Jordania. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, terutama di musim dingin, sehingga bantuan pangan dan obat-obatan sangat dibutuhkan.
Hikmah dan Refleksi
Beberapa hikmah penting dapat dipetik dari perjalanan ini. Pertama, kondisi riil Palestina khususnya di Masjidil Aqsa memang sangat memprihatinkan dengan kaum Zionis Israel yang masih menguasai, bahkan menistakan dan mengotori tempat suci tersebut.
Kedua, meskipun akses ke Palestina dan Masjidil Aqsa tidak mudah dengan berbagai pemeriksaan ketat, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Dengan kuasa Allah dan ikhtiar maksimal, pintu tersebut masih terbuka.
Ketiga, bagi yang berkesempatan mengunjungi Masjidil Aqsa, niat tidak boleh hanya sekadar bertamasya atau ziarah semata. Harus ada misi untuk mencari informasi dan kemudian menyampaikannya kembali setelah pulang ke tanah air, serta meningkatkan semangat dalam membela dan mendukung kemerdekaan Palestina.
Pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang operasi Hamas yang bernama Thufan Al-Aqsha sebagai misi yang harus didukung oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Informasi tentang kondisi riil di Palestina harus terus disebarluaskan sebagai tugas bersama umat Islam.*
KH.Muhammad Roinul Balad, Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jawa Barat/DDII Jabar




