Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Desember 2022 21:37 9:37 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Desember 2022 23:18
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Jarum jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, tapi Munajab (65 tahun) sudah terlihat rapi. Tak jarang, dia juga menyiapkan bekal untuk makan siang.

Sebelum mentari menampakkan sinarnya dari ufuk timur, ia memang sudah harus meninggalkan kediamannya di daerah Pandaan, Pasuruan, menuju Kampung Budi Daya Rumput Laut Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo.

“Biar nggak kesiangan sampai sini,” ujar Munajab sambil membolak-balik rumput laut jenis Gracilaria sp. yang dijemur di atas rak-rak bambu di pinggiran tambak.

Saban hari, Munajab harus menempuh perjalanan selama hampir 1,5 jam dengan mengendarai sepeda motor. Meskipun jauh, ia sangat bersyukur bisa mendulang rezeki dari Kampung Budi Daya Rumput Laut Desa Kupang. Sebab, dari situ ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, termasuk membiayai sekolah anak-anaknya.

“Saya jadi buruh di sini sudah hampir 8 tahun,” aku ayah dari tiga anak ini seraya menyungging senyum kepada Hidayatullah.com, Senin (5/12/2022).

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

Pria asal Trosobo, Sidoarjo, ini mengaku memperoleh upah 1,7 juta rupiah dari 1 ton rumput laut kering yang dihasilkan. Upah tersebut ia dapatkan setiap selesai penimbangan di gudang “Samudera Hijau Satu” Kampung Budi Daya Rumput Laut Desa Kupang.

“Kalau musim kemarau, penimbangan bisa dilakukan setiap 10 hari sekali. Namun untuk musim hujan seperti sekarang itu bisa 13-15 hari baru penimbangan. Sebab harus menunggu sampai kering,” jelas Munajab yang biasa mengambil libur 2 hari setiap selesai “gajian”.

Dari Potensi 1.200 Hektar, Baru Tergarap 800 Hektar

Setelah suskes dikembangkan, potensi rumput laut di Desa Kupang ternyata amat besar. Bahkan, menurut Amin Tohari, pengurus Samudera Hijau Satu—Kelompok Pembudidaya Rumput Laut Desa Kupang, hasilnya bisa berkali-kali lipat dibanding dengan budi daya udang maupun bandeng yang sudah lebih dulu dibudidayakan.

“Kalau bagus, tambak seluas 1 hektar itu mampu menghasilkan 2 ton rumput laut kering atau dari 1 kwintal (basah,-red) bisa menghasilkan 15 kilogram rumput laut kering,” jelas Tohari kepada Hidayatullah.com, Senin (5/12/2022).

Di Desa Kupang sendiri, lahan tambak yang kini digunakan untuk pembudidayaan rumput laut sekitar 800 hektar dan dikelola oleh 167 pelaku utama Rumah Tangga Pembudidaya (RTP). Artinya, dari lahan seluas itu jika tergarap seluruhnya dengan baik, maka mampu menghasilkan 1.600 ton rumput laut kering.

Sementara, Tohari menambahkan, potensi lahan tambak yang bisa dimanfaatkan untuk budi daya rumput laut di tanah kelahirannya tersebut bisa mencapai 1.200 hektar.

“Untuk harga kering per kilogramnya dari petani itu variatif. Sekarang ini ada yang 6.000. Ada juga yang 6.300. Ya.., tergantung dari kualitasnya,” jawab Tohari ketika ditanya soal harga jual rumput laut kering dari para petani tambak ke tengkulak.

Mengenai siklus panennya, Tohari menjelaskan, rumput laut di Desa Kupang baru dapat dipanen setelah 2 bulan dari waktu tanam. Namun, dia menegaskan, untuk panen pertama, tidak boleh diambil semuanya. Tujuannya agar rumput laut yang baru ditanam tersebut dapat merata terlebih dahulu ke seluruh penjuru tambak.

“Sekali tanam, rumput laut dapat dipanen terus menerus. Itu nggak ada habisnya. Kecuali ada penyakit atau faktor alam. Seperti punya saya, itu tanam awal tahun 2015, sampai sekarang masih ada,” papar Tohari yang punya tambak warisan dari orangtuanya seluas 10 hektar.

Dicanangkan Sebagai Kampung Percontohan

Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono telah mencanangkan Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) sebagai percontohan Kampung Budi Daya Rumput Laut.

“Pencanangan Kampung Budi Daya Rumput Laut yang merupakan terobosan KKP ini diyakini dapat mendukung optimalisasi peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya di daerah,” terang Trenggono, dikutip Hidayatullah.com dari siaran persnya, Rabu (20/4/2022).

Trenggono datang langsung ke lokasi budi daya rumput laut ini dalam rangka ingin menjadikan Desa Kupang sebagai kampung percontohan terkait budi daya rumput laut, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Di Desa Kupang sendiri, komoditas unggulannya adalah jenis Gracilaria sp (rumput laut merah) yang memiliki nilai ekonomis tinggi untuk keperluan industri modern, baik itu di bidang pangan maupun non-pangan.

“Total produksi rumput laut mencapai 200-500 ton per bulan dengan harga jual kurang lebih Rp 6.000 per kilogram. Perputaran ekonomi rumput laut di kawasan Jabon sekitar Rp 1,2-3 miliar per bulan,” jelas Trenggono.

Dengan mengusung konsep Corporate Farming, pencanangan kampung budi daya rumput laut di Desa Kupang ditargetkan bisa menjadi pemicu tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan seperti usaha pengolahan dan sebagainya.

Menurut Trenggono konsep ini dilakukan dengan menyinergikan berbagai potensi guna mendorong berkembangnya sistem usaha perikanan budidaya yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Hasil utama tambak ini harus dikembangkan agar bisa menjadi contoh kampung budi daya yang semakin meningkat produktivitasnya. Untuk itu, KKP melalui DJPB melakukan pendampingan teknologi pada kegiatan polikultur guna meningkatkan nilai tambah,” jelas Trenggono.

Awalnya Sempat Dibuang Oleh Petani Tambak Desa Kupang

Kisah perjalanan budi daya rumput laut di Desa Kupang itu bermula tahun 1990-an, ketika ada seorang pengusaha menunjuk salah satu petani tambak dari Desa Kupang untuk budi daya rumput laut jenis Gracilaria sp.

Waktu itu, kata Tohari, pertumbuhannya sangat bagus. Tapi ternyata tak diambil oleh pengusaha tersebut, sehingga petani tambak membuang ataupun membagi-bagikan rumput laut itu kepada siapa saja yang berminat secara cuma-cuma.

“Nah, yang dibuang itu akhirnya menyebar ke tambak-tambaknya orang,” imbuh Tohari kepada Hidayatullah.com, Senin (5/12/2022).

Kala itu, Tohari menuturkan, pemilik tambak di Desa Kupang masih banyak yang menganggap rumput laut sebagai hama—pengganggu bagi pertumbuhan udang maupun bandeng yang mereka budidayakan.

“Baru sekitar tahun 2000-an itu ada yang laku. Tengkulak pertama namanya Pak Wintari. Dulu harganya masih Rp 600-800 per kilogram,” ujar Tohari.

Kemudian, sekitar tahun 2004, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sidoarjo menunjuk Agus Rofiq dari Desa Kedung Cangkring dan Bustamin dari Desa Kupang guna membudidayakan rumput laut. Pertumbuhannya ternyata juga cukup bagus.

“Istilahnya, mereka sedang promosi. Tanam rumput laut itu begini caranya. Terus keuntungannya juga lumayan. Ada yang merespon, ada juga yang tidak. Tapi sejak itu memang mulai ada geliat dari petani tambak,” jelas Tohari.

Seiring berjalannya waktu, tahun 2009, terjadi kenaikan harga rumput laut. Petani tambak Desa Kupang pun ramai-ramai membudidayakan rumput laut Gracilaria sp tanpa harus meninggalkan budi daya bandeng dan udang. Saat itu, harga jual dari petani tambak ke tengkulak rumput laut bisa mencapai 7500-10.000 per kilogram.

“Setelah itu baru Pak Haji Mustofa terjun di dunia rumput laut. Seingat saya tahun 2013. Sebelumnya jadi penonton saja. Hanya budi daya udang dan bandeng,” kata Tohari.

Waktu itu, masih lanjut Tohari, memang banyak juragan rumput laut yang gulung tikar karena harganya anjlok. Meski kondisinya begitu, katanya, Mustofa memiliki keinginan untuk mencoba budi daya rumput laut, dan ternyata terus berkembang sampai sekarang.

“Sejak Pak Haji Mustofa turun banyak dilirik oleh dinas maupun pengusaha. Tahun 2015 gencar-gencarnya,” kata Tohari yang kemudian mulai ikut membudidayakan rumput laut pada tahun tersebut.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Tutup Acara Rakernas Hidayatullah 2022
Tulisan selanjutnya Maroko Semifinal Ukir Sejarah Baru Piala Dunia, Maroko Jadi Negara Afrika Pertama yang Lolos Semifinal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat

Berita
13 Juni 2026 13:44
Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak
Pasokan Avtur Saudi ke Eropa Melebihi Sebelum Penutupan Selat Hormuz
Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia
Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi

Terbaru

  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tak Hanyut Oleh Banjir: Asa Santri Aceh Tamiang Tetap Menyala
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran
  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?