DUA orang astronot secara tidak sengaja menemukan sebuah benda mirip pesawat luar angkasa. Dari benda itu tiba-tiba muncul beberapa monster jahat pimpinan Rita Repulsa. Rita Repulsa yang sebelumnya sempat tersandera selama 10.000 akhirnya bebas balas dendam menyerang penduduk bumi.
Demikianlah tontanan Power Ranger yang ditonton Shalahuddin di layar kaca hingga membuat matanya tak berkedip.
Power Rangers merupakan sebuah serial televisi yang ditayangkan oleh American Broadcasting Company pertama kali pada 28 Agustus 1993.
Tidak bisa dipungkiri, anak-anak kita hari ini banyak mengenal sosok fiktif yang dipresentasikan secara intens melalui film-film. Para orang tua mungkin tidak menyadari bahwa apa yang masuk dalam otak anak-anak sejak kecil akan tersimpan kuat dalam akal mereka. Tanyakan saja generasi yang lahir di era 80-an, mereka akan mengingat dengan baik siapa itu Satria Baja Hitam, Power Rangers dan Kera Sakti.
Sekalipun saat dewasa sosok-sosok fiktif itu tidak begitu berpengaruh terhadap cara berpikir mereka, tetapi alangkah lebih menguntungkan jika yang anak-anak kita kenal adalah sosok para Nabi, Rasul atau pahlawan-pahlawan Islam yang telah menbubah zaman.
Terlebih kisah yang nyata kebenarannya jauh lebih menghidupkan akal dan mampu membentuk karakter anak dibanding sosok fiktif yang kadang tidak masuk akal.
Banyak kisah dalam Islam yang sesungguhnya bisa dijadikan para orang tua pelajaran pada anak-anak. Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang berkarakter sabar, teguh pendirian dan tidak mudah berkompromi dalam kebathilan, bisa terus diperkenalkan kepada anak-anak. Demikian jika ingin menanmkan karakter kecerdasan, orang tua bisa mengisahkan terus menerus kisah Nabi Ismail yang senantiasa taat dan tidak melihat apapun yang terjadi dalam hidup ini melainkan semua dari Allah Ta’ala.
Ketika orang tua ingin anaknya terhindar dari karakter suka membangkang, menjauhi maksiat dan memegang teguh ajaran Islam, kisah putra Nabi Nuh bisa menjadi bahan untuk menjelaskan kepada anak bahwa ketidaktaatan kepada orang tua dan pembangkangan terhadap ajaran Islam akan mendatangkan kerugian demi kerugian.
Tetapi, adakah kisah-kisah itu memberikan dampak pasti bagi tumbuhnya karakter anak secara menyeluruh?
وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ١٢٠
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenarn serta pengajaran dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud [11]: 120).
Menafsirkan ayat di atas, Ibn Katsir menyimpulkan bahwa dengan menceritakan kisah-kisah Nabi dan Rasul maka anak akan mengerti tentang bagaimana kondisi umat terdahulu, termasuk bagaimana perdebatan dan pertentangan yang terjadi, pendustaan juga siksaan yang dirasakan oleh para Nabi dan bagaimaana Allah menolong Nabi dan Rasul bersama para pengikutnya. Dari sinilah keteguhan hati dengan mempelajari kisah-kisah itu akan hadir dan membentuk karakter anak-anak kita.
Tidak cukup dengan kisah para Nabi dan Rasul dan hamba-hamba Allah yang lain, seperti Luqman Al-Hakim, Siti Maryam, dan Ashabul Kahfi, orang tua bisa menambahkan dengan kisah-kisah para ulama.
Imam Abu Hanifah berkata, “Kisah-kisah tentang para ulama dan keutamaan mereka lebih aku sukai dari kebanyakan permaslahan fikih. Sebab, kisah-kisah tersebut adalah buah dari perilaku manusia. Buktinya adalah ayat Allah لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ yang artinya, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf [12]: 111).
Dengan demikian sejatinya Allah telah memberikan bekal yang lebih dari cukup kepada umat Islam untuk mendidik generasi yang berkarakter, sebab semua kisah yang ada di dalam Al-Qur’an tidak saja mengenalkan sosok manusia agung, tetapi juga akan langsung berdampak pada terbentuknya pola berpikir benar kepada anak.
Tidak berlebihan jika kemudian Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam bukunya “Cara Nabi Mendidik Anak” berkata, “Kisah menempati peringkat pertama sebagai landasan asasi (membentuk) metode pemikiran yang memberikan dampak positif pada akal anak.”
Lantas masihkah para orang tua akan kebingungan mengarahkan putra-putrinya dalam memiliki karakter positif yang Allah dan Rasul-Nya tekankan?
Pertama, pahami dan sadarilah bahwa semua kisah yang ada di dalam Al-Qur’an adalah diceritakan sendiri oleh Allah dan itu adalah kenyataan (bukan fiktif atau khayalan).
Kedua, Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diturunkan kepada Rasul yang mulia (pasti benar dan tidak bisa diragukan). Tetapi, kebanyakan manusia sedikit sekali yang mengimaninya dan sedikit sekali yang mengambil pelajaran (QS. Al-Haqqah [69]: 40-42).
Dengan kata lain, mendidik anak-anak dengan kisah para Nabi dan Rasul tidak semata akan menjadikan anak-anak kita terbentuk dan terbangun karakter positifnya, tetapi di sisi lain juga akan meneguhkan keyakinan kita terhadap kebenaran Al-Qur’an, sekaligus kita menjadi orang yang paling mungkin mengambil manfaat besar dari Al-Qur’an, karena selalu berpikir bagaimana mengambil pelajaran dari kitabullah.
Dengan demikian, insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi tangguh, sabar, ulet dan istiqamah dalam memegang kebenaran Islam. Yang semua itu tidak mungkin didapat dari kisah-kisah fiktif atau khayali belaka, baik dalam bentuk cerita ataupun film-film.*