Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Saintek

Sisi Buram Kegilaan Asia pada Gadget

Dija
Terakhir diupdate: 28 April 2011 20:16 8:16 pm
Dija
Dipublikasikan 28 April 2011 20:16
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sekitar 100 juta telepon seluler sekarang ini terjual setiap tahunnya di wilayah Asia Pasifik dan diperkirakan bertambah dua kali lipat dalam waktu lima tahun. Ini merupakan pasar terbesar di dunia untuk perangkat mobile canggih.

Seiring dengan perkembangan industri telekomunikasi, situs jejaring sosial dan mobile game, bagi kebanyakan pemuda Asia sulit melepaskan diri untuk tidak selalu menggenggam sebuah gadget di tangan atau tidak berinteraksi dengan komputer.

“Saya kira Anda bisa menyebut saya kecanduan,” aku seorang mahasiswi Singapura berusia 22 tahun Hanna Ruslana. Ia lebih banyak bergaul dengan kawan sekolahnya lewat Twitter daripada di kampus.

Hanna mengecek iPhonenya paling tidak setiap 15 menit, memelihara akun di Facebook, Twitter, Foursquare dan LinkedIn. Saat Twitter tidak bisa diakses, dia dan teman-temannya menunggu dengan gelisah.

Tapi apa yang dialami Hanna jauh lebih ringan dibanding para pecandu perangkat elektronik dari Korea Selatan.

Baca Juga

Lithium Air Laut
China Temukan Cara Baru Menambang Lithium Air Laut
7 dari 10 Warga Malaysia Ingin Medsos Dilarang untuk Anak di Bawah 14 Tahun
Warisi Generasi Old, Milenial Akan jadi ‘Generasi Terkaya dalam Sejarah’
Minum Air Zamzam Sembuhkan Sakit dan Kuatkan Hafalan
Ilmuwan Menemukan Koridor Tersembunyi di Piramida Agung Giza Mesir

Desember tahun lalu, seorang ibu ditangkap dengan tuduhan membunuh putranya yang berusia 3 tahun, akibat si ibu kelelahan bermain game online di internet.

Satu bulan sebelumnya, seorang bocah laki-laki berusia 15 tahun bunuh diri gara-gara ibunya memarahi dirinya karena hobinya bermain game.

Bulan Mei 2010, seorang pria berusia 41 tahun dikirim ke penjara selama dua tahun, setelah ia dan istrinya mengabaikan bayi perempuan mereka hingga meninggal karena kelaparan, sementara sehari-hari keduanya memainkan permainan virtual merawat dan membesarkan anak di internet.

Pemerintah Seoul memperkirakan jumlah pecandu internet di negara berpenduduk 50 juta jiwa itu mencapai 2 juta orang.

Mulai tahun ini pemerintah menawarkan perangkat lunak gratis kepada pengguna internet untuk membatasi waktu yang mereka habiskan di dunia maya. Parlemen juga sedang mempertimbangkan sebuah peraturan yang melarang orang berusia di bawah 15 tahun bermain game online mulai tengah malam hingga pukul 6 pagi.

Di Singapura, sebuah survei atas 600 mahasiswa universitas dan politeknik awal tahun ini menunjukkan, 88% dari mereka lebih suka berkomunikasi obrolan tatap muka dengan menggunakan teknologi.

Lebih dari 40% responden menghabiskan waktu lebih dari 4 jam sehari untuk menggunakan telepon genggam mereka.

Di Singapura kepemilikan telepon genggam mencapai 1, 4 per orang, yang kebanyakan bisa digunakan untuk berselancar di dunia maya.

Ho Kok Yuen, direktur klinik penanggulangan rasa sakit di Rumah Sakit Raffles, menyamakan kecanduan perangkat teknologi dengan kecanduan narkoba, yang juga memerlukan pengobatan.

“Jadi itu perilaku tidak normal, di mana perilaku kompulsif akan membahayakan dirinya atau orang-orang yang ada di sekitarnya,” kata Kok Yuen kepada AFP.

Di Jepang, kementerian dalam negeri telah memperingatkan bahwa kecanduan anak-anak muda akan game dan telepon seluler dapat menjadikan mereka apatis dan merusak hubungan sosial dan kesehatan mereka.

Pusat Urusan Konsumen Nasional Jepang mengatakan, laporan kasus konsultasi yang masuk ke lembaga mereka terkait game online mencapai 1.692 di tahun 2010, atau naik dari 1.437 di tahun 2009. Kebanyakan kasus itu melibatkan anak-anak muda.

Di Malaysia, masyarakatnya merengkuh situs jejaring sosial dengan antusias. Menurut sebuah studi oleh lembaga survei global TNS di bulan Nopember 2010, di situs jejaring sosial orang Malaysia merupakan yang paling banyak bersosialisasi, dengan rata-rata per orang memiliki 233 teman di jejaring mereka. Bandingkan dengan orang China yang hanya 68 teman dan Jepang yang cuma 29 teman per orang.

University Malaya Centre of Addiction Sciences mengatakan bahwa mereka menerima sekitar 50 kasus saat memulai studi tentang kecanduan Facebook pada tahun 2009. Tahun lalu jumlah itu naik hingga 70 kasus, yang sebagian besar melibatkan anak-anak muda.

“Kasus semakin sering dijumpai di kalangan anak muda, karena mereka lebih banyak terpapar dengan internet dan situs jejaring sosial,” kata Muhammad Muhsin Ahmad Zahari, wakil koordinator lembaga tersebut.

“Mereka lebih lengket dengan komputer dan mengabaikan cara bersosialisasi lainnya,” ujar Zahari.

Apakah Anda juga termasuk pecandu gadget, situs jejaring sosial, atau internet? *

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BIN Selidiki Kaitan “Al Zaitun” dengan NII
Tulisan selanjutnya AM Fatwa: Dulu Ali Murtopo Aktor di Balik NII

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Saintek

Para Ilmuwan Lakukan Deteksi Autisme pada Rambut

9 Januari 2023 20:30
Saintek

Tantangan Teknologi, Banyak Orang Oversharing dan Umbar Aib di Media Sosial

26 Desember 2022 14:00
Saintek

(Video) Kuasa Allah, Ilmuwan Berhasil Merekam Tumbuhan yang Bernapas

23 Desember 2022 15:10
Saintek

Selandia Baru akan Siapkan Undang-undang agar Facebook dan Google Membayar Berita

5 Desember 2022 11:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?