Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

“Ndasmu” dan Etika Politik dalam Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Desember 2023 12:01 12:01 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Desember 2023 11:25
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Dalam khazanah Islam, politik (siyasah) dimaknai oleh beberapa ulama sebagai pengaturan urusan ummat, dalam politik Islam tak mengenal ‘etika ndasmu’

Oleh: Ali Mustofa Akbar

Hidayatullah.com |”NDASMU etik” demikian salah satu pernyataan politik yang tengah naik daun di beberapa hari terakhir karena dipicu oleh pernyataan salah satu Capres peserta Pemilu 2024.

Beberapa hari ini masyarakat tengah ramai membahas pernyataan Calon Presiden (Capres) nomor urut 2 Prabowo Subianto. Di acara internal Partai Gerindra, menteri pertahanan itu mengucapkan “ndasmu etik” menyindir Capres Anies R Baswedan dengan cara tidak etis.

‘Ndasmu etik’ diduga menyangkut pertanyaan Anies dalam debat pertama soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinyatakan Majelis Kehormatan MK (MKMK) melanggar etik. Putusan MK tersebut terkait batas usia cawapres yang dianggap menguntungkan pasangan Prabowo yaitu Gibran Rakabuming Raka.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

“Bagaimana perasaan Mas Prabowo? Soal etik, etik, etik. Ndasmu etik,” kata Prabowo dalam video yang viral tersebut dikutip pada Ahad (17/12/2023).

***

Pernyataan politik tersebut berasal dari bahasa Jawa jika diterjemahkan secara terpisah; ndas (kepala) mu (kamu) etik (etika). Walhasil tanggapan pun  muncul dari berbagai belah pihak, sebagian publik menilai pernyataan tersebut dianggap negatif disampaikan oleh seorang Capres.

Sementara dari kubur Capres terkait memberikan pembelaan, sebagai bentuk sebuah candaan belaka. 

Syahdan, terlepas dari pembahasan khusus tentang ucapan kontroversial “ndasmu” ini, sebagai muslim, perihal  etika merupakan sesuatu yang penting. Pun dalam  kehidupan berpolitik.

Karena bagi sebagai mukallaf kita terikat dengan aturan-aturan-Nya. Sebagai konsekuensi kebaikan atau keburukan manusia di dunia dan akhirat.

Islam tidak sama dengan pandangan hidup sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan publik. Karena Islam sudah sempurna mengatur segala aspek kehidupan termasuk dalam bidang politik.

Kata Andrew Heywood politics is power (politik adalah kekuasaan) atau all politics is about power (segala hal yang terjadi dalam politik adalah tentang kekuasan). Begitu pula Harold Lasswell’s, dalam bukunya “Politics: Who Gets What, When, How”, siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana caranya (mendapat kekuasaan).

Dengan kata lain, politik adalah siapa yang mendapatkan kekuasaan, kapan kekuasan itu didapat, dan bagaimana caranya untuk memperoleh kekuasaan.

Demikian halnya dengan semakin dekatnya ajang pemilu 2024, konstelasi politik negri ini semakin hangat. Ketiga pasangan calon (paslonI berlomba menuju tampuk kekuasan tertinggi.

Pertanyaannya, bisakah dalam politik sekulerisme bisa menampilkan etika berpolitik yang baik dalam kacamata syariah Islam. Karena bukan menjadi rahasia lagi, praktik-praktik nir-etika sering dijumpai.

Seperti halnya money politik, kecurangan, korupsi, hingga mencampakkan hukum-hukum Allah Swt. Sikap pragmatisme (menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan) menjadi hal yang lumrah untuk menjadi “Pusat”. Maka agar kita bisa lebih beretika dalam berpolitik alangkah baiknya kita cermati beberapa hal dibawah ini.

Etika dalam Islam

Secara bahasa, etika merupakan sinonim dari kata adab ataupun akhlak. Sebagian ulama menjelaskan makna adab adalah:

الأدب اجتماع خصال الخير في العبد

“Adab adalah kumpulan kebiasaan baik seorang hamba”.

Adapun adab dibagi menjadi tiga bagian utama:

الأدب أنواع ثلاثة أعظمها : الأدب مع الله تعالى ، ثم الأدب مع رسوله صلى الله عليه وسلم وشرعه ، ثم مع الخلق .

Pertama, adab kepada Allah Swt. Kedua, adab kepada Rasulullah ﷺ dan syariat yang dibawanya. Ketiga, Adab kepada sesama makhluk.

Dari ketiga bagian tersebut yang menjadi pangkal atau kepala adalah adab kepada Allah Swt. Syaikh Abdurrahman Bin Shahim berkata dalam Madzahir Al-Adabi Ma’a Allah:

الأدب مع الله تعالى يقتضي توحيدَ الله وتعظيمه، وطاعة أوامره ونواهيه، والحياء منه، وهذا يشمل القلب واللسان والجوارح

الأدبُ مع اللهِ أنْ لا ترضى بِحُكْمٍ غيرِ حُكمِه تبارك وتعالى. الأدبُ مع اللهِ أن لا تُقَدِّمَ طاعةَ أحدٍ على طاعةِ اللهِ عَزّ وَجَلّ. الأدبُ مع اللهِ أن تأتَمِرَ بأمْرِ الله سبحانه، وتَنْتَهيَ بِنَهْيِ الله عَزّ وَجَلّ

“Adab kepada Allah ialah mentauhidkan Allah, mengagungkan-Nya, mentaatinya  dalam perintah dan larangannya, malu kepada-Nya, hal itu mencakup qolbu, lisan dan  anggota badan. Beradab kepada Allah itu tidak ridho apabila diatur dengan hukum selain hukum Allah Tabaraka Wata’ala. Tidak mendahulukan ketaatan kepada seseorang diatas ketaatan kepada Allah ‘Azza Wajalla. Memerintah dengan perintah Allah dan melarang dengan larangan Allah.”

Lebih rinci dalam Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakr Jazairi rahimahullah menjelaskan bahwa  terdapat hal penting adab terhadap Allah Swt di antaranya tunduk, patuh, tawakkal, takut, syukur pada Allah, ridho ketetapan Allah, ittiba’ kepada Nabiyullah ﷺ.

Jika diaplikasikan dalam dunia politik sudahkan kita tunduk, patuh, takut, kepada Allah ketimbang kepada oligarki misalnya. Apakah hati ini minimal tidak ridho diatur dengan hukum selain hukum Allah.

Apakah sudah ittiba’ kepada Nabi ﷺ dalam berpolitik, atau justru ittiba’ kepada Plato, Socrates, Machiaviali, misalnya.

Dalam khazanah Islam, politik (siyasah) dimaknai oleh beberapa ulama sebagai pengaturan urusan ummat. Dalam Mu’jam Lughatil Fuqaha’ disebutkan bahwa kata  siyasah bermakna: mengatur urusan ummat dalam negri maupun luar negeri dengan syariat Islam.

Maka politik tak boleh dipisahkan dari Islam. Karena kalau politik tanpa memakai aturan Islam niscaya menjadi politik kotor dan tidak memberikan kemaslahatan ummat.

Dalam politik Islam, kekuasaan juga bukanlah tujuan tapi sebagai wasilah untuk bisa lebih taat kepada Allah dengan merapkan syariah-Nya, menyebarkan dakwah Islam,  memberikan kemanfaatan kepada ummat, dan seterusnya.

Karena itu menghadapi ajang politik lima tahunan, baik itu kita sebagai politisi maupun simpatisan, alangkah baiknya kita perhatikan etika berpolitik dalam Islam untuk kebaikan kita maupun negeri ini. Wallahu A’lam.*

Pemerhari Politik

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:capresetika ndasmuetika politikHeadlineNdasmupolitik islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mantan Perwira Angkatan Darat Prancis: Kehancuran ‘Israel’ Sudah Amat Dekat
Tulisan selanjutnya Dubes RI untuk Vatikan: Gereja Katolik Tetap Tak Akui Perkawinan LGBT

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Berita
29 Agustus 2026 14:04
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?